“Dia aneh.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Katrina.
Suaranya cukup keras sampai gema kecil memantul di dinding kamar.
Raja Ridwan yang berdiri di dekat meja kecil langsung menghela napas panjang.
“Katrina…”
“Tapi memang begitu!” potong Katrina cepat.
Putri itu berdiri di tengah kamar dengan tangan terlipat di depan dada. Rambut coklat panjangnya terurai rapi di punggungnya, sedikit berayun setiap kali ia bergerak.
Matanya yang berwarna coklat hangat... warna yang sering membuat orang teringat pada kopi susu... menatap ayahnya dengan ekspresi kesal.
“Ayah lihat sendiri tadi siang!”
Ridwan menatap putrinya dengan sabar.
“Ia berbicara sendiri.”
Katrina melangkah mendekat.
“Bukan cuma berbicara sendiri,” lanjutnya. “Dia bahkan terlihat marah-marah kepada… udara.”
Ridwan kembali menghela napas.
“Dia tidak marah kepada udara.”
Katrina mengangkat kedua tangannya.
“Oh ya? Kalau begitu dia marah kepada siapa?”
Ridwan tidak langsung menjawab.
Putrinya yang keras kepala itu menatapnya tajam, menunggu.
“Ayah serius,” kata Katrina. “Aku bahkan belum bertunangan dengannya, tapi aku sudah melihat dia berbicara sendiri seperti orang yang sedang bertengkar dengan setan.”
Ridwan menahan diri untuk tidak tersenyum.
Cara Katrina menggambarkan situasi itu terlalu dramatis.
Namun ia juga mengerti mengapa putrinya bereaksi seperti ini.
Dari sudut pandang Katrina, kejadian siang tadi memang terlihat… aneh.
Sangat aneh.
Ridwan akhirnya duduk di kursi dekat jendela kamar Katrina.
“Duduklah,” katanya pelan.
Katrina menatapnya beberapa detik.
Lalu akhirnya duduk di tepi ranjang, masih dengan ekspresi kesal.
“Baik,” kata Ridwan.
“Ayah akan menjelaskan.”
Katrina memiringkan kepala sedikit.
“Menjelaskan apa?”
Ridwan menatap putrinya dengan serius.
“Pangeran Haris tidak berbicara dengan udara.”
Katrina mengangkat alis.
“Lalu?”
Ridwan menjawab tenang.
“Dia melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat.”
Katrina terdiam.
Beberapa detik berlalu.
“...Apa?”
Ridwan tetap tenang.
“Dia melihat sesuatu.”
Katrina mencoba mencerna kalimat itu.
“Tunggu,” katanya pelan. “Ayah bilang… dia melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat?”
Ridwan mengangguk.
Katrina menyipitkan mata.
“Ayah serius?”
Ridwan mengangguk lagi.
Putri itu menghela napas panjang.
“Baik,” katanya pelan. “Aku akan mencoba memahami ini.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu berkata dengan nada ragu,
“Jadi… menurut Ayah…”
“…Pangeran Haris sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak terlihat?”
Ridwan tidak langsung menjawab.
Ia mengingat kembali ekspresi wajah Haris tadi siang.
Cara pangeran itu berdiri tiba-tiba.
Cara matanya menatap sudut ruangan dengan marah.
Itu bukan akting.
Ridwan sudah melihat cukup banyak manusia dalam hidupnya untuk tahu kapan seseorang sedang berpura-pura.
Dan Haris tidak berpura-pura.
“Ayah yakin dia melihat sesuatu.”
Katrina menatap ayahnya lama.
Lalu berkata pelan,
“Kalau begitu itu lebih aneh lagi.”
Ridwan hampir tertawa.
Putrinya memang tidak pernah takut mengatakan apa yang ia pikirkan.
Katrina menyilangkan tangan lagi.
“Bayangkan saja,” katanya. “Aku mungkin harus menikah dengan pria yang dingin seperti tembok…”
Ridwan mengangkat alis.
“…yang jarang tersenyum…”
Ridwan mengangguk kecil.
“…dan sekarang juga berbicara dengan sesuatu yang tidak terlihat.”
Ridwan akhirnya tertawa kecil.
“Kau terdengar seperti sedang mengulas tokoh di buku.”
Katrina mendengus.
“Karena aku memang lebih sering bertemu tokoh buku daripada bangsawan aneh.”
Ridwan menggeleng pelan.
Beberapa detik kemudian pintu kamar diketuk.