Dismiss

Rima Selvani
Chapter #5

Lose

Memintamu untuk tetap tinggal adalah hal paling egois.

Tapi, membiarkanmu pergi membuatku tak mampu berpikir logis.

“Dia siapa Key?”

Aku melupakan kejadian hari ini saat mendengar suara Gerhana yang tenang namun menusuk ulu hati. Padahal ia hanya bertanya siapa lelaki yang bersamaku, tetapi wajahnya yang kini hanya bisa kulihat dari layar ponsel membuatku tak bisa berkata apa-apa. Wajah itu, wajah yang sampai kapanpun mungkin tak akan bisa aku lupakan. Gerhana tersenyum, senyuman yang untuk sekarang entah benar-benar tulus atau sekedar penjawab tanya bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

“D-dia...” aku tergagu, tak bisa menjawab tanya. Padahal mudah saja, aku tinggal menjawab jika lelaki yang di foto bersamaku itu adalah Mahesa teman baruku, sesudah menjawab itu pasti selesai dan tak ada lagi masalah. Tetapi, sebuah perasaan ingin kabur dari Gerhana membuatku bingung.

Gerhana masih menatap mataku. Aku tau, ia ingin aku berbicara yang sejujurnya. Mengatakan kebenaran yang mungkin akan menyakitinya. “Dia Mahesa, teman baruku,” jawabku akhirnya. Aku tak berbohong ‘kan? Mahesa memang hanya temanku, meski mungkin aku sudah mulai menyukainya sebagai lelaki.

Gerhana tersenyum. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak tersenyum. Aku tak pernah percaya dengan senyumannya, dia terlalu banyak menyembunyikan luka. “Kamu yakin cuma teman?”

Aku mengangguk canggung, tak yakin dengan jawaban yang aku berikan. Tampaknya Gerhana tau sesuatu, atau bahkan dia sudah membaca gelagatku. “Aku kenal kamu Key, kamu yang aku kenal gak bakalan mau foto berduaan aja sama cowo yang kamu baru kenal. Kamu itu type orang yang bakalan nerima seseorang kalau udah nyaman,” ujar Gerhana, dan saat itu juga aku kalah telak.

Aku terdiam. Menyangkal ‘pun rasanya salah, karena Gerhana terlalu mengenalku. Aku takut dengannya yang seperti itu. Terlalu mengetahui segala tentangku sampai-sampai ia merasa tak perlu bertanya langsung apakah dugaannya benar atau tidak.

“Kenapa kamu diam aja? Benar ya dugaanku? Kalau salah kamu bisa menyangkalnya Keyra...”

Mataku berlarian kesana kemari, berusaha menghidar dari matanya yang tajam, sangat tajam sampai aku takut untuk menatapnya kali ini. Aku sudah tertangkap basah, jadi percuma saja bersembunyi. Mungkin, ini cara tuhan untuk menjauhkanku dari Gerhana.

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk jaga-jaga jika suatu waktu aku harus menenggelamkan diriku ke laut jika merasa malu bertemu Gerhana lagi. Dia yang selalu percaya kepadaku, kini harus aku kecewakan. Putus saja belum sampai setengah tahun, dan aku sudah tertarik dengan lelaki lain. Dasar Keyra sialan, aku memaki diriku sendiri dalam hati. Sifat burukku yang harus aku hilangkan, yaitu terlalu mudah jatuh hati.

“Aku nyaman sama dia Na,” akhirnya aku mengaku. Bukannya aku ingin kabur, aku hanya tak ingin membohongi Gerhana dan juga diriku sendiri. Saat ini harapanku untuk bersama Gerhana hanya sepuluh persen, dan aku tak ingin membuatnya membuang-buang waktu berharap padaku yang tidak pasti. Biar saja aku terlihat jahat, asal Gerhana mendapatkan yang lebih baik dariku.

“Aku tau itu,” ujar Gerhana lagi. “Maksud aku, selain nyaman. Apa ada perasaan lain?”

Aku mengangguk, pasrah. Sudah seharusnya aku melarikan diri dari Gerhana, dan Mahesa adalah alasan terbaik bagiku untuk pergi. “Aku menyukainya,” cicitku. Gerhana tak merubah ekspresinya sama sekali, masih tersenyum. Gila. Harusnya dia marah, bukannya tersenyum.

“Tell me about him.”

Tidak, kalian tak salah baca. Itu tadi adalah kata-kata yang Gerhana ucapkan kepadaku saat tau aku menyukai Mahesa. Bukannya mengumpat atau memaki, ia justru memintaku bercerita tentang laki-laki yang bisa aku katakan adalah rivalnya. Atau mungkin, Gerhana sudah tak mencintaiku lagi?

Lihat selengkapnya