Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #17

Versi Cerita dari Kakak-Kakaknya

Sudut Pandang: Pangeran Haris


“Aku tidak percaya kalian bertiga bertengkar hanya karena… vas bunga.”


Aku menatap dua pria di depanku dengan ekspresi datar yang mungkin terlihat tenang, tapi di dalam kepala… aku sedang mencoba memahami bagaimana sebuah benda dekorasi bisa menjadi bahan konflik keluarga jangka panjang.


Pangeran Arkan Gautama langsung mendengus.


“Itu bukan cuma vas bunga.”


Sementara di sampingnya, Pangeran Tristan Adiwangsa menghela napas pelan seperti seseorang yang sudah terlalu sering berada di tengah situasi yang sama.


“Memang bukan,” kata Tristan dengan nada lebih tenang. “Tapi itu juga bukan inti masalahnya.”


Aku menyilangkan tangan di dada.


“Bagus,” kataku. “Karena kalau ini benar-benar tentang vas bunga, aku mungkin akan menyerah sekarang juga.”


Arkan melirikku sekilas.


“Percayalah, kami juga berharap ini cuma soal vas bunga.”


Aku menahan senyum tipis.


Setidaknya mereka sadar betapa absurd kedengarannya.


Kami bertiga berdiri di salah satu sudut koridor istana Berlin yang cukup sepi. Cahaya pagi masuk dari jendela tinggi, membuat bayangan kami memanjang di lantai marmer.


Aku datang ke sini dengan satu tujuan:


Mendengar versi mereka.


Karena setelah berbicara dengan Katrina... 


aku tahu.


Cerita tidak pernah hanya punya satu sisi.


“Baik,” kataku akhirnya. “Aku sudah mendengar dari Katrina.”


Keduanya langsung menoleh bersamaan.


Ekspresi mereka berubah.


Sedikit waspada.


Sedikit… tertarik.


“Dan?” tanya Arkan cepat.


Aku mengangkat bahu santai.


“Versinya sederhana. Dia merasa tidak pernah dimengerti.”


Sunyi.


Reaksi mereka?


Tidak kaget.


Tidak menyangkal.


Hanya… saling pandang.


Seolah itu bukan hal baru.


Tristan menghela napas pelan.


“Aku menduga dia akan mengatakan itu.”


Arkan menggeleng kecil.


“Tentu saja dia bilang begitu.”


Aku memperhatikan mereka.


Nada suara Arkan, emosional, cepat, seperti menyimpan banyak hal yang belum selesai.


Sementara Tristan, lebih terkontrol, lebih hati-hati memilih kata.


Menarik.


“Sekarang giliran kalian,” kataku. “Apa versi kalian?”


Arkan tidak butuh waktu lama.


“Dia yang menjauh.”


Jawaban cepat.


Tegas.


Seperti sudah lama disimpan.


Aku sedikit mengangkat alis.


“Menjauh?”


“Iya,” lanjut Arkan. “Sejak beberapa tahun terakhir, dia jadi susah diajak bicara. Selalu menghindar. Selalu menutup diri.”


Aku melirik Tristan.


Dia mengangguk pelan.


“Ada benarnya,” katanya.


Aku kembali ke Arkan.


“Sejak kapan tepatnya?”


Arkan berpikir sejenak.


“Sejak… kejadian itu.”


Aku tidak perlu bertanya.


Aku sudah tahu maksudnya.


“Vas bunga?” tanyaku.


Arkan menghela napas kasar.


“Ya, vas bunga itu.”


Aku hampir tertawa.


Bukan karena lucu.


Tapi karena ini benar-benar absurd.


Namun aku menahan diri.


“Ceritakan,” kataku.


Arkan menyilangkan tangan di dada.


Ekspresinya sedikit berubah... lebih serius.


“Waktu itu kami sedang diskusi di balkon,” katanya. “Soal masa depan kerajaan. Soal tanggung jawab.”


Aku mengangguk kecil.


Masuk akal.


“Katrina datang,” lanjutnya. “Kami tidak menyadari dia ada di sana.”


Aku menatapnya.


“Lalu?”


Arkan terdiam sejenak.


Seolah memilih kata.


“Dia mendengar sebagian percakapan kami,” kata Tristan pelan, mengambil alih. “Dan… salah paham.”


Aku menoleh ke Tristan.


“Seperti apa salah pahamnya?”


Tristan menghela napas.


“Kami sedang membicarakan apakah Katrina sudah siap mengambil peran besar di kerajaan.”


Aku langsung mengerti.


Atau setidaknya… mulai mengerti.


“Dan dia mengira kalian meremehkannya,” kataku.


Tristan mengangguk.


“Kurang lebih.”


Arkan mendengus.

Lihat selengkapnya