Tampaknya aku tak benar-benar mengenali kamu.
Kamu sosok yang memiliki dua kepribadian dalam satu tubuh.
Genap dua bulan aku berada jauh dari tempat aku dilahirkan. Dua bulan sudah aku disibukkan dengan urusan kuliah. Selama dua bulan pula aku berusaha menjaga jarak dari Gerhana. Aku ingin berhenti mencintainya. Salah satu cara agar aku bisa berhenti mencintainya adalah dengan cara mencintai orang lain. Karena tak mungkin ‘kan ada dua orang dalam satu hati.
Gerhana masih tetap menghubungiku, hanya saja aku terlalu sering mencari alasan untuk menjauh. Kadang, ketika ia menelfon aku sengaja tak angkat dan besoknya mengatakan padanya jika aku sudah tidur. Atau saat ia menelfon aku berbohong dengan mangatakan banyak tugas. Padahal, masa awal perkuliahan adalah masa yang paling jauh dari kata tugas. Semua itu aku lakukan karena tujuan awalku berada disini, yaitu melarikan diri dari Gerhana.
Aku memutuskan untuk tinggal di sebuah kos-kosan sederhana. Satu kamarnya diisi oleh dua orang. Aku sekamar dengan seorang gadis cantik yang bernama Lara. Lara Deanita lengkapnya. Dia gadis yang cukup percaya diri menurutku, mungkin karena dia cantik. Kulit putihnya sempat membuatku iri dan menyesali kulit sawo matang yang kupunya. Lara adalah gadis yang ceria dan sedikit blak-blakan dan hal itulah yang membuat kami cocok satu sama lain.
Malam itu, entah apa yang membuat aku dan Lara nekat keluar malam. Melanggar aturan kos yang berisi dilarang keluar lebih dari jam sembilan malam. Kami memutuskan untuk mencari makanan di luar. Makan disebuah tempat makan khas jepang yang ada di Padang. Lalu setelahnya memutuskan untuk sekedar mencari angin di tepi pantai. Sungguh kurang kerjaaan, untuk apa mencari angin malam-malam.
“Kamu tau jalan ke pantai Padang?” tanyaku pada Lara yang mengemudikan motor matic miliknya.
“Aku lupa-lupa ingat sih, kan juga baru dua bulan disini. Jalan aja dulu Key, nanti juga nyampe sana,”
Aku mengangguk setuju. Setidaknya, melihat pantai aku bisa melupakan Gerhana meski sejenak.
Aku diam dan Lara juga fokus mengendarai motor. Sesekali aku teringat Gerhana. Akan sangat menyenangkan rasanya jika aku dan Gerhana berboncengan malam-malam seperti ini ditemani oleh lampu jalan yang temaram dan juga suasana di tepi pantai. Sungguh romantis.
Anganku terlalu tinggi. Gerhana takkan mungkin kemari. Dia juga memiliki pekerjaan disana, yang sudah pasti lebih penting dariku.
“Key, kamu mikirin apa sih?”
Aku kaget. Lara tiba-tiba saja mengguncang badanku.
“Kamu kenapa Ra? Aku kaget tau,” ucapku.
“Harusnya aku yang tanya. Kamu mikirin apa sampe gak sadar kalo kita udah sampai,”
Refleks aku melihat keadaaan sekitar. Benar saja ucapan Lara, kami sudah sampai tepat di pantai yang bertuliskan kata Padang. Ini adalah salah satu ikon di Padang.
“Jadi selama perjalanan aku melamun?” monologku dalam hati.
“Gak ada Ra, aku gak mikirin apa-apa. Yuk turun, aku gak sabar pengen lihat suasana pantai di malam hari,” ucajrku sekedar menjawab tanya Lara.
Aku dan Lara memutuskan untuk duduk di salah satu tenda penjual makanan yang ada di dekat sana. Memilih tempat yang tepat untuk melihat pantai dan langit di malam hari lebih jelas. Sangat indah, karena dari situ, aku bisa melihat ribuan bintang bertebaran. Hatiku lega, meski Gerhana tetap ada.
🐚
“Key, kamu lihat gak empat orang cowok itu?” tanya Lara.
Refleks aku berbalik. Melihat orang yang ia maksud. Aku tersenyum menggoda. Bisa-bisanya disaat seperti ini ia melirik para lelaki itu. Meskipun aku akui, disana ada beberapa orang yang cukup menarik.
“Lihat, kenapa?” tanyaku balik.
“Aku mau kenalan,” bisik Lara tepat ditelingaku.
Aku tertawa. Menertawakan Lara. Ternyata, bukan hanya sifat blak-blakan kami saja yang sama, ternyata aku dan Lara juga sama-sama tukang modus.