Beri aku satu alasan untuk meninggalkanmu.
Tanpa ada rasa yang tertinggal.
Malam semakin larut, bulir air mata yang keluar tak jua surut.
Sedari awal, memang tak ada hal istimewa yang terjadi. Aku saja yang terlalu melibatkan perasaan dalam semua urusan yang bersangkutan dengan Mahesa. Sedari awal kami hanya teman.
Just Friend.
Aku tak menangisi kenyataan yang kini ada di hadapanku. Rasanya aku terlalu berharap pada hal yang seharusnya tak ku beri atensi. Aku terlalu percaya diri. Sementara dia yang kuberi hati, pergi. Melarikan diri.
Foto itu di unggah tepat setahun yang lalu. Jadi, ada kemungkinan itu foto Mahesa bersama pacarnya atau mungkin mantan. Bibirku memang berucap tenang, tapi hatiku tak mampu berbohong. Rasa takut mengetahui hal yang sebenarnya tak aku ingini terlalu besar. Aku takut, Mahesa sudah ada yang memiliki.
Kami.
Aku dan Mahesa, belum sedekat itu untuk membicarakan kehidupan pribadi.
Rasa sendu yang melingkupi diri, kututup serapat mungkin. Menghalau rasa itu jauh, mengalihkan segalanya dengan membuka aplikasi baca. Aku butuh bacaan baru sebagai alat pengalih perhatian. Aku tak ingin pikiranku bercabang hanya karena Mahesa.
Cukup Gerhana saja yang memenuhi isi kepalaku. Mahesa jangan turut andil.
Azan:
Key, kenapa belum tidur?
Baru saja aku selesai mengunggah foto di instagram saat tiba-tiba saja pesan dari Azan sampai ke ponselku.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Harusnya, aku sudah terlelap karena besok ada kegiatan penting yang harus aku ikuti. Kegiatan penting berwisata alam bersama Gerhana.
Setelah ini aku harus segera tidur, jika tak ingin tumbang saat mendaki menuju lokasi wisata alam yang akan kami datangi.
Keyra:
Baru selesai baca, kenapa Zan?
Aku mengernyit. Bukannya membalas pesanku, Azan justru menelfon. Apa yang ingin lelaki itu katakan tengah malam seperti ini?
“Key, aku ganggu gak?”
Aku menggelengkan kepalaku, lalu saat sadar orang yang kini sedang berbicara denganku tak bisa melihatnya, aku segera menjawab. Mengatakan jika Azan sama sekali tak menggangguku.
“Kenapa?” tanyaku, saat Azan sama sekali tak bersuara.
“Kamu apa kabar?”
Mataku yang sudah mulai mengantuk, kupaksakan terjaga. Mungkin saja ada satu berita yang akan membuatku lega.
“Baik,”
Satu kata itu mengantarkan kami pada percakapan yang cukup panjang.
“Key, kamu suka ya sama Mahesa?”
Entah apa yang mendasari pertanyaan itu bisa terucap dari bibir Azan. Aku hanya bisa melongo. Bingung harus menjawab apa. Setelah percakapan yang cukup banyak tadi, membuatku sedikit banyak tau tentang Azan.
Azan, orang yang baik meski kadang terlalu percaya diri.
Aku menggigit bibirku. Ragu akan menjawab apa. Aku memang menyukai Mahesa, untuk saat ini, tapi rasanya terlalu cepat untuk menyimpulkan sebuah perasaan.
“Aku gak tau Zan, kalo rasa nyaman yang aku rasakan bersama Mahesa bisa diartikan dengan rasa suka, mungkin benar. Aku menyukai Mahesa,”
Aku memukul mulutku pelan saat tak sadar pengakuan itu keluar dari bibirku. Harusnya aku cukup diam, tak usah memerdulikan perasaan aneh yang hinggap ini.
Bagaimana ini? Azan sudah terlanjur tahu jika aku menyukai Mahesa.
Tamatlah riwayatku.
🐚
Setelah menempuh perjalanan yang mungkin memakan waktu kurang lebih dua jam, aku, Gerhana dan temanku yang lainnya sampai pada sebuah lahan besar. Banyak kendaraan yang terparkir disana.
“Kita udah sampai?” tanyaku saat melihat teman-temanku yang lain turun.