Sudut Pandang: Pangeran Haris
"Haris." Suara Ibu pelan. "Aku menemukan sesuatu di perpustakaan tadi pagi."
Aku mengerjap. Beberapa kali. Masih mencoba fokus, tapi kepala ini rasanya seperti diisi kapas basah.
Ibu sudah duduk di samping ranjang. Wajahnya campur aduk... antara lega aku sadar, dan serius yang membuat aku langsung curiga. Beliau memegang buku tebal. Seperti kamus, tetapi lebih tua. Sampulnya lusuh, halamannya kekuningan. Kayak buku yang pernah direndam teh lalu dijemur seratus tahun.
"Ini tentang... makhluk yang disebut Peniru Bayangan."
Peniru Bayangan.
Kata-kata itu menempel di otakku yang masih limbung. Kedengarannya seperti judul dongeng sebelum tidur. Yang biasanya dibacain pengasuh waktu kecil, sebelum aku tidur dengan selimut sampai ke dagu.
Namun ekspresi Ibu... bukan ekspresi orang yang mau membacakan dongeng.
Aku duduk setengah badan. Badan rasanya berat. "Peniru... apa?"
"Bayangan." Ibu menunjuk ke buku itu. "Aku menemukannya saat membaca koleksi lama. Tidak sengaja." Ia berhenti sebentar, mencari kata. "Dan setelah membaca beberapa halaman... makhluk ini muncul jika suatu kerajaan... atau beberapa kerajaan tertentu... memiliki hubungan keluarga yang... kurang baik."
Aku diam. Menatap buku itu. Otakku mencoba menghubungkan titik-titik yang masih kabur. Seperti menyusun puzzle di ruangan gelap.
"Kurang baik bagaimana maksud Ibu?" Aku bertanya ragu. "Kita... ada masalah apa begitu?"
Ibu tersenyum tipis. Tapi matanya tidak ikut senyum. "Tidak, Haris. Keluarga kita baik-baik saja. Kalian, aku, ayahmu... semuanya harmonis. Masalahnya... mungkin ada di kerajaan lain."
Kerajaan lain.
Aku menelan ludah. Tiba-tiba tenggorokan terasa kering. Padahal baru saja minum air putih.
Dari dekat pintu, Ayah bersuara. Suaranya dalam, seperti baru bangun tidur padahal jelas-jelas beliau sudah melek dari tadi. "Aku pernah mendengar informasi samar... tentang hubungan di kerajaan Berlin."
Aku mendengar informasi samar.
Itu kode Ayah. Artinya: aku punya mata-mata, tapi mulut ini terkunci rapat.
"Tentang Putri Katrina," lanjut Ayah. "Dan kedua kakak laki-lakinya. Katanya... hubungan mereka kurang harmonis."
Jantungku berdetak lebih cepat. "Kurang harmonis bagaimana?"
Ayah menghela napas. "Aku tidak tahu detailnya. Yang jelas... Putri Katrina pernah melihat kedua kakaknya sedang berdiskusi di balkon istana Berlin. Namun apa yang mereka bicarakan..." Ayah mengangkat bahu sedikit. "Tidak ada yang tahu."
Aku duduk lebih tegap. Lupa kalau kepala masih pusing. Balkon istana Berlin. Kedengarannya romantis, tapi isinya tegang.
"Balkon istana Berlin." Aku berbicara setengah bergumam. "Jadi mereka berdiskusi serius... mungkin rahasia?"
Ibu mengangguk. "Buku ini mengatakan, makhluk itu muncul ketika ada ketegangan atau masalah tersembunyi di keluarga. Dan kadang ketegangan itu tidak harus melibatkan semua orang. Bisa hanya beberapa individu."
Aku menutup mata. Mencoba menahan pusing sambil otak tetap berjalan.
Peniru Bayangan.
Hubungan keluarga kurang baik.
Balkon istana Berlin.
Katrina.
Katrina.
"Jadi..." Aku membuka mata. "Makhluk itu muncul karena... masalah keluarga Katrina?"