Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #24

Keluarga Itu Dipilih untuk Diperjuangkan

Sudut Pandang: Orang Ketiga

“Kita belum selesai, kan?”

Suara itu muncul lagi.

Lebih pelan.

Lebih serak.

Dan entah kenapa… tidak lagi terdengar menakutkan seperti sebelumnya.

Katrina yang berdiri di antara Arkan dan Tristan langsung menghela napas panjang.

“Serius?” gumamnya. “Kita baru aja mulai damai… kenapa harus ada ujian susulan?”

Arkan menyilangkan tangan.

“Karena hidup nggak pernah kasih jeda, mungkin.”

Tristan menepuk pelan bahu adiknya.

“Tenang. Kali ini beda.”

Haris yang berdiri di depan mereka menatap lurus ke arah kabut hitam yang kembali muncul di tengah ruangan.

Tidak sebesar sebelumnya.

Tidak sepadat sebelumnya.

Seperti bayangan yang mulai kehilangan bentuk.

Dan perlahan...

sosok itu terbentuk lagi.

Wajah yang sama.

Wajah Haris.

Tapi sekarang…

retakannya lebih jelas.

Seperti kaca yang hampir hancur.

Suaranya keluar… tidak stabil.

“Kalian…” katanya pelan. “…membosankan.”

Katrina mengangkat alis.

“Maaf ya kalau damai itu membosankan buat kamu.”

Sosok itu tidak membalas.

Tatapannya berpindah-pindah.

Dari Katrina.

Ke Arkan.

Ke Tristan.

Ke Haris.

Seolah sedang mencari sesuatu.

Sesuatu yang… sudah tidak ada.

“Di mana…” gumamnya. “Amarah itu…”

Tidak ada yang menjawab.

Karena mereka semua tahu...

itu memang sudah tidak sebesar sebelumnya.

Masih ada.

Tentu saja.

Mereka bukan keluarga sempurna.

Tapi tidak lagi… meledak-ledak seperti tadi.

Haris melangkah maju satu langkah.

“Kau mencarinya?” tanyanya tenang.

Sosok itu menatapnya.

“Aku… hidup… dari itu.”

Haris mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Katrina melirik Haris.

Dia mulai mode serius lagi.

Oke, aku siap mental.

“Kau tidak bisa bertahan tanpa konflik,” lanjut Haris.

Sosok itu diam.

Tubuhnya bergetar.

Lebih kuat dari sebelumnya.

“Dan sekarang,” kata Haris, “kau kehabisan.”

Hening.

Sosok itu tertawa kecil.

Tapi suaranya… pecah.

“Belum,” katanya. “Masih ada… sisa.”

Katrina langsung menyela.

“Ya, jelas masih ada. Aku masih kesel sama Arkan sedikit.”

Arkan langsung menoleh.

“Sedikit?”

“Ya, dikit banget.”

“Baik. Aku terima.”

Tristan menahan tawa.

Haris hampir tersenyum.

Dan… sesuatu terjadi.

Retakan di tubuh makhluk itu… bertambah.

Sosok itu menegang.

“Berhenti…” gumamnya.

Lihat selengkapnya