Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #15

Dia Bisa Bicara?!

Sudut Pandang: Pangeran Haris


"Keluar sekarang."


Suara itu keluar dari mulutku pelan. Cukup tajam untuk memotong sunyi di koridor istana Berlin.


Masalahnya...yang aku ajak bicara bukan manusia.


Dan yang lebih bermasalah... dia menjawab.


"Aku sudah di sini dari tadi."


Jantungku berhenti satu detik.


Suaranya.


Itu... suaraku sendiri.


Aku tidak langsung menoleh. Bukan karena berani. Tapi karena tubuh ini seperti menolak bergerak. Ada sesuatu yang tidak beres ketika seseorang mendengar suaranya sendiri dari arah yang salah. Rasanya seperti berdiri di depan cermin, tapi bayanganmu bergerak lebih dulu.


Aku menarik napas perlahan.


Lalu akhirnya menoleh.


Dia berdiri di sana.


Tinggi. Tegap. Rambut hitam rapi. Pakaian bangsawan yang sama persis dengan yang aku kenakan hari ini.


Wajahnya... wajahku.


Kalau ada orang lain di sini, mungkin mereka akan bingung harus menyapa yang mana.


Sayangnya... tidak ada orang lain.


Hanya aku.


Dan dia.


"Kau akhirnya mau menampakkan diri juga," kataku pelan. Aku berusaha terdengar tenang. Di dalam hati, sebenarnya aku sudah menyusun rencana kabur yang cukup tidak bermartabat.


Dia tersenyum.


Atau lebih tepatnya... aku tersenyum.


Dan itu adalah hal paling mengganggu yang pernah kulihat dalam hidupku.


"Aku tidak pernah bersembunyi," katanya santai. "Hanya saja... tidak semua orang cukup peka untuk melihat."


Aku menahan napas sejenak.


Kalimat itu sama persis seperti yang pernah kubaca di laporan lama kerajaan Athena. Tentang fenomena aneh. Makhluk yang hanya bisa dilihat oleh orang tertentu. Makhluk yang muncul... bukan tanpa alasan.


"Apa maumu?" tanyaku langsung.


Dia tidak menjawab.


Dia berjalan perlahan mendekat. Langkahnya tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang tidak pernah terburu-buru karena tahu tidak ada yang bisa mengejarnya.


Aku refleks mundur satu langkah.


Dia berhenti.


Jarak kami sekarang hanya beberapa meter.


Cukup dekat untuk membuatku sadar bahwa bahkan detail kecil pun sama. Warna mata. Garis rahang. Cara berdiri.


"Kau tahu..." katanya pelan. Menatapku lurus. "Aku menyukai tempat ini."


Aku mengernyit. "Berlin?"


"Bukan." Dia menggeleng pelan. "Keluarganya."


Aku terdiam.


Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan kata keluarga yang membuatnya terdengar... tidak wajar. Seperti seseorang yang menyebut makanan favoritnya.


"Kenapa?" tanyaku hati-hati.


Senyumnya melebar sedikit. "Karena mereka lezat."


Aku mengerutkan kening. "...Apa?"


Dia mengangkat bahu santai. "Konflik. Salah paham. Ego. Diam yang terlalu lama." Dia menyebutnya satu per satu seperti sedang membaca menu makan siang. "Semua itu... makananku."


Darahku terasa sedikit dingin.


Aku sudah menduga makhluk ini berbahaya. Tapi mendengar langsung bagaimana dia mengatakannya dengan santai... itu berbeda.


"Jadi kau muncul karena konflik keluarga?" tanyaku, mencoba tetap logis.


"Bukan hanya muncul," jawabnya. "Aku tumbuh karena itu."


Dia melangkah satu langkah lagi.


Aku tidak mundur kali ini.


"Semakin mereka saling tidak mengerti," lanjutnya pelan, "semakin kuat aku."


Aku menatapnya tajam. "Lalu kalau mereka saling mengerti?"


Dia berhenti.


Untuk pertama kalinya... senyumnya sedikit memudar.


"Hm," gumamnya. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia sukai. "Itu jarang terjadi."


Aku menarik napas pelan.


Jadi benar. Makhluk ini bukan sekadar meniru. Dia... bergantung.


"Dan kau pikir aku akan membiarkan itu?" tanyaku.


Dia tertawa kecil.


Sekali lagi, mendengar suaraku sendiri tertawa dari mulut orang lain...itu tidak menyenangkan.


"Kau?" Dia memiringkan kepala. Menatapku seperti aku ini lelucon yang cukup menghibur. "Kau bahkan belum bisa memperbaiki ekspresimu sendiri saat gugup."


Aku menahan diri untuk tidak menghela napas panjang.


Oke. Dia mulai menyebalkan.


"Aku tidak perlu memperbaiki semuanya," balasku. "Cukup menghentikanmu."


Dia menatapku beberapa detik. Lalu tersenyum lagi. "Kau benar-benar percaya itu?"


Aku tidak menjawab.


Lihat selengkapnya