“Aku nggak peduli kalian ngomong apa di belakangku, tapi jangan pura-pura peduli di depanku!”
Suara Katrina menggema di koridor lantai dua.
Kali ini… bukan sekadar tegang.
Ini sudah masuk fase “semua orang siap meledak kapan saja.”
Pangeran Haris yang berdiri tidak jauh dari sana refleks berhenti melangkah. Ia baru saja hendak mencari udara segar... atau setidaknya tempat yang tidak dipenuhi aura curiga satu sama lain.
Tapi ternyata…
drama lebih cepat menemukannya.
“Aku tidak pernah pura-pura,” balas Pangeran Arkan, suaranya tegas, sedikit meninggi.
“Ya, jelas,” Katrina tertawa kecil, sarkastik. “Karena dari dulu kalian nggak pernah repot-repot menyembunyikan kalau kalian meremehkanku.”
“Aku tidak pernah meremehkanmu,” sahut Tristan, mencoba tetap tenang.
“Serius?” Katrina melipat tangan. “Atau aku harus ingatkan lagi tentang percakapan kalian di balkon?”
Haris langsung menegang.
Balkon.
Kata itu seperti kunci yang membuka sesuatu di kepalanya.
Itu dia.
Ini yang selama ini jadi pusatnya.
“Katrina...” Tristan mencoba bicara.
“TIDAK,” potong Katrina cepat. “Kali ini kalian dengerin aku.”
Sunyi.
Tidak ada yang menyela.
Bahkan angin di koridor pun terasa seperti ikut menahan napas.
“Kalian pikir aku nggak dengar waktu itu?” lanjut Katrina. “Kalian pikir aku nggak tahu kalian bilang aku belum siap? Bahwa aku terlalu keras kepala? Bahwa aku bisa jadi masalah buat kerajaan?”
Arkan dan Tristan saling pandang.
Sekilas.
Cukup untuk menunjukkan bahwa mereka tahu persis kejadian yang dimaksud.
Haris memperhatikan dengan saksama.
Setiap ekspresi.
Setiap jeda.
Karena dia tahu...
ini bukan lagi soal gelas.
Bukan soal vas.
Ini…
akar dari semuanya.
“Kami tidak bilang kamu masalah,” kata Tristan pelan.
“Tapi kalian bilang aku belum siap,” balas Katrina cepat.
“Karena kami khawatir,” potong Arkan.
“Dengan cara ngomong di belakangku?”
“Karena waktu itu kamu tidak mau mendengarkan!” Arkan akhirnya ikut naik nada.
Katrina terdiam sesaat.
Tapi hanya sesaat.
“Itu bukan alasan buat ngebahas aku tanpa aku ada di sana.”
“Itu bukan membahasmu, itu membahas tanggung jawab,” balas Arkan.
“Bagus. Jadi sekarang aku tanggung jawab yang harus dibahas seperti laporan keuangan?”
Haris menutup mata sebentar.
Oke… ini mulai ke arah yang lebih dalam.
“Waktu itu,” Tristan akhirnya bicara, lebih pelan, “kami sedang membahas masa depan kerajaan.”
Katrina mendengus kecil.
“Tentu saja.”
“Kami membahas… siapa yang akan memimpin jika sesuatu terjadi pada Ayah,” lanjut Tristan.
Kali ini Katrina tidak langsung menjawab.
Dan itu… jarang terjadi.
“Kami tidak meremehkanmu,” tambah Tristan. “Kami hanya… belum yakin kamu siap.”
“Kenapa?” tanya Katrina pelan.
Pertanyaan sederhana.
Tapi nadanya…
berbeda.
Tidak setajam tadi.
Lebih… jujur.
“Karena kamu selalu menghindar,” jawab Arkan, kali ini lebih tenang. “Setiap ada pembahasan serius, kamu pergi ke perpustakaan.”
Katrina membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
“Karena aku lebih suka baca daripada debat tidak jelas,” katanya akhirnya.
“Ini bukan debat tidak jelas,” balas Arkan. “Ini tentang masa depan kita semua.”
“Dan kamu pikir aku nggak peduli?” suara Katrina mulai bergetar sedikit.
Haris memperhatikan.
Itu bukan marah lagi.
Itu… tersinggung.
Lebih dalam.
“Kamu tidak pernah menunjukkan kalau kamu peduli,” kata Arkan jujur.
“Karena setiap kali aku bicara, kalian selalu merasa lebih benar,” balas Katrina cepat.