Jangan membuatku goyah,
Agar lukamu tak semakin merekah.
Musik yang keras memenuhi rongga telingaku.
Aku tak tau harus merespon bagaimana, jadi aku diam. Tak ada yang memperdulikanku, semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pradipta mencari lagu yang akan ia nyanyikan, Kelvin sedang berduet dengan Lara. Azan dan Mahesa tampaknya sedang bermain game.
Aku berdiri.
Hendak keluar mencari ketenangan. Postingan instagram Gerhana barusan sukses membuatku goyah. Isi hatiku luluh lantah dibuatnya.
Aku tak bermaksud mempermainkan perasaannya. Aku tak ingin memintanya kembali dalam kondisi hatiku yang sedang gundah. Hatiku bercabang dan kebodohanku adalah penyebabnya.
Lara mendesah kecewa saat score yang tercetak pada layar tv tak mencapai angka tertinggi.
Kelvin memberikan mic yang ia pegang padaku. Aku masih dalam posisi berdiri, jadi mungkin ia mengira aku ingin bernyanyi.
Di sebelah, dapatku lihat Lara yang tampaknya sengaja memberikan mic pada Mahesa. lelaki itu yang sedang asik bermain menghentikan aktivitasnya. Menatapku sejenak, kemudian berdiri.
“Mau nanyi apa?” suara beratnya membuat dadaku bergemuruh.
Aku tak menjawab apapun, karena aku sama sekali tak berniat untuk bernyanyi. Gerhana menyedot habis keinginanku untuk bersenang-senang malam ini.
Ternyata menghilangkan Gerhana dari otakku sesulit ini.
“Kamu mau nyanyi apa Key?” ulang Mahesa.
Aku menggeleng. Tidak tau lagu apa yang ingin aku bawakan.
Mahesa menatapku dalam. Aku tetap sama saja, masih diam. Lalu ia bergerak sendiri, menuliskan judul lagu yang akan kami nyanyikan. “ Seluruh nafas ini, Last child ft Gisella,”
Aku menggigit bibir bawahku kuat. Kenapa harus lagu ini? Padahal masih banyak lagu duet lainnya.
“Siap Key?”
Aku mengangguk, meski untuk menyanyikan ini aku tak pernah akan siap. Lagu ini, lagu kenanganku bersama Gerhana.
Musik di mulai dan semuanya seperti slow-motion. Mahesa menatapku dalam, tetapi yang terbayang olehku adalah sosok Gerhana.
🎵Lihat lah luka ini, yang sakitnya abadi. Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu.
Aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa. Tentang apa yang harus memisahkan kita🎵
Memoriku memutar segala kejadian beberapa bulan lalu. Saat aku memutuskan pergi dari Gerhana. Ketika aku mencoba untuk berhenti mencintainya. Alasan-alasan bodoh yang aku jadikan perisai agar tak kembali mencintai Gerhana.
🎵Disaat ku tertatih, tanpa kau di sini. Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini🎵
Lagu ini tak sepenuhnya benar. Aku memang masih tertatih, tanpa kehadiran Gerhana. Aku memang masih menantinya, tetapi aku tak memiliki keyakinan sedikitpun.
🎵Jika memang dirimulah tulang rusukku, kau akan kembali pada tubuh ini. Ku nikmati rindu yang datang membunuhku. Untukmu seluruh nafas ini🎵
Suara merdu yang Mahesa perdengarkan sukses membuat air mataku menetes. Aku memang sempat berharap aku adalah tulang rusuk Gerhana. Tetapi, lelaki dihadapanku kini membuatku goyah. Rasa sukaku padanya semakin membuncah, walau Gerhana masih berada di tangga teratas. Ah...aku merindukan Gerhana, rindu ini membunuhku.
Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya saat giliranku bernyanyi akan segera tiba. tak ada yang boleh tau bahwa kini aku sedang menangis.
Ku tolehkan wajahku pada Mahesa, dan pandangan kami bertemu. Ia melangkah lebih mendekatiku. Tersenyum hangat, seolah memberiku semangat. Aku membalas senyumnya.
🎵Kita telah lewati rasa yang pernah mati. Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku🎵
Lirik ini, seharusnya bukan aku yang menyanyikannya. Ini lebih seperti suara hati Gerhana yang berulang kali aku lukai.
Lirik demi lirik aku nyanyikan dengan baik. Tak ada lagi air mata. Mahesa berhasil membuatku lupa. Tanpa sadar membuatku terperosok pada luka yang baru.
🎵Untukmu seluruh nafas ini🎵
Lirik terakhir lagu kami nyanyikan bersamaan. Menciptakan harmonisasi yang indah. Seindah mata coklat pekat Mahesa yang menatapku lekat.
Lalu, lagu tersebut habis. Kontak mata yang sama sekali tak direncanakan itu terputus. Aku mengulum bibirku, membuang muka ke arah lain. Menyembunyikan rona merah yang entah sejak kapan muncul di wajahku.