Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #6

Jika Bukan Dia, Lalu Siapa?

Sudut Pandang: Katrina

Begitu percakapan dengan Ayah dan Ibu selesai, aku langsung pergi ke kamar.

Bukan karena marah.

Bukan juga karena sedih.

Aku hanya… capek.

Capek dengan interaksi sosial hari ini.

Serius.

Bertemu orang baru saja sudah cukup melelahkan, apalagi harus duduk lama di kereta kencana bersama seorang pangeran yang sikapnya dingin seperti kulkas yang baru keluar dari gudang es.

Begitu pintu kamarku tertutup, aku bahkan tidak repot-repot mengganti pakaian.

Aku langsung menjatuhkan diri ke ranjang.

“Ahh…”

Aku menatap langit-langit kamar.

Kamar ini selalu terasa seperti tempat paling aman di dunia.

Dindingnya berwarna krem lembut, ada rak buku tinggi di sudut ruangan, dan jendela besar yang menghadap taman istana.

Di sudut dekat jendela itu ada kursi baca favoritku.

Tempat di mana aku sering duduk berjam-jam sambil membaca buku dari perpustakaan.

Kadang sampai lupa waktu.

Kadang sampai pelayan harus mengetuk pintu untuk mengingatkanku makan malam.

Aku menghela napas panjang.

Interaksi sosial benar-benar menguras energi.

Aku memang tidak terlalu suka keramaian.

Sejak kecil aku lebih suka membaca buku di perpustakaan daripada menghadiri pesta kerajaan.

Pesta bangsawan itu… melelahkan.

Terlalu banyak orang.

Terlalu banyak suara.

Terlalu banyak senyum palsu.

Dan terlalu banyak orang yang mencoba terlihat penting.

Aku menutup mata sebentar.

Kalau aku benar-benar menikah dengan Pangeran Haris…

aku pasti harus menghadiri banyak acara seperti itu.

Banyak pesta kerajaan.

Banyak tamu penting.

Banyak orang di satu ruangan yang berbicara bersamaan.

Aku bergidik.

“Tidak…”

gumamku pelan.

Aku bahkan tidak suka berada di ruangan yang terlalu ramai.

Apalagi hidup di dalamnya setiap hari.

Aku membuka mata lagi.

Dan tanpa sadar mengingat wajah Haris.

Rambut hitamnya rapi.

Kulitnya cerah.

Mata gelapnya tajam.

Dan meskipun dia sedang sakit kepala kemarin…

dia tetap terlihat…

aku berhenti berpikir.

Lalu menepuk jidatku sendiri.

“Katrina!”

Kenapa aku memikirkan wajahnya?

Aku bahkan tidak suka dia.

Benar-benar tidak suka.

Sikapnya dingin.

Percakapannya kaku.

Jawabannya selalu pendek.

Seperti berbicara dengan lemari es yang bisa bicara.

Aku menghela napas.

“Kalau aku menikah dengannya…”

aku menatap langit-langit lagi.

“…aku mungkin akan berbicara dengan tembok setiap hari.”

Bayangan itu saja sudah cukup membuatku ingin kabur ke perpustakaan.

Aku memiringkan badan.

Tapi beberapa detik kemudian pikiranku berubah.

Aku teringat sesuatu yang lain.

Ayah dan Ibu.

Mereka yang membesarkanku di istana ini.

Mereka yang selalu mendukungku membaca buku, bahkan ketika guru istana berkata aku terlalu banyak membaca.

Mereka yang tidak pernah memaksaku menjadi putri yang sempurna seperti di cerita dongeng.

Mereka hanya ingin aku menjadi diriku sendiri.

Aku menatap jendela kamar.

Matahari sore mulai turun.

Dan aku tiba-tiba merasa sedikit bersalah.

Mungkin… keputusan mereka tidak sepenuhnya buruk.

Ayah pasti tahu apa yang terbaik untuk kerajaan.

Dan Ibu pasti ingin aku bahagia.

Lihat selengkapnya