“Ayah yakin kabar itu benar?”
Suara Katrina memecah kesunyian kamar.
Gadis berambut cokelat panjang itu berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan menyilang di dada. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegang.
Raja Ridwan menghela napas panjang.
“Ayah juga berharap kabar itu salah,” katanya pelan.
“Tapi penjaga perbatasan Athena sendiri yang mengirimkan pesan itu.”
“Kecelakaan kereta…”
Katrina bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Bagaimana mungkin kereta kerajaan bisa kecelakaan?”
Ridwan tidak langsung menjawab.
Justru itu yang membuat dada Katrina terasa semakin tidak nyaman.
Ia tidak tahu kenapa berita itu membuat pikirannya terasa ramai.
Pangeran Haris bukan orang yang dekat dengannya.
Bahkan percakapan mereka sering terasa kaku.
Pria itu terlalu dingin.
Terlalu serius.
Dan kadang terlalu… aneh.
Namun tetap saja…
mendengar bahwa seseorang yang ia kenal mungkin terluka membuat hatinya terasa tidak enak.
“Katrina,” ujar ibunya, Ratu Melinda, dengan suara lembut dari sisi ranjang.
“Sudah malam. Kau harus beristirahat.”
Katrina mengangguk kecil, meskipun pikirannya jelas belum tenang.
“Baik, Ibu.”
Ridwan berdiri, lalu menepuk bahu putrinya dengan hangat sebelum keluar dari kamar bersama Melinda.
Pintu tertutup pelan.
Dan kamar kembali sunyi.
Beberapa jam kemudian.
Katrina masih terjaga.
Ia berbaring di tempat tidurnya dengan mata terbuka menatap langit-langit kamar. Tirai putih di jendela bergerak perlahan tertiup angin malam.
Kastil Berlin terasa sangat sepi di tengah malam seperti ini.
Katrina membalikkan tubuhnya ke kanan.
Lalu ke kiri.
Tetap saja.
Pikirannya tidak mau berhenti bekerja.
Bayangan tentang Haris terus muncul di kepalanya.
Tentang pria itu yang duduk di ruang tamu tadi siang.
Tentang wajahnya yang terlihat kesal.
Tentang bagaimana dia seperti berbicara pada sesuatu yang tidak terlihat.
Katrina mendesah pelan.
“Kenapa aku malah memikirkan pria aneh itu…”
Ia bangkit duduk.
Mungkin membaca buku akan membantu menenangkan pikirannya.
Itu selalu berhasil sejak kecil.
Tanpa berpikir lama, Katrina mengenakan mantel tipis lalu keluar dari kamarnya.
Koridor istana tampak kosong.
Lampu minyak di dinding memberikan cahaya kuning lembut yang membuat bayangan pilar-pilar batu tampak panjang di lantai marmer.
Langkah Katrina bergema pelan saat ia berjalan menuju satu tempat yang selalu membuatnya merasa tenang.
Perpustakaan istana.
Perpustakaan kerajaan Berlin adalah ruangan terbesar kedua di istana setelah aula utama.
Pintu kayu tinggi itu terbuka dengan suara pelan saat Katrina mendorongnya.
Aroma kertas tua dan kayu langsung menyambutnya.
Rak buku menjulang tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit.
Ratusan... mungkin ribuan... buku tersusun rapi di sana.
Tempat ini selalu menjadi pelarian Katrina sejak kecil.
Ia berjalan perlahan di antara rak-rak buku, menyentuh punggung beberapa buku dengan ujung jarinya.
Sebagian besar buku itu berisi sejarah kerajaan, filsafat, perdagangan, dan ilmu pengetahuan.
Namun malam ini entah kenapa langkahnya membawanya ke bagian perpustakaan yang jarang ia datangi.
Rak paling belakang.
Di sana buku-buku tampak jauh lebih tua.
Beberapa bahkan terlihat rapuh.
Katrina menarik salah satu buku dengan hati-hati.
Debu tipis beterbangan saat buku itu keluar dari raknya.
Judulnya tertulis dengan tinta yang sudah mulai memudar.
“Catatan Makhluk Bayangan.”
Katrina mengernyit.