Dipaksa Nikah Sama Kulkas Tampan

Ryana Dea Aprilia
Chapter #25

Bayangan yang Belum Pergi

EPILOG

Sudut Pandang Orang Ketiga

"Jangan bilang kamu mau kabur lagi ke perpustakaan."

Suara Pangeran Haris membuat langkah Katrina terhenti tepat di depan pintu perpustakaan Istana Berlin.

Perlahan, Katrina menoleh.

Seperti biasa.

Wajah Haris masih sama.

Tampan.

Dingin.

Sulit ditebak.

Bedanya...

Kini Katrina tidak lagi merasa ekspresi datar itu menyebalkan.

Yah...

setidaknya tidak sesebal dulu.

"Aku bukan kabur," balas Katrina sambil mengangkat dagu. "Aku cuma... mau membaca."

"Hampir setiap kali aku datang, kau selalu sedang membaca."

"Karena buku tidak pernah menyuruhku bertunangan."

Haris mengembuskan napas pelan.

"Masih juga."

"Tentu."

Katrina menyunggingkan senyum kecil.

"Kalau aku tiba-tiba berubah ramah, nanti kamu yang kaget."

Untuk pertama kalinya...

Sudut bibir Haris benar-benar terangkat.

Senyum tipis.

Sangat tipis.

Namun cukup membuat Katrina terpaku beberapa saat.

"Eh..."

Ia menunjuk wajah Haris.

"Kamu... barusan senyum?"

Haris langsung kembali memasang wajah datarnya.

"Tidak."

"Jelas-jelas senyum."

"Tidak."

"Kamu bohong."

"Tidak."

Katrina menggeleng sambil terkekeh pelan.

"Ternyata kulkas juga bisa rusak, ya."

"Aku bukan kulkas."

"Kalau bukan kulkas, kenapa dingin?"

Haris kembali menghela napas.

"Putri Katrina..."

"Apa?"

"Kau memang sulit."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Aku anggap pujian."

Haris akhirnya menyerah.

Benar-benar menyerah.

Entah kenapa...

Berdebat dengan Katrina terasa jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan hari dalam keheningan.

Tak lama kemudian...

Raja Ridwan dan Ratu Melinda keluar dari ruang tengah.

Di belakang mereka menyusul Pangeran Arkan dan Pangeran Tristan.

Suasana yang dulu dipenuhi jarak...

Kini terasa jauh lebih hangat.

Masih ada kecanggungan.

Masih ada jeda.

Masih ada rasa malu setiap kali mengingat pertengkaran yang pernah terjadi.

Namun...

Kini mereka mulai saling menunggu saat berjalan.

Mulai saling bertanya apakah sudah makan.

Mulai saling menyapa lebih dulu.

Hal-hal sederhana...

Lihat selengkapnya