Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #13

Menyibak Ketegangan

"Aku ingin menyelidiki hubungan Putri Katrina dengan kedua kakaknya."


Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Haris.


Dan langsung membuat aula utama Istana Berlin membeku.


Raja Ridwan yang sedang menuang teh... gerakannya berhenti di tengah jalan. Tehnya masih mengalir, sebentar lagi melebihi batas cangkir. Beliau tidak menyadarinya.


Ratu Melinda menatap Haris tanpa berkedip. Matanya tajam, seperti sedang memindai apakah Haris baru saja mengucapkan kalimat itu atau ini hanya halusinasinya saja.


Haris baru sadar sekarang.


Mungkin kalimat pembukanya... kurang halus.


Ya sudah terlanjur, pikirnya. Tinggal berharap lantai istana ini mau membelah dan menelanku hidup-hidup.


Ia berdiri tegap di tengah ruangan. Lantai marmernya dingin... saking dinginnya, Haris bisa merasakannya meskipun sudah pakai sepatu. Tapi ia berusaha keras terlihat seperti diplomat muda Athena yang penuh perhitungan. Bukan seperti anak lima belas tahun yang baru sadar celananya kepanjangan setengah senti dan sekarang terjebak dalam percakapan paling canggung sepanjang sejarah kunjungan kenegaraan.


Raja Ridwan akhirnya menyadari tehnya. Cangkirnya sudah hampir penuh. Beliau meletakkan teko dengan gerakan lambat, seperti orang yang sedang memproses informasi sambil lalu.


"Haris." Suaranya pelan. "Maksudmu... hubungan Katrina dengan kedua kakaknya?"


Haris mengangguk.


Raja bertanya lagi, "Dengan Pangeran Arkan Gautama dan Pangeran Tristan Adiwangsa?"


Haris berkedip.


Sekali.


Dua kali.


Dua nama panjang-panjang. Diucapkan berurutan. Apa ini semacam ujian?


"...Maaf, Yang Mulia." Haris mencoba terdengar sopan. "Dengan siapa?"


Ratu Melinda mengangkat sebelah alis. "Arkan Gautama dan Tristan Adiwangsa."


Haris memiringkan kepala.


Otaknya bekerja keras. Menggali ingatan. Apakah ia pernah mendengar dua nama itu sebelumnya? Mungkin di laporan diplomatik? Atau di dokumen kenegaraan yang Ayah pernah bacakan?


Tidak.


Kosong.


Sama sekali tidak ada.


"Apakah mereka..." Haris mencoba menebak. "Pejabat kerajaan?"


Raja Ridwan hampir tersedak teh.


Ratu Melinda menutup mulutnya dengan tangan—gerakan yang sangat anggun, tapi jelas tujuannya untuk menahan tawa.


"Tidak, Haris." Suara Ratu terdengar sedikit bergetar, tapi masih terkontrol. "Mereka adalah kakak Putri Katrina."


Oh.


OH.


Informasi itu akhirnya masuk ke kepala Haris. Rasanya seperti buku yang baru saja dibuka setelah berdebu selama bertahun-tahun. Tiba-tiba semuanya jelas.


Pangeran Arkan Gautama. Pangeran Tristan Adiwangsa.


Dua kakak Katrina.


Dua orang yang mungkin akan ia temui sebentar lagi. Atau justru harus ia hindari.


Haris langsung mengangguk cepat. Anggukan mantap. Anggukan yang diharapnya bisa menutupi kebodohannya dua detik yang lalu.


"Ah. Tentu. Sekarang saya paham."


Dari sudut matanya, ia melihat Ratu Melinda masih tersenyum kecil. Senyum yang tidak bisa diterjemahkan dengan jelas.


Raja Ridwan menyandarkan punggungnya ke kursi. Suara kursi tua itu berderit pelan... suara yang tidak akan terdengar di ruangan penuh orang, tapi di aula yang hening ini, jelas sekali.


"Kau ingin menyelidiki hubungan mereka?" tanya Raja.


Haris mengangguk. Kali ini lebih pelan. Lebih serius.


"Saya mendengar kabar samar bahwa hubungan mereka... tidak terlalu baik."


Ia berhenti sebentar. Mencari kata yang tepat.


"Dan hubungan keluarga yang penuh ketegangan sering menarik sesuatu yang buruk."


Ratu Melinda mencondongkan tubuh ke depan. Matanya tidak lagi tajam... tapi waspada.


"Peniru Bayangan?"


Haris mengangguk lagi.


"Di Athena, makhluk itu muncul di tengah konflik keluarga yang tidak terselesaikan." Ia berusaha menjelaskan dengan hati-hati. "Bukan karena keluarga itu jahat. Tapi karena... ketegangan. Kebencian yang dipendam. Kecurigaan yang tidak diucapkan. Hal-hal seperti itu... seolah menjadi undangan baginya."


Haris menarik napas.


"Saya tidak ingin hal yang sama terjadi di Berlin."


Aula hening lagi.


Di luar, sesekali terdengar suara burung. Jauh. Samar. Tapi cukup untuk mengingatkan Haris bahwa dunia di luar ruangan ini masih berjalan normal. Bahwa di luar sana, orang-orang sedang sarapan, pelayan sedang menyapu halaman, dan tidak ada yang tahu bahwa di dalam sini, seorang pangeran dari kerajaan tetangga sedang membicarakan soal makhluk bayangan pemakan konflik keluarga.


Akhirnya Ratu Melinda berbicara.


"Jika kau benar ingin melakukan ini..." Suaranya tenang. Sangat jelas. "...kau harus sangat berhati-hati."


Raja Ridwan menambahkan, "Dan jangan sampai Katrina tahu alasan sebenarnya kau datang."

Lihat selengkapnya