Saat kamu sudah menemukan yang tepat, seharusnya kamu tak lagi pusing dengan yang hadir hanya untuk membawa penat. Perasaanmu harusnya kamu jaga, untuk dia yang benar-benar menjadikanmu satu-satunya. Bukan salah satunya.
"Mata kamu bengkak Key, tau gak jadi mirip tarsius,"
"Tarsius? Apaan tuh?"
"Hewan kecil, imut dan menggemaskan yang memiliki mata besar, persis seperti kamu sekarang," jawab Gerhana, lelaki itu sepertinya sedang memperbaiki posisi ponselnya agar wajahnya terlihat jelas olehku.
Dia tertawa sangat lepas, menertawakan mataku yang sembab karena tadi siang menangis di depan Amelia dan kemudian tangis itu kusambung saat Amelia pulang. Aku jika sudah merindukan mama, memang selalu seperti ini. Takkan cukup waktu satu jam untuk menghentikan tangis. Jikapun berhenti, tangis itu akan berlanjut saat malam sampai matahari menyapa.
Aku sama sekali tak tau bagaimana rupa hewan yang baru saja Gerhana katakan mirip denganku. Tanpa pikir panjang ku buka laptop yang kebetulan saat ini sedang menampilkan pencarian google. Kuketik nama hewan itu dan muncul beberapa artikel.
Tarsius, Monyet Kecil Langka Bermata Lebar.
Judul artikel itu lantas membuat wajahku merah padam. Malu. Apa benar wajahku saat ini mirip seperti monyet?
Aku berlari ke kaca besar seukuran tubuhku yang letaknya tak jauh dari meja belajar. Kulihat dengan teliti segala inci wajahku. Tak ada yang berubah, hanya mataku saja yang sedikit sembab.
"Gak mirip monyet ah," gumamku yang ternyata didengar oleh Gerhana. Tawanya yang tadi sudah berhenti kembali meledak, bahkan kini makin parah.
"Aku gak bilang kamu mirip monyet, Key."
"Tapi, tadi kamu bilang aku mirip hewan yang namanya tarsius. Artikelnya aja bilang kalo tarsius itu monyet Na,"
Aku cemberut, memperlihatkan kepada Gerhana jika aku sedang marah padanya. Walaupun, sebenarnya aku takkan pernah bisa benar-benar marah pada lelaki itu. Lelaki itu selalu ada saja cara untuk membuatku gagal ketika hendak melakukan aksi marah padanya.
"Mata kamu yang sembab itu ngebuat kamu mirip sama dia. Hanya matanya Key, bukan yang lain. Lagian tarsius itu bukan monyet. Baca dulu artikelnya, baru boleh marah sama aku,"
Ku lanjutkan membaca artikel tadi, dan ternyata benar kata Gerhana hewan itu bukan lah jenis monyet.
"Aku malah mau jadi seperti tarsius," Gerhana memecah fokusku yang sedang fokus membaca isi artikel tadi dan refleks menatap Gerhana yang kini sedang berbaring di tempat tidurnya. Ponsel yang aku genggam, sengaja ku sandarkan di tumpukan novel. Aku capek terus-terusan memegangnya.