Di hari keempat ini, terhitung tanggal terbaru. Tanggal yang menjadi awal kami berdiam diri kembali. Tanggal yang mengawali membangun tembok pembatas jauh lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Tembok yang membuat jarak antara aku dengan cinta pertama anak perempuan, sang ayah.
Apa boleh buat? Kata-kata telah terucap. Mengiris tajam hingga pedihnya tak jauh beda dengan teriris belati. Mungkin, hatiku telah mati rasa karena sayatan-sayatan perih itu terlalu sering menyisakan bilur-bilur yang luka di dalamnya tak terukur.
Integritas diri yang telah jatuh kala itu, kembali runtuh meskipun telah kubangun dari serpihan luka. Kini, berserakan, menguap tanpa bekas. Seperti lantai basah yang telah dikeringkan. Seperti bersihnya lantai yang baru saja aku keringkan dari tumpahan air cuci tangan.
Ibu yang mengambil air untuk cuci tangan pengganti. Sedangkan aku? Aku tak tahu harus berbuat apa kala itu. Mungkin, masuk ke kamar adalah pilihan terbaik satu-satunya daripada mengacaukan acara makan malam Ayah dan Om Burhan.
Lampu kamar utama sengaja tak kunyalakan. Aku memakai lampu tidur untuk penerangan. Tuhan, berikan aku petunjuk. Peristiwa demi peristiwa makin kuat mengarah ke sana, ke dugaan bahwa aku hanya anak pancingan. Benarkah aku bukan anak kandung Ayah dan Ibu? Jika aku hanya anak pancingan, biarkan aku keluar saja dari rumah ini.
Biarkan hanya Seno yang disayang mati-matian oleh Ayah. Mungkin benar, aku hanya anak pungut. Tak semestinya menuntut macam-macam. Sudah dibesarkan, diberi makan, dan fasilitas tempat tinggal saja sudah beruntung daripada hidup di jalanan.
Dulu, sebelum Seno lahir, Ayah dan Ibu sangat baik padaku. Setiap hari Ayah selalu mengobrol tentang dunia. Terkadang Ayah bercerita tentang masa mudanya. Kadang beliau membahas perihal pejabat yang tertangkap tangan oleh aparat akibat menggelapkan uang rakyat. Kadang, beliau membahas konspirasi politik yang sedang terjadi di dalam negeri. Hingga seluk beluk uang negara yang bisa dikorupsi.
Tak ketinggalan, pimpinan negeri yang kurang kompeten juga dibahas habis-habisan. Segala kebijakan yang menurut Ayah kurang bijak tak luput dari kritikan Ayah. Terutama, kebijakan yang mengatasnamakan rakyat kecil, tapi justru rakyat kecil yang paling tercekik. Sungguh ironis.
Aku selalu tertarik pada kisah yang diceritakan Ayah. Terutama pengalaman pribadinya saat terjebak dalam “lingkaran mematikan,” aku menyebutnya demikian. Sebab saat itu Ayah seperti berpijak di atas bara api. Dari Ayah aku tahu, alur uang rakyat yang seharusnya untuk rakyat, bisa masuk kantong pribadi tanpa terendus Komisi Pembasmian Korupsi (KPK). Huh! Sangat disayangkan!
Kala itu, Ayah sedang mengajukan dana ke provinsi untuk pengembangan beberapa desa. Warga yang terpilih akan menerima dana itu. Lalu, mereka akan bergantian memberikan hasil dari usaha yang diprogramkan kepada warga lainnya. Hingga warga di desa dapat maju bersama, dapat meningkat kesejahteraannya.
Menurutku, itu program yang sangat bagus karena bisa menaikkan level masyarakat ke atas garis kemiskinan. Namun, niat dan program baik tersebut tercederai ketika Ayah meminta tanda tangan pejabat di kota kabupaten.
“Kalau di-acc, kau mau kasih aku berapa?” Begitu tawaran yang berlaku di “lingkaran mematikan.”
Secara tidak langsung, Ayah seperti mencurikan dana segar dari pusat untuk pejabat di daerah. Ayah bisa apa, selain mengelus dada? Mau menolak, proposal yang diajukan tidak akan pernah bisa diproses. Setuju, bagaikan makan buah simalakama. Serba sulit. Pelajaran berharga buat aku karena mendapat informasi langsung dari “korban” tindak korupsi.
Yah, meskipun saat aku cek di website tak ada berita yang Ayah ceritakan, aku percaya.
Bagiku, Ayah sumber informasi tervalid dan topik bahasan Ayah sering ada di media sosial seolah-olah Ayah adalah wartawan yang meliput segala berita. Ah! Momen itu sepertinya sudah berakhir, hilang, dan tak akan ada lagi.
Sejak Seno lahir, Ayah lama-lama berubah sikap. Sepertinya tak ada lagi topik menarik yang dibahas berdua denganku. Walaupun saat Ayah menerangkan padaku, aku lebih banyak diam, menyimak. Kini, itu semua terkubur dalam-dalam. Bagaikan hilang tanpa bekas. Tergantikan oleh amarah Ayah yang meledak-ledak.
Aku meraih ponsel, membuka aplikasi Facebook dan Instagram secara bergantian. Tak ada berita yang menarik. Hanya postingan beberapa kawan. Postingan galau. Apa aku posting saja kekesalan ini di media sosial? Minimal, bisa terbuang beban yang kian hari kian memberatkan langkah.
Kutulis satu kalimat di akun Instagram.
[Jika langit di atas itu masih terang bagi orang-orang, sementara kini terasa gelap bagiku, apakah artinya aku telah mati sebelum waktu terhenti?]