Kenapa kesedihan selalu berdampingan dengan kebahagiaan? Tak bisakah sekali saja ia menunggu waktu yang tepat? Tapi, kapan waktu yang tepat itu? Apa ada manusia yang mau didatangi tamu yang bernama "Kesepian"?
Pelukanan hangat yang kupikir akan berlangsung lama itu akhirnya mau tak mau ku lepas. Suara deringan ponsel dari dalam sakuku sudah meraung minta segera dijawab.
Aku menarik diri bertepatan dengan nyanyian Dodi yang berakhir pula. Kurogoh bagian kanan saku celaku, dan ternyata Gerhana juga melakukan hal yang sama. Kami berdua, sibuk dengan ponsel yang kini berada ditangan masing-masing. Hingga satu kalimat dari Gerhana sejenak menghentikan pergerakan tanganku yang bimbing.
"Key, ibuku nelfon. Aku jawab dulu ya,"
Aku fokus menatap nama pemanggil yang tertara di ponselku. Mempertimbangkan apakah ini waktu yang tepat untuk aku mengangkat panggilan masuk itu. Namun, belum sempat aku menjawab, panggilan itu sudah mati dan setelahnya menampilkan satu notifikasi panggilan tak terjawab.
Ku hela nafasku dan tersadar bahwa aku belum memberikan jawaban atas ucapan Gerhana barusan, walaupun sebenarnya Gerhana juga harusnya tak perlu izinku untuk menjawab panggilan dari ibunya sendiri.
"Yaudah, angkat aja."
Gerhana yang mendapat jawaban dariku langsung berjalan menjauh, mencipta jarak yang lumayan jauh untuk kami berdua. Sedangkan aku ikut menjauh karena Azan yang tadi menelfonku kembali melakukan panggilan.
"Hallo,"
"Kamu lagi dimana Key?"
Aku menatap lurus pada Gerhana yang berdiri di sebrang jalan yang gelap. Entah apa yang ia dan ibunya bicarakan sampai harus mencari tempat sepi untuk menjawab panggilan itu.
"Lagi ngumpul sama teman-temanku, kenapa Zan?"
"Nggak ada, aku cuma mau ucapin selamat ulang tahun ke kamu,"
Aku tersenyum simpul. Gerhana yang tadinya samar-samar kulihat akhirnya mulai terlihat. Ia berjalan mendekat, tetapi wajahnya tak setenang biasanya.
"Makasih ya Zan," ucapku singkat. Kini perhatianku sudah sepenuhnya tersita oleh wajah panik sekaligus murung yang Gerhana tampilkan. "Oiya, nanti lagi ya kita lanjut telfonnya, temenku manggil," Aku terpaksa berbohong karena kondisi Gerhana saat ini adalah yang paling penting.
Aku yakin, lelaki itu sedang tak baik-baik saja.
🐚
Aku sama sekali tak mengerti, kenapa setiap seseorang berada di puncak kebahagiaan, selalu saja diikuti dengan kabar buruk setelahnya. Juga tak pernah terlintas di pikiranku Gerhana akan meninggalkanku. Segala janji yang lelaki itu ucapkan aku yakin suatu saat akan ia tepati. Iya, mungkin dia berusaha menepati semuanya, tetapi aku sendiri juga tak bisa menjamin waktu dan takdir akan memberi kami kisah happy ending. Kenapa aku bisa berpikir seperti ini? Ya karena, baru saja kebahagian itu hadir, perpisahan sudah berada di pulupuk mataku.
Meski sebenarnya perpisahan yang ku maksud bukanlah sebuah perpisahan yang sebenarnya. Gerhana hanya pergi. Pulang. Ke tempat orang tuanya. Tapi, entah kenapa jarak yang akan semakin terbentang lebar ini membuatku merasa tak yakin akan perasaanku dan tak menutup kemungkinan perasaan Gerhana ikut memudar.
"Aku harus pulang Key,"
Aku bahkan tak bisa meneteskan air mata sedikitpun saat Gerhana berucap seperti itu. Bukan karena aku tak bisa menangis, tapi karena aku merasa tak pantas.
Siapa aku sampai berani melarangnya pulang? Sedangkan aku tak bisa menawarkan rumah untuknya.
"Jadi, kita semakin jauh Na?" Tanyaku. Suaraku masih kuusahakan agar terdengar tegar.
Gerhana menggelengkan kepalanya. Mata lelaki itu sudah berkaca-kaca. "Aku harus pulang Key, Ibuku sakit." Air mata Gerhana langsung luruh seketika saat ucapan tentang ibunya berhasil iya terlontar.
Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlalu egois selama ini, dan tak mungkin aku menghalangi Gerhana untuk pulang. Pulang ke rumah yang selama ini selalu menjadi tempat yang paling ia hindari. Aku tau, Gerhana berat untuk pulang karena dulu ia pernah bercerita padaku tentang masa kecilnya. Masa kecil yang seharusnya tak perlu ia ingat.
"Iya, kamu harus pulang." Aku menarik tangan Gerhana untuk mengikuti langkahku. Menjauh dari keriuhan yang kini sedang terjadi di antara kami berdua.
"Bagaimana kalau aku gak bisa kembali? Aku sudah terlalu banyak berjanji. Aku gak mau jadi laki-laki yang gak bisa nepatin janjinya Key,"