Dismiss

Rima Selvani
Chapter #17

Fine Out

Kamu dipatahkan, bukan untuk meratapi lalu menyerah

Dia pergi, bukan berarti poros perputaran hidupmu akan berhenti

Kamu hanya perlu berusaha dan bersabar sebentar lagi.

Setelah apa yang baru saja terjadi, aku tak dapat lagi menerka apa yang akan tiba selanjutnya. Besok adalah hari pertama masuk kuliah dan mataku masih tak bisa terpejam. Panggilan telfon masuk dari nomor Gerhana sukses menyita seluruh kewarasanku. Gerhana pergi membawa semuanya.

"Aku tunangannya Gerhana,"

Suara perempuan itu masih terngiang-ngiang. Kututup mataku rapat dan lagi-lagi air mataku keluar. Seluruh kenangan bersama Gerhana menguar, segala sesak itu kembali terasa.

"Key, kamu belum tidur?"

Ku putar badanku menghadap Lara yang tidur disudut kamar kami yang lain. Gadis itu tak jauh beda denganku, matanya sembab hidungnya merah. 

"Belum, aku gak bisa tidur Ra. Aku kepikiran Gerhana,"

Lara mendengus, lalu kulihat ia mumatar bola matanya jengah.

"Apa lagi sih yang kamu khawatirin Key? Dia gak ada kabar salama seminggu bukan karena dia kenapa-kenapa. Dia gak ada kabar karena dia udah punya cewe lain. Harusnya kamu sadar Key,"

Aku terdiam sejenak, ucapan Lara membuatku benar-benar bungkam. Gadis itu benar, tapi entah kenapa aku masih tak terima akan fakta itu. Aku yakin Gerhana punya alasan kenapa ia melakukan itu. Aku ingin mendengar semuanya langsung dari Gerhana.

"Ra, itu di depan kamu ada kaca," Aku melirik kaca besar yang tertempel di dinding kamar dekat gadis itu tidur. Lara yang mendengar ucapanku seperti itu langsung menampilkan wajah kebingungannya.

"Apa korelasi antara Gerhana dan kaca?"

Aku tersenyum sekilas, melempar boneka beruang berwarna hijau pemberian Gerhana setahun yang lalu ke arah Lara. 

"Kamu ngaca Ra, kamu aja sampe detik ini masih nangisin Dipta, itu tandanya kamu masih mikirin laki-laki itu,"

"Aku gak nangisin Dipta, Key," Lara menjeda ucapannya bertepatan dengan melayangnya boneka hijau keluar kamarku. Lara sengaja melemparnya. "Cuma rasa sakit yang dia buat masih kerasa dan aku bisa apa kalau air mataku masih mau keluar?"

Kami diam dan beberapa detik setelahnya tertawa serentak.

"Dasar cewe galau, bentar lagi gila nih," 

Lagi-lagi aku dan Lara tertawa karena tanpa aba-aba sama sekali kami berucap hal yang sama di saat yang sama pula. 

Benar kata orang, cinta bisa merubah segalanya. Yang waras saja bisa tiba-tiba berubah menjadi gila.

🐚

"Karena ini hari pertama kalian belajar bersama saya, jadi untuk hari ini sampai di sini dulu. Semoga kalian betah bersama saya selama satu semester ini."

Aku mengepak binder dan pulpen yang berserakan di atas mejaku. Kuperhatikan lagi coretan-coretan kecil yang ada di bagian belakang binder. Nama Gerhana dan Mahesa tertera di sana, dan yang melakukan itu sudah pasti adalah diriku sendiri. Melihat kelakuanku ini aku jadi teringat kejadian saat SMA dulu. Kejadian memalukan yang sampai kapanpun takkan pernah aku lupa.

Kalian mau tau apa?

Baiklah, akan aku ceritakan secara singkat.

Saat itu, kalau aku tidak salah ingat kejadiannya terjadi pada hari rabu. Ada tugas bahasa Indonesia, yaitu menulis puisi. Kegiatan ajar-mengajar awalnya berjalan biasa-biasa saja, sampai saat guru bahasa Indonesiaku yang merupakan salah satu guru laki-laki paling killer di sekolah meneriakkan sebuah nama. Ia memanggil nama lengkap Gerhana sambil mengangkat tinggi-tinggi buku yang aku tau itu adalah milikku. 

Mengingat hal itu membuatku sadar, jika dari dulu sampai sekarangpun Gerhana memang selalu menjadi pusat kehidupanku. Ia adalah kelam yang justru membuat hidupku berwarna.

"Key, habis ini kamu masih ada kelas?"

Kusandang totebag hitam bergambar kartun beruang putih kesayanganku. Berjalan beriringan dengan Tasya teman sebangkuku dalam mata kuliah umum bahasa Indonesia kali ini. Gadis dengan tinggi kira-kira 160 cm dan sedikit berisi itu masih berada disampingku, sepertinya masih menunggu jawaban.

"Gak ada sih, kenapa Sya?"

"Main yuk, kebetulan aku juga gak ada kelas lagi,"

"Kemana?"

Sejujurnya aku ingin segera pulang ke kos, karena rasanya tubuhku terlalu lelah. Mungkin karena semalam aku baru tidur jam empat pagi dan jam tujuh pagi bangun lagi karena jam delapan paginya aku ada kelas.

Lihat selengkapnya