Dismiss

Rima Selvani
Chapter #19

Give And Take

Tanpa sadar, aku terlalu banyak memberi pupuk pada harapan. Sehingga saat ia bertambah besar dan saat tak kudapati sesuai yang kuingini, lukaku berbanding lurus dengan besarnya harapan itu.

***

Mata kuliah "Drama" ternyata tak cukup kuat untuk membuatku berpaling dari kejadian semalam. Hidupku bahkan konfliknya lebih hebat dari drama kebanyakan. Meskipun ucapan itu tak kudengar dari Azan langsung, tapi dari wajah serius yang kemarin Mahesa tampil semakin membuatku kepikiran.

Gak Mahesa, gak Gerhana keduanya sama saja, gerutuku dalam hati. 

Ponselku bergetar, saat kulihat dari notifikasi chat, yang mengirim pesan padaku adalah Azan. Jujur saja, setelah mendengar penuturan Mahesa kemarin, sebagian diriku ingin sekali menjauhi Azan. Bukan karena tak nyaman dengan fakta bahwa Azan menyukaiku, tapi aku tak mau Azan sakit hati apalagi dia sering kujadikan tempat curhat tentang Mahesa sedari dulu. 

Keyra:

Lagi ada kelas.

Kubalas pesan dari Azan seadannya. Semoga saja Azan tak lagi membalas pesanku.

Azan:

send a picture.

Aku tersenyum, melihat wajah tersenyum Mahesa yang baru saja dikirim Azan. Sebenarnya disana bukan hanya ada foto Mahesa, melainkan foto Azan dan Mahesa. Tapi, seperti gadis kasmaran pada umumnya, yang jadi pusat perhatianku kini hanya Mahesa.

Azan:

Sengaja aku kirim biar kamu semangat kuliahanya.

Aku tak ingin bersikap dingin pada Azan, apalagi ia sebaik ini padaku. Tapi, kembali lagi pada diriku sendiri. Jika kubiarkan terus-terusan begini Azan akan semakin menaruh rasa padaku dan aku tak ingin hal itu terjadi. Azan itu adalah teman yang baik. Aku tak ingin ia terluka apalagi karenaku.

"Keyra Derandra Gabriella!"

Aku menoleh saat dosen laki-laki yang terkenal asik dan jenaka itu memanggil namaku. Aku melihat sekeliling saat teater tertutup kampus yang kini kami jadikan kelas untuk mata kuliah Drama ini sudah gelap. Entahlah, aku sendiri tak tau kapan lampu teater tertutup ini dimatikan. Di panggung kecil yang kini ada di hadapanku sudah terpampang masing-masing nama dengan judul besar "Kelompok Drama."

"Keyra Derandra Gabriella!" sekali lagi namaku dipanggil dan aku semakin panik dibuatnya. Teman-temanku yang tadi duduk di sebelahku bahkan kini sudah berpencar mengumpul di beberapa titik.

"Key, ini lagi pembagian kelompok," bisik teman sekelasku yang bernama Maya.

"Saya pak!" teriakku balik. Untunglah masih ada Maya yang berdiri di belakangku.

"Kelompok 4 ya,"

Aku mengangguk, setelahnya bergegas mendekati teman sekelompokku. Lagi-lagi aku bersyukur karena Maya memberitahuku dimana posisi kelompok empat berdiri.

"Key, kita satu kelompok." Aku tersenyum menanggapi ucapan Dewa. Lelaki yang aku tau teman satu jurusan tapi berbeda kelas denganku. Dia laki-laki yang cukup terkenal dijurusan, jadi wajar saja jika aku tau namanya. 

"Aku baru sadar kalo hari ini kelas kita gabung."

Serius, karena memikirkan ucapan Mahesa aku sampai tak sadar jika kali ini jurusan sastra angkatanku digabung.

"Emang mikirin apa sampai gak fokus gitu?"

Ponselku bergetar. Pasti pesan dari Azan lagi, ucapku dalam hati. "Gak mikirin apa-apa cuma lagi ngantuk,"

"Oh oke. Kalau ada masalah, jangan lupa cerita. Cerita itu salah satu cara buat ngurangin beban."

Aku tau. Apa yang Dewa katakan memang benar, dan sejujurnya aku memang tak ingin menyimpan bebanku sendirian. Hanya saja, tepat biasaku bercerita sudah tak lagi ada. Biasanya Gerhana yang menjadi tempat keluh kesahku. 

"Oke, kelas hari ini kita akhiri. Kalian bisa berunding dulu, mau ambil film atau drama. Minggu depan saya tunggu laporannya," 

Kelas hari ini berakhir. Penasaran, kubuka ponselku dan kurasa kalian bisa menebak siapa yang mengirim pesan.

Mahesa:

Key nanti malam aku ke sana ya.

***

 "Kamu sendirian?"

"Iya"

"Gak bareng Dipta, Azan dan Kelvin?"

"Udah sering bareng mereka. Bosan."

"Lah, ketemu aku emang gak bosan?"

"Bosen sih...." Mahesa menggaruk tengkuknya.  

"Tapi kangen aku? Iya kan, ngaku?" potongku, sengaja melanjutkan ucapan Mahesa.

Mahesa tertawa. Aku tersenyum senang melihatnya.

"Kamu kayaknya ketularan virus narsis Kelvin deh Key," 

Kini aku menahan tawa. Benar sih, yang sering narsis seperti ini adalah Kelvin. Setiap saat lelaki itu pasti memuji dirinya sendiri tampan.

"Ye, kepedean itu penting Sa, dari pada jadi pemalu dan minderan."

"Ya gak minderan juga." Mahesa berseru kesal. "Yaudah, buruan naik," Lanjutnya.

"Lah, naik? Mau kemana emang?"

"Mau ke kantor urusan agama."

"Kamu mau nikah Sa? Ih kok gak nanya aku dulu. Aku kan belum siap jadi istri kamu." ucapku. Aku tau Mahesa hanya bercanda, tapi tak ada salahnya kan jika aku menimpali seperti itu. Sekalian kode keras untuk Mahesa.

Aku menahan tawa, melihat wajah merah tanpa ekspresi yang kini melekat pada Mahesa.

"Kamu mau lanjut godain aku apa mau ikut aku sekarang?" Mahesa tampak sengaja menarik gas motornya kuat hingga suara motor itu berbunyi cukup keras. Cekatan, aku berlari masuk ke dalam kos untuk meminjam helm dan kembali berlari keluar.

"Udah silahkan jalan, abang-abang gak sabaran," ucapku setelah berhasil duduk dengan posisi nyaman.

***

Mahesa membelokkan motornya ke kiri lalu setelahnya berhenti mendadak. Jujur saja, meskipun aku sudah setahun lebih di kota ini, aku masih susah menghafal jalan. Mahesa melepas helm-nya lalu memutar sedikit tubuhnya kebelakang menghadapku.

"Mau sampai kapan kamu duduk di sini?"

"Sampai kamu nyuruh aku turun."

Lihat selengkapnya