Dua benda kaca yang terbuat dari pasir kuarsa, soda abu, dan batu kapur itu tertata rapi di nampan plastik, di meja dapur. Ibu mengisinya dengan minuman beraroma melati. Wanginya semerbak kala aku mengambil air putih di dekatnya. Tak biasanya Ibu menyiapkan minuman siang hari begini. Biasanya, beliau membuat minuman itu pagi dan sore hari saja.
Ternyata minuman itu untuk Om Burhan. Dia adalah adik kandung Ayah yang tinggal di dekat kota pelajar. Aku melihatnya saat disuruh mengantarkan minuman yang dibuat oleh Ibu di dapur tadi.
“Sayangnya, anak pertama kamu perempuan!” ucap Ayah ketika aku beranjak dari ruang tamu.
Ingatanku langsung tertuju pada anak Om Burhan. Benar kata Ayah, anak pertama Om Burhan perempuan. Maksudnya apa? Aku juga anak perempuan pertama di keluarga ini. Adikku nomor dua, laki-laki.
Apa ada yang salah dengan anak pertama perempuan? Apa ada kutukan, bernasib sial, atau kurang senang, jika anak pertama perempuan? Jangan-jangan, anak Ayah yang pertama benar-benar adik laki-laki, bukan aku.
Walaupun benak penuh dengan pertanyaan, aku tak berani menguping pembicaraan Ayah dan Om Burhan. Apalagi, aku ada tugas sekolah yang belum selesai. Tadi ke dapur niatnya ambil minum saja, lalu langsung kembali ke kamar jika Ibu tidak meminta tolong mengantarkan dua gelas teh itu. Aku pun segera kembali ke kamar untuk melanjutkan tugas pelajaran Fisika.
Meskipun berusaha fokus pada tugas sekolah, pikiranku tak berhenti pada ucapan Ayah di ruang tamu tadi. Buku tulis dan buku cetak kubiarkan terbuka di meja, tak disentuh. Hanya pensil yang berulang kali aku mainkan. Kadang diketuk ke meja, digigit, diputar di atas meja, bahkan hampir kupatahkan jika mengingat momen-momen pendukung dugaan itu, aku bukan anak kandung Ayah dan Ibu.
Rasanya, seluruh ruangan di rumah ini hanya kamarku yang paling nyaman. Walaupun, di dalamnya, seolah-olah hanya ada suasana malam yang sangat gelap gulita. Kondisi yang mengaburkan pandangan mata, tak dapat secara jelas melihat benda apa saja yang ada di sekitar.
Ah, suasana ini makin meninggikan bangunan tembok pembatas. Hari ini, sudah memasuki hari ketiga sejak kejadian tempo hari saat aku dikurung Ayah di kamar selama beberapa jam. Apakah karena aku anak perempuan, lantas Ayah bebas memberi sanksi dan hukuman lebih berat kepadaku daripada adik?
Atau, apa karena aku sudah lebih besar? Lebih tua dari adik? Hingga Ayah lebih memprioritaskan dia daripada aku dalam segala hal. Mana dugaan yang mendekati benar?
Kepalaku mendadak berdenyut. Keringat dingin membasahi pakaian. Jantung terasa berdetak lebih cepat dari biasanya saat kuraba di dada. Sepertinya, aku terlalu memaksakan diri memikirkan sesuatu yang bukan kapasitasku.
Hingga menjelang sore, aku hanya berdiam di kamar. Ibu juga tak menegur atau minimal mengingatkan agar aku makan siang. Sepertinya, Ibu dan Ayah masih mengobrol dengan Om Burhan. Eh, Pak Burhan, karena statusku belum jelas, anak siapa? Jika ternyata bukan anak kandung Ayah, tentu Om Burhan itu bukan om aku. Begitu logikanya.