Coba sekali lagi tanya hatimu.
Siapa yang benar-benar berada disana?
Jangan coba mengelabui diri sendiri,
karena tak ada waktu bagimu bermain dengan perasaan.
Kutatap wajah lelaki yang kini terlelap di pangkuanku, kemudian melihat bintang yang bertebaran di langit. Mereka sama saja. Sama indahnya.
Masih dalam posisi yang sama.
Gerhana sudah terlelap dipangkuanku. Suara musik yang berdentum keras tak mampu mengusiknya. Mungkin Gerhana kelelahan.
Aku merogoh saku celanaku perlahan, berusaha sepelan mungkin agar Gerhana tak terganggu. Mendapati jika ada beberapa pesan masuk di sana. Segera ku buka ponselku lalu membaca pesan masuk itu.
Pesan masuk dari Azan.
Azan:
Selamat tahun baru Key.
Pesan dari Azan masuk pada pukul 00.32 itu artinya sudah satu setengah jam lebih aku tak membuka ponselku dan memangku Gerhana. Pantas saja badanku mulai terasa pegal.
Keyra:
Selamat tahun baru juga Zan,
Aku mengetik dengan cepat pesan balasan untuk Azan kemudian dengan segera membuka pesan masuknya. Berharap jika salah satu pesan masuk itu ada yang berasal dari Mahesa. Harapanku sia-sia. Mahesa sama sekali tak ada kabar, bahkan pesanku yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya pun belum di baca.
Gerhana bergerak gelisah, dari sini dapatku lihat beberapa bulir keringat di dahinya.
“Na, kamu gak apa?”
Gerhana tak menjawab sama sekali, justru dahinya berkerut membuat keringat yang tadi berada di dahinya bergerak turun menyusuri pipi. Sadar ada yang tak beres dengan Gerhana akhirnya aku memutuskan untuk membangunkannya.
“Kenapa Key?” tanya Gerhana saat ia membuka mata.
“Harusnya aku yang nanya gitu, kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanyaku. Entah apa yang Gerhana mimpikan sampai gelisah sekali saat tidur.
Gerhana menggeleng.
Sama sekali tak menjawab pertanyaanku, yang ada dia hanya menunjukkan wajah polos seperti tak terjadi apa-apa. Mungkin lelaki itu tak ingat mimpi yang baru saja ia alami.
Gerhana bangkit dari pangkuanku.
Sesekali aku melirik ke arah Gerhana yang sibuk merapikan bajunya.
“Kenapa?”
Suara Gerhana yang bertanya membuatku merasa sedang dipergoki sedang mencuri. Aku tertangkap basah sedang mencuri padang ke arahnya.
“Nggak ada,” jawabku dengan menaikkan kedua bahu.
Ponselku berdering, kali ini kakakku menelfon.
“Iya, bentar lagi aku pulang,” jawabku pada Riana. Kakakku itu adalah pengganti ibu yang sangat cerewet. Meskipun kali ini memang aku yang salah. Masih di luar rumah saat jamu sudah hampir menunjukkan pukul dua dini hari.
Sambil menelfon aku merentangkan tanganku untuk menutupi wajah Gerhana yang terang-terangan menatapku. Aku salah tingkah, malu diperhatikan seintens itu olehnya.
Sambungan telfon terputus.
Aku langsung bersiap untuk pulang, saat tangan Gerhana mencegatku. Ku tolehkan wajahku padanya, lalu menatapnya dengan pandangan bertanya. Bertanya apa yang sedang ia lakukan saat ini. Kenapa harus menggenggam tanganku, membuat jantungku lagi-lagi berdebar dua kali lipat lebih kencang dari yang biasanya.
“Aku yang akan anterin kamu pulang,” ucapnya.
Aku terdiam. Untuk apa Gerhana mengantarku? Aku kan bawa kendaraan sendiri.
Lalu seakan membaca isi pikiranku, Gerhana berkata, “Aku bisa ajak salah satu dari mereka yang masih sadar, jadi aku anterin kamu dulu, habis itu aku pulang kesini bareng temanku,”
Aku menganggukkan kepala, tanda mengerti maksudnya. Maksud ucapan Gerhana adalah, ia akan mengajak salah satu temannya, dan dia memboncengku terlebih dahulu dengan motorku sampai rumah, lalu dia akan pulang bersama temannya yang ikut bersama kami.
“Tapi, aku bisa pulang sama Amelia,” elakku. Sebenarnya aku ingin sekali di antar oleh Gerhana sampai di depan rumah. Tapi aku takut, ayah melihat kami berdua dan akan timbul lagi masalah.
“Aku tau kamu takut kan ayahmu ngelihat kamu di antar pulang bareng aku?”
Sial.
Lagi-lagi Gerhana membaca pikiranku.
Aku pasrah. Mengangguk lesu sebagai jawaban pertanyaan Gerhana barusan. dia sudah tau, jadi tak ada gunanya aku tutup-tutupi.
“Oke, kalau gitu kamu pulang bareng Amelia, tapi aku tetap nemenin kalian berdua sampai rumah,”
Ini sudah keputusan final.
Jika Gerhana sudah berkata seperti itu, tandanya ia tak ingin dibantah. Aku juga sudah tak lagi berusaha menolak.
Gerhana satu-satunya lelaki yang membuatku tak bisa menolak keinginannya.
🐚
Aku mengenakan kaos hitam oversize. Rambut panjang sepunggungku aku biarkan tergerai. Memoles sedikit lipbalm pada bibir agar terlihat sedikit lebih cerah.