Dismiss

Rima Selvani
Chapter #1

Prolog

Entah waktu yang tidak bekerja,

atau memang aku yang sengaja tak ingin melupa.

10 Oktober 2020

Keyra Derandra Gabriella

Biasanya keluarga dan teman-temanku memanggilku Key. Aku seorang perempuan tulen, anak kedua dari empat bersaudara. Aku pernah bertanya pada pada ibuku, kenapa aku diberi nama Keyra, lalu dia menjawab “kamu, adalah kunci kebahagiaan ayah dan ibu.”

Nama Derandra adalah nama gabungan dari kedua orangtuaku. Dera yang di ambil dari nama ibuku dan Andra dari nama ayahku. Sedangkan Gabriella, aku tak tau apa artinya, karena saat aku bertanya pada ibuku, ia menjawab jika nama itu hanya sebagai pemanis.

Ibuku memiliki nama lengkap Derani. Tetapi, biasanya para tetangga sering memanggilnya dengan sebutan ibunya Keyra. Ibuku adalah orang yang paling baik sedunia, menurutku. Ketika para tetangga saling memuji anak tetangga lain, ibuku justru hanya diam. Waktu itu kutanya, “Kenapa ibu tak ikut membanggakan anak-anak mereka?”

Lalu ibu menjawab “jika ibu memuji anak mereka itu tandanya ibu tidak bangga terhadap anak ibu sendiri, yah...meskipun kamu nakal, kamu tetap anak ibu.”

Jawaban ibu saat itu, membuatku tau, mau seburuk apapun aku ia akan tetap menyayangiku. Meski setahun setelah berkata seperti itu, ibu meninggalkan aku, ayah dan ketiga saudaraku. Memang benar kata orang, orang baik akan cepat dipanggil oleh tuhan. Karena tuhan tak ingin mereka terlalu lama menderita dan berbuat dosa di dunia.

Ayahku Andra, seorang pekerja keras yang sangat sabar. Aku tak tahu, entah terbuat dari apa hati ayah. Ia sudah terlalu sering direndahkan oleh kerabat yang lainnya, tetapi tak pernah sedikitpun ia berpikir untuk membalas mereka. Ayah terlalu sabar, sampai-sampai aku merasa tak yakin apakah aku ini benar anaknya. Aku adalah orang yang memiliki sifat jauh dari kata sabar.

🐚

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Aku segera menutup layar laptopku saat Riana, kakak perempuanku masuk ke dalam kamar dan bertanya apa yang sedang aku lakukan. Aku jelas panik, karena saat ini aku sedang menulis sebuah cerita. Cerita tentang kenangan yang kini membuatku tersenyum ketika mengenangnya. Aku malu, aku tak ingin ada seorangpun yang mengetahui.

“Aku? Oh, ini aku sedang mengedit tulisan salah satu penulis,” bohongku.

Sudah setahun lebih aku lulus kuliah. Mendapatkan gelar sarjana sastra. Tetapi, masih saja tak menemukan pekerjaan tetap. Entah karena aku yang terlalu pilih-pilih pekerjaan atau memang kesempatan untukku memang belum datang. Meski begitu, sesekali aku menerima job partime sebagai editor pada salah satu penerbit.

“Kamu mau kemana?”

Kemana? Aku saja tau tahu kekasihku yang satu itu ingin membawaku kemana. Ia hanya memberitahuku untuk bersiap-siap. Sebagai kekasih yang baik aku tentu mendengarkan ucapannya. Memberi kepercayaan penuh kepadanya. Aku tau, kemanapun itu, bila bersamanya yang ku dapatkan adalah bahagia.

“Rahasia dong,” Jawabku.

Riana mengerutkan alis mendengar jawabanku. Lalu setelahnya ia menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari kamar, kembali membiarkanku sendiri.

Aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan sudah tak ada lagi orang di dekatku. Kembali, aku mengetik lanjutan cerita yang terhenti begitu saja saat Riana datang. Aku kembali membaca cerita yang kutulis saat aku menyadari ada beberapa kesalahan tulis di sana. Aku salah dalam mengeja namanya, nama seseorang yang sangat aku hafal di luar kepala.

Mahesa Putra Megantara

Sudah, namanya sudah tertulis sempurna. Tanpa kesalahan sedikitpun. Aku tersenyum ketika mengingat namanya lagi.

Ponselku berdering. Kekasihku yang memanggil.

“Iya, aku segera turun...”

Setelah menutup sambungan telepon aku segera berdiri dan berlari kecil keluar. Aku tak ingin ia menunggu terlalu lama. Bukan karena ia orang yang tak sabaran, hanya saja ia sudah terlalu sering aku buat menunggu.

🐚

“Maaf, kamu udah dari tadi nunggu di luar?” tanyaku.

“Hmmm... gak juga,” katanya ragu.

Lihat selengkapnya