Dirgantara

Dewi Fortuna
Chapter #4

Bab 4

Sepoi angin sore hari itu menjadi medium terbaik yang merambatkan suara Ayah dan Om Burhan di teras belakang. Meskipun udara yang bergerak ini tergolong paling lemah bila dibandingkan dengan dua jenis medium lainnya dalam hal merambatkan bunyi, tapi ia yang paling berjasa saat ini, membawa gelombang bunyi dari sumbernya, yaitu suara Ayah ke telingaku.


Samar-samar, Om Burhan menyahut ketika Ayah memberikan pernyataan tentang anaknya. Aku sigap menguping.


Om Burhan bilang, anaknya yang terlahir istimewa bukan suatu aib keluarga. Tuhan pemberi takdir atas diri manusia akan memiliki anak seperti apa. Bukan ranahnya untuk ikut menentukan anak di rahim istrinya. 


Aku membenarkan ucapan Om Burhan. Seperti aku juga, mana mungkin bisa pesan agar jadi anak laki-laki saja. Ayah memang terlalu tinggi bicaranya jika mencela anak Om Burhan. 


Meskipun awalnya aku takut pada anak Om Burhan karena dia suka menarik-narik lenganku karena dia hanya panggil “mbak” tanpa ada ucapan lainnya. Aku bingung, dia mau apa sebenarnya? Mendengar penuturan Om Burhan, aku jadi merasa bersalah. Harusnya aku senyum saja atau iya-iya saja sebagai bentuk respons terhadap caranya berinteraksi. 


Mendadak sepoi angin merambatkan suara lantang Ibu.


“Sih! Asih!” 


Ibu memanggil saat topik obrolan Ayah dan Om Burhan sedang seru-serunya. Mau tak mau aku undur diri dari menguping. Daun-daun yang belum terbakar sempurna aku jadikan satu dan meletakkannya di atas pusat perapian, di bagian tengah. Dengan begitu, meskipun tidak ditunggui daun akan terbakar sendiri, terutama bila ada embusan angin.


Aku bergegas menemui Ibu. Rupanya beliau ada di dapur. 


“Nih, cuci yang bersih,” pinta Ibu seraya menyerahkan wadah berisi beras, “yang itu juga. Guyur di air yang mengalir.”


Aku melaksanakan perintah Ibu tanpa banyak bicara. Beras dan kol yang sudah dilepas helaiannya aku cuci sebersih mungkin. Di samping wastafel, ada wortel dan racikan bawang merah-putih. Daun seledri dan daun bawang juga tersedia di mangkuk kecil. Sepertinya Ibu akan memasak sayur sop. Sayur kesukaan aku. Apalagi jika diberi bakso, pasti makin lezat rasanya. 


Pikiranku kembali ke ucapan Ayah, tentang beban keluarga. Apa aku juga jadi beban keluarga Ayah dan Ibu? Setiap hari aku mendapat uang saku jika ke sekolah. Ponsel beserta pulsa dan kuotanya diberi oleh Ibu. Pakaian, segala keperluan sekolah, bahkan makanan, aku mendapat secara gratis di rumah ini. 


Jika benar aku hanya anak pancingan, semua pemberian Ayah dan Ibu padaku memang jadi beban. Ah, apa benar aku bukan anak kandung mereka?

Lihat selengkapnya