Rinai hujan di hatiku masih metitik meskipun rintiknya tipis. Jika tetes air mata ini jatuh menerpa rerumputan yang tumbuh di belakang rumah, pasti hamparan dedaunan hijau itu tak sesegar kala hanya embun yang menyelimuti permukaannya.
Mungkin, daun-daun itu akan ikut merasakan bagaimana suasana hatiku, memahami betapa nelangsanya nasibku, dan mungkin, turut berduka menyaksikan perlakuan Ayah padaku.
Jika air mataku jatuh bebas seperti jatuhnya air hujan dari langit dan membasahi dedaunan itu, bisa dipastikan residu apa saja akan yang tertinggal di permukaannya ketika mengering. Residu yang sebagian terbentuk dari rasa sedih, stres, dan tangisan.
Residu yang mengotori dedaunan dan rumput-rumputan. Residu yang akan menutup pori-pori dedaunan, menghambat respirasi, transpirasi, dan fotosintesis tanaman. Situasi yang membahayakan tanaman karena siklus karbon dioksida yang dibutuhkan untuk keperluan fotosintesis dan keluarnya oksigen hasil fotosintesis akan terhambat dan terganggu. Pada kondisi terparah, tanamam bisa stres dan mengalami kematian jaringan.
Untungnya, aku hanya menangis di kamar. Disaksikan oleh dinding-dinding bisu yang hanya bicara dalam diam. Dipantau oleh langit-langit kamar layaknya CCTV tanpa suara yang terdengar jika rekaman diputar.
Aku memandang angka-angka yang terpajang di dinding kamar. Hari ini, adalah hari kedua sejak tembok pembatas yang penuh kebencian pada Ayah terbangun. Mungkin, tingginya sudah setengah meter jika diukur. Walaupun masih berupa batu bata yang tersusun, ia sangat kokoh. Sekokoh sikap Ayah dalam bekunya, tanpa sapa, tanpa tutur kata, dan tanpa canda tawa.
Masih ada waktu dua hari lagi, termasuk hari ini. Siapa yang akan bertahan dalam kebekuan? Meskipun aku dan Ayah bernaung di bawah atap yang sama, sepertinya dunia kami jauh berbeda. Aku bagaikan pesakitan. Ayah bagaikan diktator yang menguasai segalanya. Sikapnya, memperkuat pondasi yang kubangun.
Bukan tidak mungkin, pembatas tegas yang tak sengaja tercipta menjulang sangat tinggi. Setinggi harga diri Ayah. Apa pun yang diucapkan seperti vonis di suatu pengadilan tanpa kesempatan banding. Langsung eksekusi dengan harga mati.
Mungkinkah Ayah juga punya tembok serupa dengan yang kubangun? Yang tingginya juga selangit. Tembok yang terjaga agar tidak runtuh? Atau sebagai simbol kekuasaan, kekuatan, dan pengendali orang-orang yang berada di sekitarnya? Termasuk aku.
Kulingkari satu angka yang menjadi batas waktu kebekuan itu. Angka di hari keempat. Meskipun berat, aku harus bisa membongkar batu bata kekesalan yang sudah tersusun berlapiskan semen rasa luka di hari keempat nanti jika suasana masih beku, masih dingin, sebeku dan sedingin es kutub.
Aku akan menunggu sampai batas waktu terakhir itu tiba. Tak peduli, meskipun aku dianggap oleh Ayah telah menyadari suatu kesalahan. Tak peduli, walaupun Ayah pada akhirnya merasa menang atas sikap arogannya.