Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #8

Wajah yang Tidak Seharusnya Ada

Sudut Pandang: Haris

“Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.”

Suara Raja Ridwan terdengar berat ketika kalimat itu keluar dari mulutnya.

Aku duduk di sofa ruang tamu utama Istana Berlin, berhadapan langsung dengan beliau. Cahaya sore masuk dari jendela-jendela tinggi di ruangan ini, menyinari lantai marmer yang begitu bersih sampai bayanganku sendiri terlihat samar di permukaannya.

Sementara itu Raja Ridwan memijat pelipisnya.

“Aku masih tidak percaya,” lanjut beliau. “Putriku pergi berkencan dengan seseorang yang bahkan bukan manusia.”

Aku menghela napas pelan.

Sejujurnya… aku juga tidak percaya.

“Yang Mulia,” kataku hati-hati, “saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini.”

Beliau langsung mengangkat tangan.

“Ini bukan salahmu.”

Aku menatap beliau.

“Tapi orang itu menggunakan wajah saya.”

“Justru itu,” jawab Raja Ridwan. “Karena itulah ini berbahaya.”

Ruangan menjadi hening beberapa detik.

Aku menatap meja di antara kami.

Di atasnya ada dua cangkir teh yang sudah hampir dingin.

Rasanya aneh membicarakan hal seperti ini sambil duduk santai di ruang tamu kerajaan.

Seolah kami sedang membicarakan cuaca.

Padahal sebenarnya kami sedang membicarakan sesuatu yang… jauh lebih mengganggu.

Aku teringat Putri Katrina.

Menurut cerita Raja Ridwan, dia menghabiskan waktu berjam-jam berbicara dengan sosok yang menyamar sebagai diriku.

Aku menggeleng kecil.

“Putri Katrina pasti sangat bingung.”

Raja Ridwan mendengus pelan.

“Dia lebih kesal daripada bingung.”

Aku hampir tersenyum.

Entah kenapa aku bisa membayangkan ekspresi wajahnya.

Putri yang keras kepala itu memang tidak terlihat seperti tipe orang yang suka dipermainkan.

“Dia bahkan bilang percakapan kalian sangat canggung.”

Aku terdiam sebentar.

“Yah…”

aku mengangkat bahu kecil.

“Itu tidak terdengar terlalu berbeda dari percakapan saya biasanya.”

Raja Ridwan tertawa pendek.

“Aku sudah mendengar reputasimu.”

Aku tidak membantah.

Memang benar.

Aku bukan orang yang pandai berbasa-basi.

Aku lebih nyaman berbicara tentang rencana ekonomi kerajaan atau proyek pembangunan daripada membicarakan cuaca.

Sayangnya…

topik seperti itu biasanya tidak terlalu menarik dalam kencan.

Aku mengambil cangkir tehku.

Tapi sebelum sempat menyesapnya...

denyut tajam tiba-tiba menusuk pelipisku.

Aku menahan napas.

Migrain.

Lagi.

Tapi kali ini terasa berbeda.

Biasanya rasa sakit ini seperti tekanan yang perlahan naik.

Sekarang rasanya seperti seseorang mengetuk bagian dalam tengkorakku dengan palu kecil.

Aku menekan pelipisku.

“Yang Mulia, saya mohon maaf…”

Raja Ridwan langsung menatapku.

“Kepalamu?”

Aku mengangguk.

“Sedikit kambuh.”

Beliau menunjuk meja.

“Minumlah dulu.”

Aku mengangguk dan mengangkat cangkir teh.

Uapnya sudah hampir hilang.

Aku menyesap sedikit.

Hangatnya membantu… sedikit.

Tapi rasa sakit itu masih ada.

Dan saat aku mengangkat pandangan...

aku melihatnya.

Seseorang duduk di sofa sebelah Raja Ridwan.

Seseorang yang…

terlihat persis seperti aku.

Aku membeku.

Wajah itu sama.

Rambutnya.

Matanya.

Bahkan pakaian yang dia kenakan juga sama dengan milikku.

Seolah aku sedang menatap bayangan diriku sendiri.

Hanya saja… bayangan itu duduk di samping Raja Ridwan.

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Apa…

yang kulihat ini?

Aku menelan ludah.

Jangan panik.

Jangan bereaksi.

Raja Ridwan bisa membaca ekspresi wajah orang dengan cukup baik.

Kalau aku terlihat terlalu kaget, beliau pasti akan curiga.

Dan benar saja.

Beliau memiringkan kepala.

“Pangeran Haris?”

Aku langsung memaksa wajahku tetap tenang.

“Ya, Yang Mulia?”

Beliau mengerutkan kening.

“Kau terlihat seperti baru melihat sesuatu yang aneh.”

Aku hampir menjawab.

Tapi sebelum sempat...

Raja Ridwan menoleh ke samping kirinya.

Ke arah tempat sosok itu duduk.

Tentunya…

Lihat selengkapnya