Jika ingin pergi tak usah meninggalkan jejak.
Kepergianmu saja sudah mengusik benak.
Mengundang isak yang lambat laun menjadi sesak.
Terang saja aku merasa kesakitan. Seseorang yang aku anggap sebagai obat penenang yang membuatku kecanduan telah pergi, dan aku adalah penyebab ia menghilang. Ikhlas. apa yang harus aku ikhlaskan? Sedari awal aku tak pernah memperjuangkan perasaanku. Selalu menganggap tak membutuhkan apapun selain diriku sendiri. Aku terlalu buta untuk tau cintanya benar-benar setulus itu. Terlalu naif dan berharap ia tak benar-benar pergi.
Gerhana pergi. Kepergiannya menorehkan luka yang cukup dalam tapi hal itu tak bisa membuatku melupakannya. Justru semakin lama ia semaki menempel bagai lintah di pikiranku. Tak ingin lepas dan semakin menyedot kewarasan. Lalu, bagaimana dengan Mahesa? Biasa saja, seperti pertemanan pada umumnya tak ada yang istimewa. Aku saja yang memiliki rasa.
“Key, malam ini kamu ada acara gak?” Suara Lara menyapa indra pendengarku. Memorakporandakan pikiranku yang masih mengenang Gerhana. Sebulan sudah kejadian malam itu berlalu. Malam ketika aku memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengan Gerhana. Aku melarikan diri, dengan alasan tak ingin ia terluka.
“Aku gak kemana-mana, kenapa Ra?”
Lara tak merespon sama sekali jawabanku. Ia bertanya tetapi sibuk sendiri dengan ponsel yang ada di tangannya. Tidak salah lagi, pasti sekarang sedang chatingan dengan Pradipta. Anak itu bucinnya keterlaluan. Aku harus sabar dengan sikap Lara yang sedang kasmaran.
“Kamu gak ada kontakan sama Mahesa?” Tanya Lara lagi yang langsung aku jawab dengan gelengan. Aku bingung, apa gunanya Mahesa meminta nomorku kala itu jika sama sekali tak menghubungi. Lelaki itu bagai hilang ditelan bumi bersamaan dengan perginya Gerhana. Mereka kompak sekali meninggalkanku, dan aku merasa kehilangan. Padahal aku yang meminta Gerhana menjauh. Lagi-lagi Gerhana, ia tak pernah lepas dari ingatanku.
“Dia tak pernah menghubungi aku Ra,” aku mengatakan yang kebenarannya kepada Lara. Lara terkejut mendengar apa yang aku ucapkan, matanya membola seperti baru saja melihat hantu. Padahal apa yang aku ucapkan bukanlah hal yang membuat jantung berdebar kencang apalagi terkejut seperti itu.
“Kamu kenapa Ra?” tanyaku. Ingin tahu apa yang mengakibatkan ia berekspresi seperti itu.
“Enggak, aneh aja. Padahal setiap aku telfonan sama Pradipta dia selalu nongol dan nanyain kamu. Tadi juga barusan dia chat aku ngajakin nongkrong malam ini. Dia juga minta aku ajakin kamu,” penjelasan dari Lara tak cukup membuatku puas. Dia yang Lara maksud itu siapa? Mahesa, Azan atau Kelvin, teman Pradipta kan banyak.
“Dia siapa Ra?” tanyaku jengkel. Aku tak ingin mendapatkan informasi ambigu apalagi setengah-setengah. For your information, aku itu anak yang kepo akut. Jika ingin tahu sesuatu aku akan mencari tahu hal itu sampai ke akarnya.
“Siapa lagi sih Key. Jawabannya udah pasti Mahesa, kamu pura-pura bego atau beneran bego sih.” Lara memukul kepalaku pelan, lalu menelfon seseorang yang aku tak tau itu siapa.
“Hallo Ta, kamu lagi dimana sekarang?” Lara menyapa seseorang. Dari nama yang tadi ia ucapkan dapat aku simpulkan jika kini orang yang berbicara dengan Lara adalah Pradipta. Wajah gadis itu berseri-seri hanya dengan mendengar suara lelaki yang ia damba. Apa seperti itu juga wajahku jika telfonan dengan Gerhana? Ah...entahlah, aku tak pernah berkaca saat sedang telfonan. Gerhana lagi, yaa ampun.
“Iya aku sama Keyra, kenapa?” Aku menoleh sepintas saat namaku disebut. Lalu entah apa yang Pradipta ucapkan setelahnya, Lara langsung meletakkan layar ponselnya tepat di depan wajahku. Saat itu juga aku sadar, Lara tidak sedang telfonan, tetapi sedang video call dan yang membuatku terkejut adalah wajah yang tampil pada layar ponsel bukan milik Pradipta, tetapi Mahesa.
Dia kembali.
Nanti malam, aku dan Mahesa akan kembali bertemu.
🐚
“Kenapa kamu gak pernah kontak aku?” pertanyaan yang tak jelas apa artinya itu meluncur begitu saja keluar dari bibirku, seperti pacar posesif. Padahal kami hanya sebatas teman. Just friend. Rasa penasaranku menjadikanku orang yang terlalu blak-blakan, tak tahu malu. Mahesa yang kini sedang membawa motor, melirikku sekilas dari kaca spion dan di sana dapatku lihat senyum tengil darinya. Senyum yang seperti ingin menggodaku atau bahkan sedang mengejek.
“Pengen banget aku chat?” akhirnya tawa tengil itu keluar. Menertawakanku sepertinya adalah kesenangan tersendiri bagi Mahesa. Setelah satu bulan tak bertemu hal yang pertama kali ia lakukan adalah membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya, yang justru membuat tawanya semakin besar. Mahesa, orang yang tak tahan geli, sama seperti Gerhana. Satu kesamaan lagi yang aku temukan dari mereka berdua.
“Ya aneh aja, apa gunanya coba kamu minta nomor tapi gak pernah chat. Aneh!” Aku mencebikkan bibir. Bibirku yang dari lahir sudah seksi jadi makin monyong. Jika Gerhana, mungkin dia akan menjepit bibirku dengan jari tengah dan telunjuknya. Mahesa hanya tertawa, menghiraukan keluhanku tentang dia yang tak pernah menghubungiku sama sekali. Seperti ada hal yang sengaja ia tutupi dariku. Aku akan segera mencari tahu itu.
Suasana malam kota Padang sukses membuatku terlena. Suara deburan ombak di sepanjang jalanan yang kami lalui menjadi musik pengiring di tengah sepi yang melanda. Tak ada obrolan lagi, kami terdiam mengikuti kemana Pradipta dan Lara menuntun. Mereka berdua berboncengan tepat di depan kami. Jangan lupakan Kelvin dan Azan yang mengikuti di belakang.
“Key,” suara merdu milik Mahesa memecah lamunanku.