Sudut Pandang: Katrina
“Ayah bilang… orang yang bersamaku di kereta tadi bukan manusia?”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya.
Begitu saja.
Tanpa persiapan.
Tanpa logika.
Dan begitu kata bukan manusia menggantung di udara, kamar terasa tiba-tiba terlalu sunyi.
Ayah berdiri di dekat jendela. Punggungnya menghadap taman istana yang luas dan terang oleh matahari siang.
Ibu duduk di sampingku di tepi ranjang, tangannya masih menggenggam tanganku sejak aku mulai bercerita.
Ayah tidak langsung menjawab.
Ia menoleh perlahan.
Tatapannya serius.
“Tepatnya,” katanya tenang, “orang yang bersamamu itu bukan Pangeran Haris.”
Aku mengerutkan kening.
“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
Ayah berjalan mendekat.
Langkahnya pelan.
Terukur.
Lalu ia duduk di kursi tepat di depan ranjangku.
“Katrina,” katanya pelan, “Pangeran Haris masih berada di Athena sepanjang hari ini.”
Aku menatapnya datar.
“Tapi aku berbicara dengannya.”
“Kami tahu.”
“Aku duduk di keretanya.”
“Kami tahu.”
“Dia menjawab semua pertanyaanku.”
“Kami juga tahu.”
Aku menarik napas panjang, lalu menjatuhkannya dengan kesal.
“Dia bahkan minum obat sakit kepala di depanku.”
Ayah mengangguk kecil.
“Tepat.”
Aku menatap Ayah beberapa detik.
Semakin lama.
Semakin tajam.
“Kalau begitu… bagaimana mungkin dia tidak berada di sana?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatapku.
Lalu… ia melirik Ibu.
Ibu menghela napas pelan.
“Karena Pangeran Haris yang asli tidak pernah datang ke Berlin hari ini.”
Aku langsung menegakkan badan.
“Bahkan surat yang kemarin kita terima?”
Ibu menggeleng.
“Bukan dari beliau.”
Hening.
Benar-benar hening.
Aku menatap Ibu.
Lalu Ayah.
Lalu langit-langit kamar.
“Oke,” gumamku pelan. “Ini mulai terdengar seperti cerita misteri yang terlalu dipaksakan.”
Ayah tersenyum tipis.
“Kau memang terlalu banyak membaca buku misteri.”
“Buku misteri tidak pernah membuatku kencan dengan penyamar.”
Ibu hampir tertawa.
Tapi aku tidak bisa.
Karena semakin kupikirkan…
semuanya terasa salah.
Aku benar-benar mengingat wajahnya.
Suaranya.
Cara dia menjawab pertanyaanku dengan singkat.
Pendek.
Datar.
Seperti seseorang yang sedang menghafal dialog.
Dan tiba-tiba satu hal terlintas di kepalaku.
Aku menatap Ayah lagi.
“Dia tidak pernah berkeringat.”
Ayah mengangkat alis sedikit.
“Apa?”
“Di kereta tadi. Cuacanya panas.”
Aku mengusap pelipis, mencoba mengingat lebih jelas.