Dinding warna biru itu menjadi saksi bisu, ketika aku dipaksa masuk ke kamar oleh Ayah. Langit-langit kamar yang putih bersih mendadak terasa menghitam. Ruangan ini memang kamarku, tapi sejak saat itu menjadi asing. Seolah-olah nuansa hangat yang dulu ada menjadi beku seketika.
Hari masih terang-benderang. Bagiku, sebaliknya. Nyala lampu di kamar pun seperti tak ada gunanya, tidak bisa menjadi sumber penerang karena kalah oleh terangnya cahaya mentari. Pun kalah oleh suasana gulita yang mendadak tercipta.
Aku diam, mencoba mencerna kejadian beberapa menit lalu. Mengapa harus berakhir begini? Harga diriku rasanya jatuh. Rasa percaya diriku runtuh. Tak adakah diksi-diksi indah yang dapat menjembatani selain memberi sanksi?
Sampai kapan aku akan berada di kamar ini? Jendela satu-satunya yang terpasang di salah satu dinding kamar, berteralis. Tak mungkin bisa digunakan untuk keluar. Daun pintu warna hijau telur asin di kamar, tertutup rapat dan bisa dipastikan terkunci dari luar. Aku sempat mencoba membukanya ketika Ayah berhasil mendorong tubuhku ke kamar.
Aku tertawa dalam hati karena air mata yang biasanya langsung menderas sudah terkuras habis sejak dulu. Yang ada kini, hanya tatapan penuh tanya pada kehidupan. Tatapan penuh kebencian, kekesalan, dan emosi yang memuncak.
Aku memang diam, tak juga melawan. Aku hanya percaya, kepatuhan adalah salah satu wujud bakti. Bukan lantaran takut pada manusia. Sama sekali bukan!
Dalam hening, terdengar suara tangis di balik pintu. Itu suara adik laki-laki. Pasti dia juga yang mencoba membuka pintu dari luar tadi karena pintu tak berhasil dibukanya. Aku.paham, Ayah mungkin telah menyembunyikan kunci kamar.
“Sebesar apa kesalahan yang telah aku lakukan di matamu, Ayah?” bisikku sendiri.
Aku meraba punggung bagian bawah. Mungkin, lebam di sana sudah tak berbekas lagi. Jikalau masih ada, bisa jadi karena rasa sakitnya belum hilang sepenuhnya. Tak berani aku mengadu pada siapapun saat itu. Cukup sebesar itu saja sakit yang terasa, jangan sampai bertambah parah.
Penghukuman ini seperti tantangan. Seperti permainan. Apakah aku harus ikut bermain? Atau menjadi bidak yang selalu dipermainkan?
Entah, apa yang ada di pikiran saat itu, aku mulai membuka engsel-engsel pintu dari dalam kamar. Pengunci yang ada di tengah engsel aku bongkar dengan peralatan seadanya. Gunting, gunting kuku, dan penjepit rambut, menjadi alat serbaguna yang bisa dimanfaatkan kala itu.