Semakin kamu berusaha mengikat, dia tak mau terpikat.
Lalu saat kamu berusaha ikhas, justru dia yang tak ingin dilepas.
Apa kisah ini hanya sebatas permainan tarik ulur?

Tanpa aba-aba hujan turun begitu saja, membasahi segala yang ada di sekitarnya. Memunculkan berpuluh genangan pada setiap jalanan yang tak lagi rata.
Aku termenung. Memikirkan segala akibat dari kebohongan yang baru saja aku lakukan. Suara hujan yang riuh bahkan terdengar seperti melody yang merayuku untuk terus larut dalam pikiran yang lambat laun menjadi rumit.
Sejujurnya, menjadikan Mahesa sebagai media untuk melarikan diri dari segala pertanyaan tentang Gerhana bukanlah hal yang aku inginkan. Tapi, untuk saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tak mau terlalu banyak menjabarkan alasan lain kenapa aku berbohong tentang Mahesa kepada ayahku. Karena mau bagaimanapun, yang tidak menyukaiku akan tetap tak percaya segala alasan itu. Aku hanya mencari aman, agar para pembenciku dalam cerita ini tak terlalu meradang.
Sekelumit bayangan saat pertemuan pertama kali bertemu Mahesa mulai bermunculan di kepalaku. Sebuah pertemuan yang tadinya kupikir hanya sekedar lewat. Pertemuan yang hanya akan menjadi cerita sepintas lalu.
Aku salah. Dugaanku dulu salah.
Bertemu Mahesa justru menjadi awal sebuah cerita. Sebuah kisah cinta yang tak bisa ku tebak endingnya. Bertemu Mahesa menjadikanku sosok paling egois di dunia.
Apakah ini benar? Kini aku bahkan meragukan diriku sendiri.
Lagi-lagi aku ingin berlari.
Lari dari segalanya.
Aku tak ingin lagi diganggu perihal rasa.
🐚
Mahesa Calling...
Ini panggilan kedua yang lelaki itu tujukan padaku malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, dan aku merasa enggan menjawab panggilan itu. Bukan karena aku sok jual mahal, tapi aku malu karena secara tidak langsung aku mengaku-ngaku menjadi pacar Mahesa.
Lampu dari layar ponselku kembali meredup. Panggilan masuk dari Mahesa telah berhenti dan menyisakan dua pemberitahuan panggilan tak terjawab.
Hujan yang sedari tadi menemaniku larut dalam pikiran sendiri tampaknya juga sudah mulai lelah. Ia yang tadinya sibuk menurunkan air mata di luar sana sudah tak lagi ada. Menyisakan genangan air dan meninggalkan sisa ketegangan akibat petir yang ikut menyambar saat kehadirannya.
Rasanya aku ingin kembali mengulang tangis. Melepaskan segala sesak yang kurasakan karena penolakan yang baru saja kuterima. Memang, bukan aku yang ditolak. Ayah hanya menolak Gerhana. Tapi, mau bagaimanapun rasanya tetap saja, seolah-olah pertemuanku dengan Gerhana memang tak boleh terjadi.
Tapi aku bisa apa?
Aku bukan tuhan yang bisa mengatur segala yang terjadi. Aku hanya gadis biasa yang kini terjebak pada situasi yang mengharuskanku untuk memilih. Antara ikhlas melepaskan, lalu memulai hubungan yang baru dengan sosok yang baru pula. Atau tetap seperti ini saja, mengikat Gerhana pada sebuah hubungan yang tak jelas arahnya.
Sejujurnya aku menyukai opsi kedua.
Aku ingin, Gerhana hanya untukku.
Meski aku si gadis tak tau malu ini diam-diam juga memiliki rasa pada Mahesa.
Mahesa Calling...
Ku lirik ponselku yang lagi-lagi berbunyi dan menampilkan nama Mahesa.
Ku tatap langit-langit kamarku yang menampilkan stiker dengan banyak bintang yang sengajaku pasang agar paling tidak saat di luar sana langit tak menampilkan bintang setidaknya aku masih bisa melihatnya di kamarku sendiri.
Ku timang-timang ponsel yang kini kugenggam. Mempersiapkan mental dan juga hati.
"Iya Sa, kenapa?"
Aku si gadis tak bisa berbasa-basi. Bahkan pada lelaki yang disukai, sama sekali tak bisa bersikap manis. For your informasi aku adalah type wanita yang jika menyukai seseorang aku akan bersikap seolah-olah tidak menyukainya agar mereka tak tau perasaanku.
"Hari ini bagaimana?"
Aku terdiam sejenak. Mencerna maksud dari ucapan Mahesa.
"Bagaimana maksudnya?"
Aku blank. Sama sekali tak bisa mencerna maksud Mahesa.
"Sekarang hari ulang tahun kamu kan, jadi apakah berjalan dengan baik?"
Aku mengangguk meski sadar Mahesa takkan bisa melihatnya.
"Baik kok Sa, kamu apa kabar?"
"Baik,"
Hening. Tak ada lagi yang berniat mengeluarkan suara. Aku sebagai lawan bicarapun tak tau harus mengatakan apa. Aku terlalu takut melakukan kesalahan.
"Kamu..."
"Sa,"
Aku berhenti melanjutkan kalimat saat Mahesa juga berbicara.
"Kamu mau bilang apa Key?"
Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Mencari topik ternyata sesulit ini.
"Menurut kamu, aku itu gimana sih Sa?"