Dismiss

Rima Selvani
Chapter #14

One Day

Bukan tentang apa, tapi siapa.

Bukan pula tentang tawa, tapi tentang siapa yang berusaha meminimalisir luka.

"Kamu suka Key?"

Apa yang tak aku suka darinya sampai sekarang belum kutemukan. Gerhana selalu bisa membuatku merasa lebih baik.

Kalian tahu apa yang kini sedang lelaki itu lakukan?

Ia mengajakku berkeliling kota Pekanbaru. Kian kemari tanpa tau tujuan pasti. Sesekali berhenti membeli makanan yang aku inginkan. Kata Gerhana, ini adalah hariku dan semua permintaanku akan ia kabulkan. Gerhana, ngakunya tak bisa bersikap romantis, tapi ia tak sadar tingkahnya ini menurutku sudah lebih dari romantis.

"Perut kamu masih bisa ngisi makanan Key?" aku tertawa mendengar pertanyaan Gerhana yang terdengar lucu itu.

"Maksudnya kamu mau nanya aku udah kenyang atau belum kan Na?" tanyaku disela tawa. Gerhana mengangguk.

"Belum, masih belum kenyang," ujarku. Menjawab pertanyaan awal yang tadi Gerhana lontarkan.

"Wah...perut karet!" serunya.

Aku menatap tajam ke arahnya. Lelaki itu tersenyum kecil lalu menyentil dahiku dengan jarinya yang jelas lebih besar dari milikku. Rasanya sakit.

"Oke, sekarang makanan apalagi yang mau kamu beli?"

Gerhana memanjakanku dengan makanan yang banyak. Padahal aku sama sekali tak ingin itu semua. Bersama Gerhana saja rasanya sudah cukup.

"Baiklah, karena kamu memaksa, aku mau makan bakso. Tapi, dengan catatan abang-abang jualan baksonya gak hanya jual bakso."

Gerhana menoleh, sepertinya ia bingung dengan maksud ucapanku. Penjual bakso tapi tak hanya jualan bakso.

"Kamu kan gak suka bakso Na, gak mungkin aku sendirian yang makan." Ucapku yang sepertinya sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan di benak Gerhana.

"Oke, kita keliling dulu cari abang-abang jual bakso yang gak cuma jualan bakso itu," balas Gerhana, lelaki itu menekankan intonasi suaranya di bagian akhir kalimat.

Mesin motor yang tadi mati karena kami memilih untuk berhenti sejenak akhirnya kembali dihidupkan. Lagi-lagi kami menyusuri jalanan tanpa tau kemana arah sesungguhnya dan semua itu diiringi dengan suara bising motor Gerhana.

🐚

Bakso kuah tak ada, jadi diganti dengan sate pinggir jalan. Tak apa. Meskipun bukan tempat berkelas atau tempat makan mewah tapi tempat ini akan menjadi tempat paling berekesan dijejeran kenanganku. Hal ini menjadi istimewa bukan karena tempatnya, tetapi bersama siapa moment itu diciptakan.

"Kamu ya, dari tadi gak puas-puas ketawain aku,"

Lelaki yang kini sedang protes itu menatap tajam ke arahku yang duduk di depannya. Bukannya merasa takut tawaku bahkan semakin menjadi.

"Kamu gak usah pasang tampan garang gitu deh Na, ga cocok sama wajah kamu yang sekarang lagi basah kuyup sama keringat," Ledekku.

Gerhana langsung mengambil tisu yang ada di meja. Menyeka seluruh keringat yang ada di wajahnya.

Gerhana adalah tipekal orang yang jika makan selalu berkeringat, hal itu yang sering menjadi alasan Gerhana untuk mencari tempat makan sepi tiap kali kami makan di luar. Katanya ia malu jika dilihat orang banyak. Padahal bagiku hal itu wajar-wajar saja.

"Masih ada gak?" Gerhana menengok ke arahku, berusaha memperlihatkan seluruh wajahnya. Meminta tolong agar aku meneliti bagian wajah mana lagi yang masih ada keringat.

Aku mengangguk, mengambil tisu lalu membantu lelaki itu menyeka sisa keringatnya. Aku tersenyum padanya dan langsung dibalas lelaki itu dengan tatapan kesal.

"Gak usah sok-sokan tebar pesona ke aku, gak mempan!"

Lelaki itu langsung buang muka ke arah berlawanan. Lalu mengambil gelas berisi es teh manis dan menenggak secangkir penuh itu dengan semangat.

"Gak mempan karena kamu udah terpesona sama aku dari lama kan?"

Gerhana tak lagi menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

Jadi aku diam.

Kami berdua diam, dengan Gerhana yang kembali menghabiskan sisa makanannya.

🐚

Lihat selengkapnya