“Aku tahu kau di sini.”
Suara Pangeran Haris terdengar tenang… terlalu tenang untuk seseorang yang sebenarnya sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak terlihat.
Katrina yang berdiri di sampingnya langsung menoleh cepat.
“Kamu ngomong sama siapa lagi?” bisiknya pelan, alisnya mengernyit.
Haris tidak menjawab.
Matanya menatap lurus ke depan.
Ke arah lorong panjang yang sepi.
Dan beberapa detik kemudian…
lampu di dinding… berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Katrina refleks mundur setengah langkah.
“Oke,” gumamnya pelan. “Kalau ini cuma efek dekorasi istana… aku nggak percaya lagi.”
Angin dingin tiba-tiba berhembus.
Padahal semua jendela tertutup.
Dan dari ujung lorong itu…
sesuatu mulai terbentuk.
Kabut tipis.
Mengumpul.
Menggelap.
Lalu perlahan… membentuk sosok manusia.
Tinggi.
Tegap.
Dengan rambut hitam.
Dan wajah…
yang terlalu familiar.
Katrina menahan napas.
“Itu…”
Haris tidak berkedip.
“Aku tahu.”
Sosok itu berdiri diam beberapa langkah dari mereka.
Wajahnya… adalah wajah Haris.
Tapi ada yang salah.
Matanya kosong.
Seperti tidak punya emosi.
Seperti… bukan manusia.
“Wah,” Katrina berbisik pelan. “Ini pertama kalinya aku lihat dua kamu dalam satu tempat… dan jujur aja, ini bukan pengalaman yang menyenangkan.”
Sosok itu tidak menjawab.
Hanya menatap mereka.
Lalu…
perlahan… tersenyum.
Senyum yang tipis.
Terlalu tipis.
Dan terasa… tidak manusiawi.
“Kalian memang keluarga yang retak.”
Suara itu keluar.
Sama persis dengan suara Haris.
Nada yang sama.
Intonasi yang sama.
Bahkan cara mengucapkan katanya… identik.
Katrina langsung mundur lagi.
“Tidak. Tidak. Ini… ini udah kelewatan,” gumamnya. “Aku nggak siap lihat dua orang dingin ngomong bersamaan.”
Haris tetap berdiri di tempatnya.
Tatapannya tajam.
Fokus.
“Jadi… kau akhirnya memutuskan untuk muncul dengan jelas,” katanya tenang.
Sosok itu memiringkan kepala.
Gerakannya aneh.
Seperti boneka yang baru belajar menjadi manusia.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” jawabnya.
Katrina menelan ludah.
“Kalau boleh jujur… aku lebih suka kamu tetap nggak kelihatan.”
Sosok itu tidak menghiraukannya.
Matanya tetap pada Haris.
“Menarik,” katanya pelan. “Kau mulai memahami cara kerjaku.”
Haris mengangkat dagu sedikit.
“Aku tidak perlu memahami sepenuhnya untuk menghentikanmu.”
Sosok itu tertawa kecil.
Suara tawa yang… dingin.
“Menghentikanku?” ulangnya. “Kau pikir kau bisa memperbaiki sesuatu yang sudah lama retak?”
Katrina melirik Haris.
Oke… ini mulai masuk fase ‘serius banget’.
Dan aku nggak yakin aku suka.
“Ini bukan tentang memperbaiki semuanya sekaligus,” jawab Haris. “Ini tentang memulai.”
“Memulai?” sosok itu mengulang, seolah kata itu terasa asing.
“Iya.”
Sosok itu tersenyum lagi.
“Lucu.”
Katrina mengangkat tangan sedikit.
“Boleh aku interupsi? Ini mulai terdengar kayak debat kelas filsafat.”
Tidak ada yang menjawab.
“Baik. Lanjut.”
Haris tidak mengalihkan pandangannya.
“Kau bilang kau muncul karena konflik keluarga,” katanya. “Karena hubungan yang retak.”