Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #23

Percakapan yang Terlambat (Tapi Penting)

Sudut Pandang: Orang Ketiga

“Aku capek dianggap anak kecil terus!”

Suara Katrina pecah lebih dulu.

Tidak ada pemanasan.

Tidak ada basa-basi.

Langsung… ledakan.

Pangeran Arkan yang berdiri di hadapannya langsung mengangkat alis.

“Dan aku capek lihat kamu bertingkah kayak anak kecil!” balasnya tanpa kalah cepat.

“Lihat?!” Katrina menunjuk Arkan. “Ini maksudku!”

Pangeran Tristan yang berdiri di antara mereka langsung menghela napas panjang.

“Baru lima detik, sudah mulai,” gumamnya pelan. “Rekor baru.”

Haris yang berdiri sedikit di belakang hanya menutup mata sebentar.

Baik. Ini akan panjang.

“Dengar ya,” lanjut Katrina, napasnya masih naik turun. “Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa mikir sendiri. Aku bisa ambil keputusan sendiri!”

“Keputusan?” Arkan mendengus. “Seperti memecahkan vas di kamarku dan pura-pura itu angin?”

“Itu kecelakaan!”

“Kecelakaan yang kamu nggak pernah minta maaf!”

“Aku...” Katrina terdiam.

Sejenak.

Dan untuk pertama kalinya…

dia tidak langsung membalas.

Hening.

Tristan langsung menyadari perubahan itu.

“Lanjutkan,” katanya pelan.

Katrina menelan ludah.

Tatapannya tidak lagi sekeras tadi.

“Aku…” dia menarik napas. “Aku nggak minta maaf… bukan karena aku nggak mau.”

Arkan menyilangkan tangan.

“Terus?”

“…aku cuma… nggak tahu harus mulai dari mana.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup membuat suasana berubah.

Sedikit.

Arkan tidak langsung menjawab.

Tristan juga diam.

Seolah-olah mereka tidak menyangka jawaban itu.

“Dan,” lanjut Katrina, suaranya lebih pelan, “aku juga… kesel.”

Arkan mengangkat alis.

“Kesel?”

“Iya. Kalian selalu mikir aku ceroboh, aku nggak siap, aku ini itu… tanpa pernah nanya aku gimana.”

Hening lagi.

Kali ini… lebih berat.

Tristan menghela napas.

“Katrina…” katanya pelan.

Tapi Katrina menggeleng.

“Enggak. Biar aku selesai dulu.”

Dia menatap kedua kakaknya.

Matanya tidak lagi penuh amarah.

Lebih… jujur.

“Aku denger kalian waktu itu di balkon.”

Arkan dan Tristan saling pandang.

“Kalian pikir aku belum siap,” lanjut Katrina. “Kalian pikir aku bakal bikin masalah.”

“Itu bukan...” Arkan mencoba menyela.

“Tapi itu yang aku dengar!” potong Katrina.

Hening.

Dan kali ini…

Arkan tidak langsung membalas.

Karena dia tahu...

itu benar.

Itulah yang mereka katakan waktu itu.

Tristan mengusap wajahnya pelan.

“Kau salah paham,” katanya akhirnya.

Katrina langsung tertawa kecil.

Tawa yang pahit.

“Selalu itu jawabannya.”

“Karena memang itu yang terjadi,” Tristan menjawab tenang.

Katrina ingin membalas.

Tapi Haris yang sejak tadi diam akhirnya maju satu langkah.

“Boleh aku bicara?” katanya pelan.

Semua menoleh.

Katrina langsung menyipitkan mata.

Lihat selengkapnya