Dismiss

Rima Selvani
Chapter #12

Hireath

Rasa. Ada rasa yang tak terasa. Ada rasa yang sengaja ditutupi. Ada rasa yang dibiarkan begitu saja sampai akhirnya lupa. Semua rasa itu tercampur aduk menjadi luka yang akhirnya membuat rasa lelah melanda.

“Angkat aja,”

Hari ini sama sekali tak ada jeda. Kata-kata dengan nada dingin itu jelas-jelas mengambarkan bagaimana keadaan saat ini. Rasa yang tadinya baik-baik saja mulai bercampur dan berubah. Kekesalan sekaligus bingung bercampur, mengadu domba perasaanku yang kini tak tau harus bersikap bagaimana.

Meski ragi-ragu panggilan itu tetap ku jawab.

Hening. Aku, Gerhana dan seseorang yang diseberang sana masih tak bersuara. Ponsel yang kini kugenggam masih belum menampilkan gambar, mungkin jaringan yang buruk membuatnya jadi begini.

“Ada apa Zan?” sapaku saat ponsel pintar itu mulai menampakkan wajah seseorang di sebrang sana. Benar... kalian tak salah baca. Entah apa yang terjadi, aku tak tau, yang pasti kini aku simpulkan yang menelfon bukanlah Mahesa, tetapi Azan yang menggunakan ponsel Mahesa.

“Gak pa pa, lagi bosan aja,” jawab lelaki berperawakan kecil itu. Ia tersenyum ke arahku, lalu layar ponselku seketika saja menampilkan Mahesa. Sepertinya Azan sengaja mengarahkan kamera pada Mahesa. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat, melihat lelaki yang kini sedang asik bermain gitar di depanku, dia bahkan tak sadar jika kamera sedang di arahkan padanya.

“Ooh...aku kira ada apa,” balasku berusaha bersikap biasa saja, meski sejujurnya ada sedikit rasa bahagia terselip saat melihat wajah Mahesa.

“Sebenarnya Mahesa kangen kamu, makanya aku telfon buat ngewakilin dia,”

Aku diam, bingung harus memberikan respon seperti apa. Gerhana yang dari tadi masih duduk di sampingku juga langsung berdiri saat mendengar ucapan Azan. Tangannya yang tadi masih berada digenggamanku ia paksa lepas, ada rasa bersalah terselip saat Gerhana pergi begitu saja. Aku ingin menyusul Gerhana yang perlahan menjauh, tapi di sisi lain rasa ingin mengetahui kebenaran ucapan Azan membuatku tetap diam di tempat.

“Oh ya? Sekarang dia lagi apa?”

“Lagi nyanyi, sambil main gitar.”

“Hmm...kalo gitu aku gak yakin kalo dia yang kangen. Ngaku! Kamu kan yang kangen aku?”

Aku tertawa, meski tak terlalu lepas. Aku tak ingin siapapun salah paham akan hubunganku dan Azan, karena kami hanya teman.

“Ketauan banget ya kalau aku yang kangen?”

Lagi-lagi aku hanya bisa tertawa, tak terlalu menganggap serius ucapannya.

“Aku juga kangen kamu kok, kangen Dipta, Kevin dan Mahesa juga.”

Sengaja, nama lelaki itu yang kusebut terakhir kali. Aku tak ingin ia sadar jika aku menaruh rasa yang istimewa untuknya. Aku sama sekali tak menyangka akan terjebak pada situasi seperti ini. Terjebak pada rasa yang seharusnya hanya ada untuk satu orang.

“Kamu lagi di mana Key?” tanya Azan lagi. Ku arahkan kameraku ke area sekitar, memperlihatkan pemandangan alam yang kini ada di depanku.

“Key, siap-siap. Bentar lagi kita pulang,”

Aku menoleh ke belakang saat Gerhana datang membawa tas yang tadi aku tinggalkan tergantung pada salah satu dahan pohon sekitar air terjun. Ucapan Gerhana yang terkesan dingin kujawab dengan anggukan.

“Lagi main ke air terjun, udah dulu ya Zan. Teman-temanku udah nunggu, besok kita lanjutin lagi ngobrolnya.”

“Yaudah, bye Key,”

Telpon terputus dan secepat mungkin kuganti pakaianku. Mencari tempat terbaik yang sekiranya tertutup untuk bisa aku jadikan tempat berganti pakaian.

🐚

“Na, kamu marah ya?”

Kusentuh pipi yang dingin itu dengan jari telunjuk. Berdoa dalam hati jika wajah datar yang Gerhana tampilkan berubah menjadi secercah senyum. Walaupun aku tak berhak untuk berharap terlalu banyak. Gerhana sudah terlalu sabar selama ini, mana ada lelaki yang mau terus-terusan disakiti. Digantung tanpa status dengan hubungan yang sama sekali tidak jelas dan pasti akan mengarah kemana. Semuanya memang salahku.

“Baju kamu gak ada yang lebih tipis dari itu?”

Aku menghela nafas. Bukannya menjawab pertanyaanku, Gerhana malah mengalihkan pembicaraan. Tanganku yang tadi masih bersarang dipipinya sudah ia singkirkan.

“Na, jawab! Gak usah ngalihin pembicaraan,”

Gerhana sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Tas yang tadi ia sandang di punggungnya sudah ia lepas. Lelaki itu sedang sibuk dengan isi tas dan sebuah hoodie berwarna navy yang baru saja ia keluarkan .

Aku tersenyum kecil, meski marah ia tetap perhatian.

Lihat selengkapnya