Dismiss

Rima Selvani
Chapter #18

Reflection

Aku menatap ke dalam cermin. 

Seperti melihat sebuah film sedang dirancang.

Menerka-nerka sisi lainku yang mana sedang mengambil peran.

Seminggu masa perkuliahan telah dilewati. Semakin lama Aku, Mahesa, Azan, Pradipta dan Kelvin juga semakin dekat. Lalu, bagaimana dengan Lara? Entahlah, aku sendiri bingung dengan teman sekamarku itu. Seminggu ini dia jarang sekali pulang ke kos. Ia lebih memilih menginap di kos temen satu jurusannya. Saat kutanyai kenapa gadis itu jarang tidur di kos ia juga tak menjawab. Membuatku merasa ada sesuatu yang salah terjadi di sini.

Aku menatap lurus ke depan, menghitung mundur jam perkuliahan akan berakhir. Jujur saja, ini adalah pelajaran paling membosankan menurutku, pelajaran yang membuatku lebih memilih bermain game diponsel sendiri dari pada memperhatikan apa yang sedang dosen itu jelaskan. Semua yang ia jelaskan sudah ada di buku materi yang kami beli, ia hanya membacakan.

Tring!

Dering ponsel yang lupa kuubah menjadi mode diam itu membuat seluruh penjuru kelas melihat ke arahku. Bahkan dosen perempuan dengan setelan merah dan hijab merah dengan konde seperti milik ibu pejabat itu juga menatap ke arahku sebentar. Tanpa mengucapkan apa-apa dosen yang biasa kami sebut dengan ibu Er itu kembali membacakan isi buku ditangannya.

Pradipta

Key, hari ini kamu kuliah sampai jam berapa?

Dahiku mengeryit seketika saat mendapati pesan masuk dari Dipta. Tumben sekali ia tiba-tiba bertanya langsung seperti ini padaku. Biasanya kalaupun Dipta memang ada keperluan denganku, ia lebih memilih menyampaikan hal itu pada Azan dan setelahnya Azan akan menyampaikannya padaku. Seperti itu terus, seolah-olah Azan adalah pos surat kamu berdua.

Keyra:

Hari ini aku selesai kuliah jam 3 Ta, kenapa?

Kutelungkupkan ponselku saat buk Er tiba-tiba saja sudah berjalan ke arahku. Bukan ke arahku sih, lebih tepatnya ia berjalan ke arah meja dibelakangku. Aku menghela nafas lega saat buk Er yang bisa dikatakan baik namun killer saat mahasiswanya tak membawa buku cetak saat pelajaran itu melewatiku.

"Agus, semalam kamu ngapain aja?" ucap Buk Er, ini belum seberapa. Masih kata-kata tanpa nada yang keluar.

Seluruh mata kini tertuju pada kursi di belakangku yang dihuni oleh Agus. Lelaki urakan dengan rambut lurus hampir sepanjang bahu itu mengucek matanya, membersihkan sisa-sisa air liur yang tanpa sadar keluar saat ia tertidur.

"Hehehe...maaf buk, kemarin saya begadang ngerjain tugas dari Pak Tono yang banyaknya minta ampun," ujar lelaki itu.

Aku menganggukan kepalaku tanpa sadar, karena merasa ucapan Agus memang benar. Pak Tono jika memberi tugas memang selalu banyak, dan tugas itu harus dikumpulkan tepat waktu. Terlambat saja satu detik maka nilai untuk tugas yang sekaligus nilai untuk ujian itu tidak akan keluar. Singkatnya, jika dalam satu semester Pak Tono memberikan tiga jenis tugas dan salah satu ada yang tidak dikerjakan. Jumlah nilai setiap tugas yang dikumpulkan akan tetap dibagi tiga dan nilai itulah yang akan menjadi nilai akhir perkuliahan. Atau biasa disebut dengan IP (Indeks Prestasi).

"Jadi sekarang Agus masih ngantuk?" tanya Buk Er.

Kalian pasti berpikir kenapa Buk Er tak marah pada Agus kan? Menurutku bukannya tidak pernah marah, hanya saja Agus adalah ketua kelas di sini, dan setiap ada keperluan selalu lelaki itu yang bisa diandalkan, ya meski terkadang ia juga sering lalai dengan tugasnya. Agus ini salah satu anggota BEM fakultas, jadi selalu ada toleransi untuknya.

Aku masih dalam posisi menghadap ke belakang, melihat Agus yang kini sudah berdiri dari tempatnya duduk. "Agus pamit cuci muka dulu Buk," ujarnya.

Lelaki itu pergi dan aku langsung kembali ke posisi awal. Menatap jam yang menunjukkan jika setengah jam lagi perkuliahan akan berakhir. Lelah sekali rasanya, aku ingin segera pulang.

🐚

Langit mendung. Gemuruh sudah semakin sering muncul. Tapi aku tetap saja tuli, mengabaikan apa yang sedang terjadi di luar dan fokus membenahi diri. Baju setelan celana yang susah payah ku pasangkan semoga saja cocok untuk dibawa ke pesta pernikahan.

Tin! Tin! Tin!

Dari suara klaksonnya yang tak sabaran bisa kupastikan tersangka yang membuat gaduh ini adalah Pradipta. Lelaki yang tadi siang memaksaku berjanji untuk pergi menemaninya ke pesta pernikahan itu membuatku kesal.

"Aku gak tuli, sekali aja pencet klaksonnya," gerutuku saat sudah keluar dari kos. Kulihat Pradipta nyengir di atas motornya yang masih menyala.

"Kemana sih kondangannya?" tanyaku lagi, sembari memakai sepatu kets berwarna merah maroon yang serasi dengan setelan atasku.

"Jauh, pokoknya kalo mau kesana harus pake helm," jawab Dipta. 

Aku berjalan mendekat. Mengikat tinggi rambutku, sebelum memakai helm teman kos yang sebelumnya sudah ku pinjam. "Kalo mau pergi-pergi pake motor ya emang harus pakai helm Ta, yang aku tanya nama tempatnya di mana?" ucapku lagi. Lelaki yang kutanyai hanya tertawa sambil celingak-celinguk melihat kosku, membuatku semakin ingin memindahkan mata itu dari tempatnya.

"Udah ikut aja, aku gak bakal aneh-aneh ke kamu," sahut Dipta sangat santai. Setelah memastikan aku naik dengan posisi yang aman, Dipta langsung mengemudi motornya dengan pelan.

"Lara tau kamu pergi sama aku?"

"Kok gak bilang sih Mahesa juga ikut?" ucapku saat melihat ternyata ada Azan, Mahesa, Kelvin dan satu teman mereka yang lain sedang duduk dimotor menunggu kami berdua di simpang gang kosku.

Dua pertanyaan itu terlontar secara bersamaan. Kami kembali diam, sama-sama memberi kesempatan lawan bicara untuk menjawab terlebih dahulu, dan untuk kali ini aku yang akan menjawab terlebih dahulu.

"Gak tau, Lara jarang pulang ke kos, aku juga jarang ketemu dia. Aku ngerasa dia ngejauh dari aku," ucapku. Sesekali melirik kaca spion. Memperhatikan Mahesa yang kini mengendarai motor milik Kelvin ditemani oleh Azan.

"Kalian berdua baik-baik aja kan?" tanya Dipta lagi, membuatku bertanya-tanya sendiri apa maksud ucapannya.

"Maksudku, Lara gak sedang ngejauhin kamu kan?"

Lagi-lagi dahiku berkerut mendengar penuturan Dipta. Apa salahku pada Lara sampai aku harus dijauhi olehnya?

"Kamu beneran gak sadar atau pura-pura gak peka sih Key?" hardik lelaki itu kepadaku. 

Aku menoleh kesebelah kananku, melihat Mahesa yang kini beriringan dengan kami. Wajah lelaki itu datar, melihatku seperti melihat orang asing. Apa selama ini Mahesa memang menganggapku orang asing? makanya ia sama sekali tak menyadari perasaanku untuknya?

"Tunggu, maksud kamu apa sih Ta? Serius aku benar-benar gak ngerti maksud kamu apa. Kenapa Lara ngejauhin aku? Karena aku masih berteman sama kalian?" ujarku akhirnya. Sekeras mungkin ku tempis rasa gelisah karena wajah tak berperasaan yang tadi Mahesa perlihatkan padaku. Aku juga sudah tak lagi menghadap sebelah kanan, menghidari kontak mata dengan lelaki yang mungkin sedang dalam mode dingin itu.

"Serius beneran ga tau? Tapi wajar sih kamu gak tau, kamu kan orangnya gak peka Key." Tutur Dipta dan aku jelas saja kesal dengan ucapannya. Kalau tak ingat jika kini kami sedang di tengah jalan dan Dipta sedang mengemudi, mungkin aku tak akan segan mencekiknya sekarang juga. 

"Please Ta, otakku lagi gak mau mikir yang ribet-ribet. Kalau kamu mau ngomong langsung to the point aja."

Lampu lalu lintas berubah merah.

Pundak Pradipta bergetar, tawanya meledak. Ku tolehkan kepalaku ke arah kanan dan kiri, melihat reaksi pengemudi disekitar kami. Saat menyadari beberapa di antara mereka melihat dengan pandangan aneh ke arah kami, refleks kupukul pudak Dipta kuat. Memberinya aba-aba untuk mengehentikan tawa, lagipula tak ada hal lucu yang patut untuk ditertawakan.

Lihat selengkapnya