"Key, bagaimana caranya agar hanya aku yang mengisi ruang di hatimu?"
-Gerhana-
Mahesa:
Key, kamu dimana?
Tanganku kaku. Tak bisa bergerak sama sekali. Bukan karena udara yang terlalu dingin, tapi karena pesan masuk dari Mahesa yang sangat membingungkan. Bagaimana aku tidak bingung, jika tiba-tiba saja ia mengirimkan pesan yang bertanya dimana keberadaanku saat ini. Dia yang sebulan belakangan ini sama sekali tak ada kabarnya, justru muncul disaat yang sama sekali tak aku harapkan.
Gemericik air, kicauan burung dan udara dingin yang diam-diam menusuk kulitku perlahan membuat tubuhku rileks, melupakan sejenak rasa gugup sekaligus kesal akibat pesan masuk dari Mahesa barusan. Berwisata alam memang menjadi pelampiasan paling ampuh untuk melepas penat, bahkan kini keinginan untuk membalas pesan dari Mahesa menghilang. Untuk kali ini saja aku ingin mengabaikannya dan fokus dengan seseorang yang kini bersamaku.
“Kenapa gak dibalas?” Refleks ku tekan tombol kunci. Seketika Rasa bersalah meliputi.
“Kamu ngintip isi ponselku?” Tuduhku panik dengan intonasi suara yang sedikit keras.
“Aku gak ngintip, Cuma kebetulan lihat. Lagian layar hp kamu cahayanya terang banget, dari jauh juga pasti kelihatan,” jawab Gerhana cuek.
“Lagian kenapa sih? Biasa aja, gak usah panik gitu. Aku gak bakalan ninggalin kamu Cuma karena pesan masuk yang sekedar basa-basi itu,” lagi, Gerhana berucap cuek namun ucapannya itu kusimpulkan sebagai ejekan.
“Kamu gak cemburu?” tembakku langsung. Aku ingin tahu isi hati Gerhana yang sebenarnya.
Kulihat sekilas Gerhana tersenyum kecut, memutar badan membelakangiku dan perlahan menjauh.
“Kalau aku jawab aku cemburu, apa kamu bisa hilangin rasa sukamu dari lelaki itu dan fokus hanya melihat ke arahku, Key?”
Aku diam. Sama sekali tak tahu jawaban apa yang akan aku keluarkan. Pandanganku masih tertuju pada Gerhana, menatap punggung tegap yang lelaki itu perlihatkan.
Baru saja aku ingin menyusul Gerhana, saat tiba-tiba saja ia memutarbalikkan badannya dan berjalan cepat ke arahku.
“Aku cemburu Key,” ucap Gerhana dengan suara lantang.
Aku menunduk, menatap ujung sepatuku dan ujung sepatunya yang kini berhadapan. Kuberanikan diri untuk mendongakkan kepala, menatap lawan bicara yang kini berdiri di depanku. Mau tak mau sementara aku harus bertahan dengan posisi ini karena aku masih duduk nyaman di area air terjun.
“Mana bisa aku biasa saja saat tahu gadis yang aku cintai mengistimewakan lelaki lain yang bukan aku,” tidak seperti sebelumnya, kali ini suara Gerhana melunak. Kutangkap pancaran kesedihan di matanya.
Aku kembali menundukkan kepala. Berlama-lama menatap mata Gerhana yang seperti itu semakin membuatku merasa bersalah.
“Maaf, aku gak mak-” aku berhenti bicara saat sebuah benda yang kuyakini adalah sebuah baju mendarat di kepalaku. Aroma cinnamon yang bersatu dengan tembakau tercium dari baju itu. Sudah dapat dipastikan ini adalah baju yang Gerhana pakai.
Kesal, kubuang sembarangan baju Gerhana lalu mencari si pemiliknya yang kini sudah berlari menjauh dariku, mendekati kolam dan air terjun. Lelaki itu, atau manusia yang bernama Gerhana itu dengan riangnya bergerak maju dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek, seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya di antara kami. Atau...mungkin bagi Gerhana, hal yang tadi kami perbincangkan bukanlah hal yang benar-benar penting.
“Gerhana! Simpan bajumu!” aku berteriak sekuat tenaga, berharap Gerhana akan kembali padaku.
“Tolong, simpankan untukku!”
Jawaban dari Gerhana tadi sama sekali tak ku jawab, meski begitu aku tetap memungut baju yang tadi sempat ku buang, menyimpannya ke dalam tas yang Gerhana bawa.
“Gerhana, tetaplah seperti ini. Jangan pernah berubah,”
🐚
“Gerhana! Stop! Dingin!” jeritku saat jernihnya air terjun tak henti berdatangan mengenai tubuhku. Gerhana, lelaki yang tadi kusebut namanya, dengan sengaja menyiramku dengan air sedingin es itu.