Dismiss

Rima Selvani
Chapter #4

Sunset

Mengharapkanmu menjadikanku seseorang yang bukan aku.

“Key, kamu mau gak nanti main ke pantai air manis?”

Pertama membuka mata di pagi hari aku sudah disuguhkan dengan pertanyaan seperti itu. Apa Lara tak bosan setelah semalam baru saja kami mengunjungi pantai? rutukku dalam hati. Tampak tak ada lelah baginya. Sejujurnya aku juga bosan, tak tahu harus kemana. Tak ada yang bisa aku lakukan selain rebahan dan menonton drama Korea. Tapi, bertubi-tubi mengunjungi pantai, bisa saja membuat badanku kembung karena masuk angin.

“Mau ngapain ke sana Ra?” tanyaku. Ku lihat Lara sedang tersenyum sendiri. Oh tuhan, tampaknya anak ini kesambet setan di pantai tadi malam. Lara tak henti juga tersenyum setelah aku pelototi, dia justru memperlihatkan ponselnya. Ponsel yang menampilkan sebuah pesan dari Pradipta.

What?” teriakku saat itu juga. Aku kaget bukan Main. Secepat itu mereka dekat, padahal baru saja kemarin kenal. Pradipta lelaki ganteng yang hari ini juga aku beri gelar sebagai predator. Seenak jidatnya mengajak Lara dan aku untuk pergi ke pantai air manis. Aku bahkan tak yakin mereka itu benar-benar seorang mahasiswa atau kriminal.

“Jadi kamu mau jawab apa Ra?” tanyaku lagi setelah meredakan beberapa pertanyaan yang ada di benakku. Lara belum menjawab ajakan Pradipta. Sepertinya ia meminta persetujuanku terlebih dahulu baru bisa memutuskan akan menerima atau justru menolak.

“Aku bosan dikos Key. Ayolah sekali-sekali apa salahnya,” bujuk Lara. Aku juga bosan. Tapi, rasanya terlalu cepat untuk percaya pada mereka.

“Kamu yakin Ra?”

Lara mengangguk. “Aku naksir Pradipta, jadi please Key... kita ikut ya,”

Aku terperangah. Secepat itu Lara jatuh cinta. Aku saja masih berlarut memikirkan Gerhana, padahal sudah dua bulan lebih putus. Sedangkan Lara belum genap seminggu ia putus dengan pacarnya di kampung. Mungkin ini bedanya aku dan Lara.

Diam. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Memikirkan kemungkinan baik dan buruk yang akan terjadi jika menyetujui ajakan Lara. Aku ingin menolak tapi tak jadi kulakukan saat melihat mata memohon milik Lara.

“Oke, oke. Untuk kali ini aja Ra. Heran aku sama kamu, kok bisa secepat itu move on dari Agung,” ucapku. Bahkan kini raut wajah Lara biasa saja mendengar nama mantan pacarnya aku ucapkan.

“Jadi jam berapa berangkatnya?” tanyaku lagi. Memastikan waktu, agar cukup untukku bersiap-siap.

“Jam tiga. Kita ketemuan di pantai Padang,”

Informasi itu sudah cukup bagiku untuk mengangguk-anggukan kepala. Membuka ponsel milikku lalu mencari media sosial Pradipta dan kawan-kawan. Setidaknya sebelum pergi aku harus memastikan mereka memang bukan seorang kriminal

“Ra, coba liat ini deh. Ini Pradipta ‘kan?

Aku memperlihatkan ponselku yang kini sedang menampilan beranda facebook milik Pradipta. Tetapi, yang menjadi pusat perhatianku bukanlah status atau foto yang ada disana. Melainkan sebuah tulisan tentang status hubungan berpacaran yang terpampang jelas. Pradipta sudah memiliki pacar, itu asumsiku.

“Coba scroll lebih banyak Key,” Lara tampak penasaran tentang hubungan asmara Pradipta. Normal, jika Lara penasaran dan ia harus segera mencari tahu kebenaran sebelum terlanjur dalam menyukai Pradipta.

Aku masih mencari informasi tentang mereka. Dilihat dari terakhir akun milik Pradipta membuat status sepertinya akun ini sudah lama tak aktif. “Statusnya udah lama semua sih Ra,” jelasku. Memberitahu info yang ingin Lara dengar. Lara tersenyum tampak bahagia dengan info yang aku berikan.

“Ada harapan kalo gitu. Bisa aja itu akun udah lama gak aktif kemungkinan Pradipta dan pacarnya itu udah putus,” Aku tertawa geli, mendengar asumsi Lara yang sedikit memaksa. Harusnya ia mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu berharap, ini justru menggali harapan terlalu dalam. Kalau sempat terpuruk dan gak bisa bebas ‘kan jadi susah sendiri.

Stalking akun Pradipta sudah. Kini, aku harus mencari tahu soal Mahesa. Tidak, kalian tak bisa mengira aku menyukai Mahesa. Aku hanya ingin mencari tahu lebih dalam soal lelaki aneh itu. Lagian mana mungkin aku jatuh cinta pada Mahesa sedangkan dihatiku masih ada Gerhana. Aku masih sangat mencintainya.

“Mana sih, kok gak nemu,” Aku kesal pada ponselku, pada diriku sendiri dan pada kolom pencarian facebook yang tak kunjung memunculkan profil Mahesa. Sudah satu jam lebih rasanya aku mencari, tapi tak kunjung kutemukan.

“Kamu nyari apa sih Key?” tanya Lara yang kini sedang sibuk memilih baju. Ia sudah selesai mandi sedari tadi. Jam sudah menunjuk angka dua, tandanya waktuku untuk segera mandi dan bersiap.

“Itu...” Aku sengaja menjada ucapanku. “Aku gak nemu akun facebook Mahesa,”

Lara tertawa sangat kencang. Entah apa yang ia tertawakan, kekesalanku bertambah dibuatnya. “Kamu kenapa ketawa?”

Bukannya mendapat jawaban, Lara justru makin menambah volume suaranya. Tertawa semakin keras. “Kamu yakin gak tertarik sama Mahesa?” ejek Lara disela tawanya. Aku bingung apa maksud dari pertanyaannya. Apa korelasi antara aku yang kesal karena tidak menemukan akun facebook Mahesa dengan aku yang tidak tertarik padanya?

Aku benar-benar kebingungan dan sepertinya karena melihatku yang kebingungan Lara mulai berusaha meredakan tawanya. “Kamu beneran bego, atau sengaja nutupin perasaan kamu sendiri sih Key?”

Woah...berani sekali dia mengataiku bego, makiku dalam hati. Harusnya Lara menjelaskan kepadaku, bukannya mengataiku bodoh dan sebagainya.

“Kamu tau kenapa aku ngomong gitu?”

Aku menggeleng dengan polosnya. Masih diam menanti ucapan Lara selanjutnya. “Sikap kamu itu nunjukin kalo kamu sebenarnya tertarik sama Mahesa,” terang Lara.

“Tertarik gimana sih? Aku cuma mau mastiin orang yang bakalan pergi sama kita ini beneran orang baik atau enggak,” dalihku, berusaha menampik ucapan Lara.

“Lagian...”

“Kamu masih mencintai Gerhana?” Lara sengaja memotong ucapanku dan dia sukses membuatku kalah telak.

“Yaudah, buruan mandi. Nanti kemalaman nyampe pantainya,” Aku berlari pergi ke kamar mandi setelah mendapat perintah seperti itu dari Lara. Mempersiapkan diri bertemu Mahesa si dispenser berjalan.

 

🐚

Langitku tak lagi biru. Perpaduan warna orange dan abu-abu menjadikan mereka terlihat sangat mesra. Menyatu, membuat pantai beserta aku yang menyaksikan matahari tenggelam merasa iri. Meski hanya singgah sebentar, warna orange yang berpendar dilangit abu-abu itu mampu melekat lama dingatanku, menjadikannya salah satu kenangan paling manis yang pernah aku alami. Tidak lagi bersama Gerhana namun, Mahesa.

Perjalan dari kos ke pantai air manis terlalu memakan waktu, ditambah lagi empat orang lelaki yang mempunyai jam karet. Janjian jam tiga, mereka justru datang jam empat. Untung saja aku masih sempat melihat matahari terbenam yang indah ini.

“Kalian gak mau foto berdua,”

Itu bukan aku. Suara itu berasal dari Lara si ratu modus. Entah apa alasannya menawari aku dan Mahesa untuk foto bersama dengan latar matahari terbenam yang sangat indah itu. Hatiku masih dimiliki Gerhana, masih tak ingin membuat kenangan bersama yang lain. Aku tak berniat membuat pengecualian.

Lihat selengkapnya