Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #18

Makan Malam Paling Tegang Sedunia

“Ayah, aku nggak lapar.”


Kalimat itu langsung jatuh di tengah ruang makan seperti sendok yang dijatuhkan di lantai, nyaring, bikin semua orang refleks berhenti bergerak.


Putri Katrina berdiri di dekat kursinya, kedua tangannya menyilang di dada. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya jelas menunjukkan satu hal: dia tidak ingin berada di sini.


Raja Ridwan yang duduk di ujung meja menghela napas pelan.


“Katrina,” katanya dengan suara lembut tapi tegas, “ini bukan soal lapar atau tidak. Ini soal kita makan bersama.”


Di sisi lain meja, Ratu Melinda langsung menimpali dengan senyum yang terlalu dipaksakan.


“Iya, sayang. Anggap saja ini… waktu keluarga.”


Katrina melirik sekilas ke arah kedua kakaknya.


Pangeran Arkan duduk dengan posisi tegak, ekspresinya datar tapi jelas tidak nyaman. Sementara Pangeran Tristan terlihat lebih santai, atau setidaknya, lebih pandai menyembunyikan ketidaknyamanan.


Dan di tengah semua itu... 


Pangeran Haris duduk diam.


Sangat diam.


Seperti seseorang yang tiba-tiba sadar bahwa dirinya masuk ke dalam situasi yang… salah tempat.


“…Aku bisa kembali nanti,” kata Haris pelan, setengah berdiri dari kursinya.


“Tidak!” Ratu Melinda langsung berkata cepat, sedikit terlalu cepat.


Semua orang menoleh padanya.


Ia tersenyum canggung.


“Maksudku… tidak perlu. Justru bagus kalau Pangeran Haris ikut. Jadi… suasananya lebih hangat.”


Sunyi.


Semua orang tahu itu tidak benar.


Haris pelan-pelan duduk kembali.


Dalam hati, ia hanya punya satu pikiran:


Ini bukan makan malam. Ini ujian mental.


Akhirnya, Katrina menghela napas panjang dan duduk juga di kursinya dengan gerakan agak keras.


“Baiklah,” gumamnya pelan. “Biar cepat selesai.”


Arkan mendengus kecil.


“Seolah-olah ini hukuman.”


Katrina langsung menoleh.


“Kalau rasanya seperti hukuman, mungkin ada alasannya.”


Tristan menutup mata sejenak.


“Dan kita baru mulai…” gumamnya pelan.


Raja Ridwan berdehem.


“Baik. Kita mulai saja makan malamnya.”


Para pelayan mulai menyajikan makanan. Piring-piring diletakkan dengan rapi, aroma makanan hangat memenuhi ruangan.


Tapi anehnya... 


tidak ada yang benar-benar terasa hangat.


Semua duduk.


Semua makan.


Dan semua… diam.


Suara sendok menyentuh piring terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.


Haris menatap ke depan.


Lalu ke kiri.


Lalu ke kanan.


Dan menyadari sesuatu yang cukup menyedihkan... 


tidak ada yang saling bicara.


Oke, batin Haris. Kalau dibiarkan begini, makhluk itu mungkin sudah tertawa sekarang.


Ia menarik napas pelan.


Baiklah.


Sebagai calon… entah apa... tunangan, penengah, atau korban keadaan... 


ia merasa perlu melakukan sesuatu.


“Jadi…” Haris membuka suara.


Semua langsung menoleh.


Kesalahan pertama.


Terlalu banyak perhatian.


“…cuacanya cukup bagus hari ini,” lanjutnya.


Sunyi.


Tristan menatapnya.


Arkan menatapnya.


Katrina… juga menatapnya.


Ratu Melinda tersenyum terlalu lebar.


Raja Ridwan menunduk, mungkin menahan sesuatu.


Haris berkedip pelan.


“…atau mungkin tidak terlalu bagus,” tambahnya cepat.


Tristan menahan senyum.


Arkan menghela napas.

Lihat selengkapnya