Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #14

Menguping Bangsawan itu Sulit

Sudut Pandang: Pangeran Haris

"Kalau kalian menoleh ke arah sini sekarang, tamat sudah karier menyelidikku."

Itu kalimat pertama yang muncul di kepalaku. Kalimat kedua: Harusnya minta pelajaran menyelinap sama kepala pengawal.

Tapi ya sudah. Terlanjur.

Aku menempel di dinding batu. Seratus delapan puluh lima sentimeter bungkuk di balik pilar. Pakaian bangsawan lengkap... jubah, selempang, sepatu mengilap yang reflektifnya kayak cermin. Dari luar, mungkin aku terlihat seperti pangeran yang baru kalah petak umpet sama lemari.

Kalau ayahku lihat sekarang, beliau pasti bilang, "Haris, apa hubungannya ini sama diplomasi?"

Nggak tahu, Ayah. Tapi ini lebih seru.

Di balkon sana, dua orang berdiri membelakangiku. Target operasi penyamaran.

Pangeran Arkan Gautama.

Pangeran Tristan Adiwangsa.

Kakaknya Katrina.

Angin pagi bikin tirai panjang di samping balkon bergerak-gerak. Aku manfaatin buat nutupan tambahan. Kayak dalang wayang, tapi versi pangeran.

Aku tahan napas.

Percakapan mereka mulai terdengar.

"Aduh." Suara Arkan pelan, tapi keselnya berasa. "Kepalaku sakit lagi."

Aku pasang telinga. Nah, ini dia.

Tristan jawab santai. "Kau kebanyakan mikir. Minum obat."

"Tidak." Cepat. "Aku lebih suka herbal. Obat pahit."

Aku hampir tertawa.

Serius?

Aku menyelinap ke sini, nyawa jadi taruhan, buat nyelidikin konflik keluarga yang katanya bisa manggil monster misterius... dan yang pertama kali kudengar adalah debat obat vs herbal?

Tristan mendesah. "Ya udah. Nanti kubikinin herbal. Tapi ke ruang makan dulu. Aku lapar."

Arkan menggerutu. "Kau selalu lapar."

"Karena aku manusia."

Aku mengangkat alis.

Percakapan ini... normal banget. Anehnya normal.

Lalu Arkan bilang, "Baik. Ayo ke ruang makan."

Jantungku langsung lari.

Tunggu.

Ke ruang makan?

Artinya mereka ninggalin balkon?

Artinya mereka lewat koridor?

Artinya...

Mereka lewat tempatku berdiri.

Oh.

Bagus.

Banget.

Aku telan ludah. Kering.

"Baik, Haris." Aku ngomong dalam hati. "Sekarang tunjukkin kemampuan menyelinap yang nggak pernah diajarin di sekolah bangsawan."

Aku mundur pelan-pelan dari balkon. Cepat tapi diam. Kayak kucing. Kucing yang lagi nyuri ikan.

Di koridor ada meja kayu besar. Di atasnya vas bunga.

Tanpa pikir panjang, aku berjongkok di belakang meja itu.

Ya.

Putra mahkota kerajaan Athena.

Berjongkok.

Di balik meja.

Lantainya dingin. Banget.

Aku denger langkah kaki mendekat.

Aku tahan napas.

Arkan dan Tristan keluar dari balkon. Lewat koridor.

Lihat selengkapnya