Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #19

Peniru Mulai Bermain

“AKU BILANG, AKU NGGAK NYENTUH GELAS ITU!”


Suara Katrina langsung memecah suasana makan malam yang tadinya sudah canggung… sekarang jadi canggung plus panas.


Semua orang di meja langsung diam.


Pangeran Haris yang duduk di antara Raja Ridwan dan Pangeran Tristan refleks berhenti mengunyah. Bukan karena makanannya tiba-tiba nggak enak, tapi karena ini jelas… mulai tidak beres.


Baru lima menit lalu Ratu Melinda dengan penuh harapan bilang, “Makan malam ini kita pakai untuk memperbaiki suasana, ya.”


Lima menit.


Rekor tercepat dalam sejarah gagal damai keluarga.


“Tidak ada yang menuduhmu,” kata Tristan dengan nada tenang, meskipun alisnya sedikit berkerut.


“Aku tahu cara kalian lihat aku,” balas Katrina cepat. “Seolah-olah aku selalu jadi penyebab masalah.”


“Karena kamu memang sering jadi penyebab masalah,” celetuk Arkan, tanpa jeda.


Hening.


Haris menutup mata sebentar.


Oke. Ini bukan makan malam. Ini gladi resik perang.


“Kak Arkan,” tegur Ratu Melinda pelan, tapi ada tekanan di suaranya.


Namun Arkan hanya mengangkat bahu.


“Apa? Aku cuma jujur.”


“Jujur bukan berarti harus menyakitkan,” sahut Raja Ridwan, suaranya lebih dalam.


Katrina mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya menyilang di dada... posisi favoritnya kalau lagi siap perang.


“Lihat? Ini yang aku maksud,” katanya, lebih pelan tapi lebih tajam. “Kalian semua selalu satu tim. Aku sendirian.”


Haris membuka mata.


Kalimat itu… sederhana, tapi rasanya berat.


Sendirian.


Di tengah keluarga sendiri.


Dan entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang disukai oleh makhluk itu.


Haris menatap satu per satu wajah di meja.


Ridwan terlihat menahan emosi.


Melinda terlihat khawatir.


Tristan mencoba tetap tenang.


Arkan… jelas kesal.


Dan Katrina—keras kepala, defensif, tapi… ada sesuatu di matanya yang lebih dalam dari sekadar marah.


Kesepian.


Dan di saat seperti ini... 


makhluk itu biasanya muncul.





“Ada apa dengan gelas itu?” tanya Haris akhirnya, mencoba menarik topik sebelum meja ini benar-benar jadi medan perang.


Semua mata langsung beralih ke arahnya.


Untuk sesaat, suasana jadi lebih… netral.


“Gelas Arkan jatuh,” jawab Tristan singkat. “Dan… kebetulan Katrina berdiri paling dekat.”


“Aku cuma mau ambil air!” protes Katrina.


“Dengan cara menjatuhkan gelas orang lain?” balas Arkan cepat.


“Aku nggak nyentuh!”


“Lalu siapa? Hantu?”


Kalimat itu keluar begitu saja.


Dan entah kenapa…


udara di ruangan terasa berubah.


Haris menegang.


Itu bukan sekadar candaan.


Itu… terasa seperti pancingan.


Haris pelan-pelan mengalihkan pandangannya ke arah Arkan.


Tatapan Arkan terlihat normal.


Terlalu normal.


“Kadang,” Haris akhirnya bicara, mencoba tetap santai, “hal-hal bisa jatuh tanpa disengaja. Mungkin meja goyang sedikit.”


“Meja ini kokoh,” potong Arkan.


“Ya, tapi...”


“Kalau bukan Katrina, lalu siapa?” ulang Arkan, kali ini lebih pelan.


Nada suaranya…


berbeda.


Haris langsung diam.


Ada sesuatu yang aneh.


Sangat halus.


Tapi… aneh.





“Kamu selalu begini,” lanjut Arkan, menatap Katrina. “Nggak pernah mau ngaku.”


Katrina langsung berdiri.


Kursinya bergeser cukup keras.


“Karena aku memang nggak salah!”


“Semua orang juga bisa bilang begitu.”


“Setidaknya aku nggak asal nuduh orang!”


“Setidaknya aku nggak kekanak-kanakan!”


“AKU NGGAK KEKANAK-KANAKAN!”


“Memecahkan vas orang lain tanpa minta maaf itu apa namanya?”


Ruangan langsung membeku.


Haris menoleh cepat ke Arkan.


Itu…


topik lama.


Topik yang tadi pagi mereka bicarakan diam-diam.


Yang seharusnya…


tidak dibahas di sini.


Tidak sekarang.


Tidak di depan semua orang.


Tristan langsung menatap Arkan. “Arkan, cukup.”


Namun Arkan tidak berhenti.


“Dan sekarang gelas. Besok apa lagi? Kamu pikir dunia selalu harus mengerti kamu, tapi kamu nggak pernah mau mengerti orang lain.”


Setiap kata seperti dilempar dengan sengaja.


Tepat sasaran.


Menusuk.


Dan Haris bisa merasakan sesuatu.


Sesuatu yang… senang.





Katrina terdiam.


Untuk sesaat.


Lalu tertawa kecil.

Lihat selengkapnya