Dimataku, kamu terlalu sempurna. Tak ada celah, tak ada cacat.
Tapi kenapa? Terlalu banyak yang menentang kita.
Apa karena aku yang tak pantas?
Namanya Gerhana.
Lengkapnya Gerhana Mahatama. Tak ada yang istimewa dari nama itu, jika orang yang mendengar tak mengenalnya. Tapi, jika kalian bertanya padaku tentangnya sudah pasti aku akan berkata dengan lantangnya.
“Nama itu, nama lelaki yang aku cintai!”
Aku tak tau sejak kapan aku mulai jatuh cinta terlalu dalam padanya. Aku pikir bukan saat kami pertama bertemu, karena aku bukan termasuk orang yang percaya pada cinta pandangan pertama. Mungkin, saat ibuku pergi dari hidupku dan Gerhana adalah satu-satunya manusia yang mengeluarkanku dari jurang kesengsaraan. Aku pikir saat itulah aku jatuh cinta padanya. Tetapi, entahlah...aku tak tau pastinya. Jika aku ingat kembali, terlalu banyak badai yang datang menerpa hubungan kami dan Gerhana selalu menjadi orang yang menguatkan.
Aku ingat sekali, pertama kali badai besar itu datang. Tepatnya pada pertengahan tahun 2015. Aku yang sedang disibukkan dengan ujian kelulusan, justru dilanda dengan masalah lain. Ayahku, orang yang sangat aku sayangi menentang hubunganku dengan Gerhana.
“Kamu pacaran sama Gerhana, Gerhana itu?” ucap ayahku.
Saat itu, aku lihat, mata ayah yang menampilkan amarah. Ayahku, tak pernah semarah ini. Dulu aku pernah mendapat rangking terakhir di kelas karena sering bolos sekolah, ayah tak marah. Tapi kenapa? Hubunganku bersama Gerhana yang aku pikir masih sekedar untuk main-main ditentang begitu keras olehnya.
“Kenapa yah?” hanya pertanyaan itu yang keluar pertama kali dari bibirku. Aku tak tau, alasan apa yang membuat ayah begitu menentang hubunganku dan Gerhana. Karena ayah tak menjawab pertanyaanku sama sekali. Ayah hanya mengucapkan sebuah ancaman.
“Kalau kamu masih berhubungan dengannya, jangan anggap ayah ini ayahmu,”
Perkataan ayah saat itu, sampai sekarang masih terpatri jelas diingatanku. Ayah, mampu berkata seperti itu hanya karena aku dan Gerhana bersama.
🐚
Gerhana, orang yang menghiburku saat semua orang yang seharusnya ada melupakanku. Bahkan, saat hari terhancurku. Aku ingat sekali kata-katanya saat itu.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Gerhana, saat kami berada diperjalan pulang ke rumahku.
Saat itu, entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja guru memanggilku dan memintaku untuk segera pulang. Perasaanku tidak enak, aku tau ada hal buruk yang terjadi. Aku menangis saat tak ada satu orangpun dari keluargaku yang datang menjemput, Gerhana yang bukan siapa-siapa justru hadir. Mungkin keluargaku saat itu sedang sibuk mengurus pemakaman ibu. Sementara aku tidak tau sama sekali keadaan ibu, hanya menangis.
“A-aku nggak tau, perasaanku gak enak dan air mata ini keluar dengan sendirinya,” ucapku masih tergugu.
“Kamu harus kuat, aku tau kamu kuat. Jangan nangis ya, sekarang kita pulang!”
Aku pikir, Gerhana hanya ingin membuatku berhenti menangis dengan mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Tapi, ternyata bukan hanya karena itu. Sahabatku, Amelia bilang jika Gerhana sudah tahu terlebih dulu tentang ibuku yang meninggal. Hanya aku yang tak tau apa-apa.
Setelah mengantarku dengan selamat, Gerhana tersenyum. Senyum yang mampu menghangatkan jiwaku. Meski sesudah kepergiannya perasaan khawatir kembali hadir.
Aku menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke kota tempat ibuku biasa melakukan pengobatan. Enam jam perjalanan aku habiskan untuk menangis, menangisi hal yang masih tak kuketahui. Lalu, kekhawatiranku terjawab. Bendera putih telah tertancap di rumah yang ibu huni selama sakit. Aku tak lagi bisa menangis. Aku tau, ibu sudah terlalu banyak menderita karena sakit yang ia derita. Ibuku kalah melawan kanker yang menggerogotinya. Tapi, setidaknya ia tak lagi merasakan sakit berulang kali karena kemoterapi.