Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #20

Siapa yang Sebenarnya?

“Aku tadi lihat kamu di koridor barat.”


Tristan ngomong begitu saja.


Tanpa aba-aba. Tanpa jeda.


Langsung.


Dan... 


cukup satu kalimat itu untuk bikin semuanya berantakan.


Katrina yang baru mau menuang air ke gelas langsung berhenti. Tangannya menggantung di udara, setengah jalan.


“Maaf?”


Cuma satu kata. Alisnya naik pelan.


“Aku lihat kamu di koridor barat. Tadi. Beberapa menit lalu.”


Kali ini, suara Tristan lebih mantap. Nggak ragu.


Haris yang dari tadi santai bersandar, perlahan duduk tegak.


Koridor barat?


Katrina berkedip dua kali. Lambat. Seolah otaknya lagi nyari cara supaya kalimat itu masuk akal.


Lalu dia ketawa kecil.


“Aku dari dapur,” katanya ringan, nyaris meremehkan. “Aku bahkan belum keluar dari sini sejak makan malam mulai.”


“Nggak mungkin.”


“Tristan...”


“Aku lihat jelas.” Tristan memotong. “Rambut cokelat panjang. Tinggi. Jalan cepat. Itu kamu.”


Katrina menarik napas pendek.


“Di istana ini banyak yang rambutnya cokelat.”


“Yang tingginya sama kayak kamu dan jalan sambil ngomel sendiri?”


Haris langsung menoleh.


Ngomel sendiri?


…itu memang Katrina.


“Tunggu,” Arkan ikut masuk. “Aku juga lihat.”


Semua kepala langsung beralih ke dia.


“Lihat apa?” Ridwan bertanya.


“Ada seseorang di tangga tadi. Aku kira Katrina juga. Tapi…” Arkan mengernyit. “Dia nggak nyapa.”


Katrina masih berdiri di dekat meja.


Tapi sekarang dia diam.


Bener-bener diam.


“Oke.”


Suaranya datar.


“Kalian lagi bercanda, ya?”


“Kami nggak bercanda.”


“Aku serius.”


Arkan dan Tristan ngomong barengan.


Katrina menatap mereka satu per satu. Lama. Seolah nunggu ada yang nyengir atau ketawa.


Nggak ada.


Hening.


Dan hening ini… beda.


Bukan canggung.


Tapi berat.


Seperti ada sesuatu yang pelan-pelan menekan dari segala arah.


Haris merasakan dadanya ikut sesak.


Bukan cuma karena situasinya... 


tapi karena perasaan ini… familiar.


Tadi malam.


Bayangan itu.


Senyum itu.


Dia berdiri.


“Kalian lihat dia berapa lama?”


“Beberapa detik.” Tristan mengangkat cangkirnya, tapi tangannya sedikit bergetar. “Cuma lewat.”


“Nggak nengok?”


“Nggak.”


“Nggak ngomong?”


“Nggak.”


Haris mengangguk pelan, lalu menatap Katrina.


“Kamu beneran nggak ke sana?”


Katrina mendengus pelan. Kesal.


“Untuk apa aku bohong soal jalan-jalan di koridor?” katanya. “Aku di sini. Dari tadi.”


Haris menahan tatapannya.


Matanya Katrina cokelat. Hangat. Jelas.


Normal.


Dan justru itu yang bikin semuanya terasa makin nggak normal.


“Kalau bukan Katrina…” Arkan berhenti.


Kalimatnya menggantung.


Nggak ada yang berani nyambung.


Karena mereka semua tahu ujungnya.


“Berarti ada dua Katrina.”


Tristan yang akhirnya ngomong.


Pelan. Hampir seperti dia sendiri nggak yakin.


Katrina menatap satu per satu wajah di ruangan itu.


Tristan.


Arkan.


Haris.

Lihat selengkapnya