Sudut Pandang: Pangeran Haris
Mataku terasa berat. Rasanya seperti ditutup oleh lapisan kabut tebal... atau mungkin seperti habis begadang semalaman baca buku, tapi kali ini aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir kali aku membaca buku.
Aku mencoba membuka kelopak mata perlahan. Kepala ini seperti berputar dalam lingkaran tak berujung. Seperti naik komidi putar terlalu lama, lalu turun dan langsung disuruh jalan lurus. Sakit yang menusuk di pelipis sebelah kiri membuatku mendesah pelan.
Pelipis kiri. Kenapa selalu pelipis kiri?
“Pa… Pangeran?”
Suara itu lembut, tapi tegas. Aku menoleh perlahan ke sisi ranjang. Di sana berdiri seorang pria berjas putih, sekitar tiga puluhan, dengan stetoskop tergantung di lehernya. Stetoskop itu mengilap. Mungkin baru dibeli. Atau mungkin koleganya memang rajin membersihkan.
Dokter.
Aku mengedip beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangan. Di sisi lain ranjang, ada kedua orang tuaku... Raja Athena dan Ratu Athena. Mereka menatapku dengan wajah lega yang hampir membuat hatiku sedikit hangat. Hampir. Karena sakit kepala ini masih terlalu dominan.
“Selamat, Haris.” Suara ayahku serak tapi terdengar jelas. “Kau… sudah sadar.”
Aku menghela napas panjang. Panjang sekali. Cukup panjang untuk membuat balon karet jadi besar.
“Apa… apa yang terjadi dengan kereta?” tanyaku pelan.
Ibu dan ayahku saling menatap. Ada ketegangan yang samar di mata mereka. Aku bisa merasakannya... meski mereka mencoba menyembunyikannya, tapi seorang putra mahkota bisa merasakan sedikit saja ketidaknyamanan orang tuanya. Atau mungkin itu cuma efek samping dari benturan di kepala.
“Ayah akan menjelaskan,” kata ayahku akhirnya. Beliau mencondongkan tubuh ke arahku. Lebih dekat. Cukup dekat untuk aku melihat ada satu uban di jenggotnya yang kemarin belum ada.
Bertambah satu. Catat.
“Kereta kencana yang kau tumpangi… mengalami kecelakaan.” Suaranya tenang tapi berat. Seperti orang yang sedang mengumumkan bahwa persediaan kue kesukaan di dapur habis. “Tapi ini bukan kecelakaan biasa.”
Aku mengerutkan dahi. Bukan kecelakaan biasa? Bukannya kecelakaan ya ya saja? Ada yang biasa dan tidak biasa?
“Kalian serius?”
“Ya.” Ayah menatapku. “Kereta kencana ditabrak… sesuatu yang tidak terlihat.”
Aku menatapnya dengan kaget. “Tidak terlihat?”
Ratu Athena menambahkan, “Para pengawal yang berada di belakang kereta tidak melihat batu besar, pohon tumbang, atau kendaraan lain. Tidak ada apa pun yang tampak menghalangi jalan.”
Suaraku hampir tidak terdengar ketika aku berkata, “Lalu… bagaimana bisa kereta itu rusak parah?”
Ayahku menunduk sebentar. Beliau menatap tanganku yang masih menggenggam selimut. Selimut ini sebenarnya agak gatal, tapi aku tidak punya tenaga untuk protes.
“Roda depan dan sisi samping kereta rusak parah.” Ayah menghela napas. “Tapi secara logis, seharusnya kereta bisa melewati jalan itu dengan aman. Ini… misteri.”
Detak jantungku meningkat. Aku bisa merasakan kepanikan yang samar, tapi aku mencoba menahannya. Tenang, Haris. Jangan panik. Pangeran tidak panik. Pangeran hanya... waspada.
“Maksud kalian… aku tidak membayangkan ini?” tanyaku pelan. “Tidak ada batu, tidak ada pohon… tapi kereta rusak parah begitu saja?”
Ibu mengangguk. “Ya, Haris. Kami juga kaget.”
Aku menghela napas panjang lagi. Stok napas panjang hari ini sepertinya akan habis lebih cepat. Otak ini rasanya seperti dimasuki oleh ribuan pikiran sekaligus. Aku merasa… aneh. Sakit kepala yang sebelumnya terasa seperti benturan biasa kini seperti migrain yang memaksa aku menutup mata sebentar.
Aku mencoba bangun. Tubuhku terasa lemah. Seperti baru selesai latihan perang semalaman, padahal yang kulakukan cuma tidur panjang.
Dokter memegang tanganku. “Tenang, Yang Mulia. Jangan terburu-buru.”
Aku menatapnya dan hanya bisa mengangguk. Iya, iya. Tenang. Gampang ngomong.
Beberapa detik berlalu. Otakku berputar memikirkan semua yang terjadi. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak terlihat bisa menabrak kereta? Dan mengapa aku merasakan sesuatu... atau seseorang... mengikuti dari kejauhan, seolah memperhatikanku bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi?
Aku menggenggam selimut. Selimut gatal ini. Mencoba menguatkan diri.
“Ayah… Ibu.” Suaraku serak. “Apa kalian… melihat apa-apa?”
Ayahku menatapku. “Tidak. Hanya pengamatan kita dari pengawal, laporan mereka… dan kerusakan kereta.”