Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #16

Aku Harus Bicara ke Katrina (Tapi Gimana Caranya?!)

Sudut Pandang: Pangeran Haris


“Aku tidak mungkin jujur. Tapi aku juga tidak mungkin diam.”


Aku berjalan bolak balik di koridor istana Berlin.

Langkahku terdengar lebih keras dari yang seharusnya.


Padahal yang hilang cuma satu


keberanian.


Masalahnya kelihatan sederhana.


Aku tahu sesuatu.


Dan sesuatu itu… berbahaya kalau diucapkan.


Makhluk itu.


Yang meniru wajahku. Suaraku. Cara berpikirku.


Yang hidup dari konflik keluarga.


Yang… menikmati keadaan keluarga Katrina.


Aku berhenti.


Kalau aku bilang ke dia


apa yang akan terjadi?


Kemungkinan pertama

dia percaya.


Kemungkinan kedua

dia makin yakin aku gila.


…yang kedua cukup untuk menghancurkan masa depanku.


Aku menghembuskan napas pelan.


“Kenapa jadi seperti ini…”


Biasanya semuanya jelas.


Ada musuh. Lawan. Selesai.


Tapi ini bukan perang.


Ini perasaan.


Dan itu jauh lebih kacau.


Aku mencoba lagi.


“Putri Katrina, sebenarnya ada makhluk yang...”


Tidak.


“Aku melihat sesuatu yang aneh...”


Tidak cukup.


“Aku berbicara dengan diriku sendiri...”


Aku memejamkan mata.


“…itu lebih buruk.”


Aku mengusap wajah.


Baik.


Jangan langsung.


Cari jalan lain.


Mulai dari sesuatu yang lebih aman.


Keluarganya.


Aku mengangguk pelan.


Ya.


Itu bisa jadi pintu masuk.


Langkah kaki terdengar.


Aku menoleh.


Dan dia ada di sana.


Putri Katrina.


Langkahnya tenang. Tatapannya langsung menemukanku.


Seperti biasa


tajam.


Kami berhenti di waktu yang sama.


Sunyi.


Beberapa detik.


Terlalu lama untuk sekadar kebetulan.


“…Pangeran Haris?”


Aku mengangguk.


“Putri Katrina.”


Dia menatapku.


Lama.


Seolah sedang memastikan aku nyata.


“Apa kali ini Anda benar benar Anda?”


Aku hampir tertawa kecil.


“Sejauh yang saya tahu, ya.”


“Tidak meyakinkan.”


“Kalau saya berusaha meyakinkan, itu malah mencurigakan.”


Dia mendengus.


Tidak pergi.


Bagus.


“Anggap saja Anda yang asli.”


“Kepercayaan yang luar biasa.”


“Standar saya sudah turun.”

Lihat selengkapnya