Dismiss

Rima Selvani
Chapter #8

Begin

Aku kembali membaca kisah lama pada sebuah buku usang,

Hanya untuk mencari kisah-kisah bahagia yang mungkin aku lewatkan.

Kupandangi lelaki yang kini duduk di depanku.

Gerhana.

Entah aku yang bodoh, karena mempercayai ucapan Amelia yang mengatakan jika nanti tidak akan ada mantan kekasihku itu atau dia yang tiba-tiba hadir. Aku tak tau pasti, yang jelas hari ini aku kesal dengan sahabatku itu.

Aku diam saja, saat teman-temanku yang kebetulan juga temannya Gerhana berbicara. Mereka sedang membicarakan sebuah rencana untuk malam tahun baru. Menurut cerita yang aku dengar dari mereka, tampaknya akan ada acara bakar-bakar bersama.

Aku masih diam saja saat sadar ada yang diam-diam melirik ke arahku. Itu bukan Gerhana, melainkan lelaki lain yang aku tak tau siapa namanya. Semenjak aku kuliah, banyak orang-orang baru yang tak aku kenali di sini.

“Key, kamu ikut kan tahun baruan?”

Amelia duduk di samping Dava, kekasihnya. Ya! Kekasih sahabatku yang juga merupakan salah satu temanku. Bisa dibilang lingkaran percintaan kami, khususnya Lia masih disini-sini saja.

Aku mengangguk, “Ya aku ikut.”

Tak ada lagi alasanku untuk menolak, toh aku juga sudah terlanjur bertemu dengan Gerhana. Anggap saja tak terjadi apa-apa di antara kami berdua.

Aku berusaha menatap ke depan takut-takut. Cemas, hatiku akan goyah dan melompat ke pangkuan Gerhana. Mantan kekasihku, sekaligus lelaki yang masih kucintai itu tampak asik dengan ponselnya sendiri. Ia sama sekali tak melirikku, meskipun aku kini duduk di depannya.

“Hey Key, apa kabar?” aku melengok ke atas saat suara yang samar-samar ku ingat menyapa. Kalau tidak salah, itu suara Bagas. Mantanku sebelum bersama Gerhana.

Aku terkejut bukan main. Kenapa bisa Bagas berada di sini, padahal sudah lama rasanya ia tak menginjakkan kaki lagi ke tempat nongkrong kami.

“Baik,”

Aku tak tau harus menjawab apalagi, selain itu. Lalu aku diam sejenak, berusaha mencari topik. Kemudian satu nama terlintas di kepalaku.

“Riri apa kabar?” tanyaku. Wajah Bagas langsung berubah masam.

“Aku gak tau,” jawab Bagas singkat. Jawaban yang aku tangkap sebagai tanda jika hubungannya dengan sang pacar sedang tak baik.

Aku mengangguk sebentar sebagai respon jika aku paham. Aku bosan karena tak melakukan apapun. Inginku segera pulang, tapi saat mencari keberadaan Amelia, ia sedang sibuk bersama temanku yang lain menyusun acara untuk malam tahun baru.

Kini tinggal aku bertiga, bersama Gerhana dan Bagas. Temanku yang lain berkumpul di meja yang berbeda.

Gerhana masih sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang ia lakukan. Mungkin sedang chatingan dengan gebetan barunya. Entahlah... aku berusaha terlihat tak peduli, meski sebenarnya aku ingin sekali merebut ponsel yang ia pegang.

Rasa canggung karena berdekatan dengan dua mantan kekasih sekaligus membuatku ingin segera melarikan diri. Aku berdeham sebentar sebelum akhir berpura-pura jika Amelia memanggil.

Aku berdiri, tapi satu tangan menahanku. Wajahku memerah seketika, berharap jika yang menahanku adalah Gerhana.

Aku menoleh, dan mendapati jika pemilik tangan itu adalah Bagas. Kenapa lagi dia? Aku tak ingin pertengkaranku dengan kekasihnya dulu terulang lagi. Aku sama sekali tak ada niatan CLBK dengannya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku tau kamu bosan, bisa temenin aku sebentar ambil gitar, habis itu aku temenin kamu sambil gitaran. Kita juga bisa nyanyi bareng,”

Mendengar ucapan Bagas aku jadi tersenyum kecil. Bukan karena sikapnya, tapi ucapannya yang mengingatkanku saat Gerhana pertama kali belajar main gitar.

Gerhana adalah lelaki yang cemburuan, dan lelaki pertama yang membuatnya cemburu adalah Bagas. Ia tau jika aku menyukai lelaki yang pandai bermain musik dan karena itu ia mati-matian belajar main gitar. Niat yang menggebu, membuatnya pandai bermain gitar dalam waktu sebulan.

Aku memalingkan pandang sebentar pada Gerhana. Melihat lelaki itu yang masih sibuk dengan ponselnya. Aku ingin melihat apa reaksi lelaki itu, apakah ia masih cemburu dengan Bagas.

“Oke, kita ambil gitarnya di mana?” tanyaku.

Lagi-lagi, aku melirik sekilas Gerhana yang tak bereaksi. Tak ada pergerakan istimewa yang ia tunjukkan. Mungkin benar dugaanku, lelaki itu sudah tak lagi ada rasa.

“Gitarnya aku titip di rumah Dava, jadi temenin aku ke sana dulu ya,”

Hmmmm...” jawabku tak semangat. Aku berharap Gerhana menghentikan, tapi ia sama sekali tak peduli.

“Oke, kamu tunggu di sini dulu ya, aku jemput motor dulu,”

Rumah Dava dari tempat kami nongkrong memang tak begitu jauh, tapi menggunakan motor bisa lebih cepat.

Aku menunggu.

Gerhana masih sibuk dengan ponselnya dan aku mulai jengah melihat sikapnya yang acuh.

“Lagi chattingan sama siapa sih?” akhirnya aku buka suara dari pada mati penasaran.

“Gak siapa-siapa,” jawab Gerhana singkat. Ia masih sibuk dengan ponselnya.

Hening kembali melanda.

Diam yang membuat canggung akhirnya pecah karena suara motor dari Bagas datang mendekat.

Aku berdiri dari dudukku.

Melangkahi kursi yang tadi menjadi penopangku. Aku tertegun saat sebuah tangan menahanku. Kali ini tak mungkin tangan Bagas, karena lelaki itu kini jauh di depan.

Lihat selengkapnya