Dismiss

Rima Selvani
Chapter #20

Unready To Let Go

Aku terbelit pada perasaan sakit yang aku ciptakan sendiri. Bodohnya lagi aku tak bisa berkelit pada sekelumit perasaan yang jelas bukan untukku. 

***

Seminggu berlalu. Seminggu itu pula aku memikirkan tentang ucapan Mahesa. Aku tau ada maksud dari ucapan laki-laki itu. Entah itu peringatan untukku agar tak menaruh harapan padanya atau untuk memberi batasan padaku jika kami memang tak bisa lebih dari sekedar teman. 

Mahesa tak salah. Jika di posisinya mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, dan aku telah melakukan itu kepada Azan. Lelaki itu seminggu belakangan ini aku jauhi. Tiap pesan masuk darinya, baik itu hanya sekedar bertanya kabar atau mengirimi foto Mahesa, hanya aku balas sekedarnya. Bahkan tak jarang hanya ku baca.

Kalau seperti ini terus aku bisa dikategorikan kedalam tokoh egois yang jahat. Tapi tak apa, karena menurutku sakitnya hanya akan sebentar. Berbanding terbalik jika aku masih terus-terusan memberi lelaki itu harapan yang sebenarnya tak bisa kupertanggungjawabkan.

"Kamu mikirin apa sih Key?" 

Aku tersentak. Melihat Tasya yang sudah duduk di sampingku. Ku lihat sekeliling, sepertinya sudah cukup lama aku melamun. Karena, kini sudah ada beberapa teman sekelasku, padahal aku orang pertama yang datang.

"Suka sama cowok yang gak pasti itu rasanya sengeselin ini ya Sya," keluhku. 

Tasya yang sepertinya tak mengerti maksudku langsung menggeser kursinya untuk lebih dekat ke arahku. "Kamu lagi suka sama siapa?" tanyanya.

Aku menghela nafas kesal. Aku lupa kalau aku sama sekali belum cerita tentang Mahesa. Sebulan mengenal Tasya ternyata belum cukup membuatku terbuka dengannya.

"Kalo aku sebut namanya kayaknya kamu juga gak bakalan kenal Sya."

"Makanya, cerita Key. Perasaan udah sebulan kita kenal tapi cuma aku yang cerita semua ke kamu. Kamu gak anggap aku temanmu?"

"Bukannya gitu Sya. Aku takut cerita ke kamu. Nanti malah jadi beban, aku tau kamu udah terlalu banyak punya masalah."

"Kalau kamu gak mau ngebebanin aku, berarti kamu gak nganggap aku ini temanmu. Teman itu ada untuk saling berbagi beban Key."

Aku diam. Apa yang Tasya katakan sukses menamparku telak. Pada Lara, Amelia dan teman-temanku yang lain aku bisa terbuka sekali. Tapi sama Tasya berbeda, aku lebih tak ingin membebaninya. 

"Yaudah, kalau kamu gak mau cerita aku pergi."

Tasya beranjak, setelah gadis itu selesai mengotak-atik ponselnya.

"Kamu mau bolos?"

"Sumpah Key, kalau kamu gak mau cerita sama aku. Cerita sama siapapun itu. Kamu benar-benar kehilangan fokus."

Tasya menenteng tas kecilnya. "Coba cek grup whatsapp, disitu ada info kalau dosennya gak masuk," tukas Tasya lalu berlalu pergi begitu saja.

***

"Jadi menurut kamu aku harus ngelakuin apa?"

"Kamu beneran suka sama dia Key?"

Aku mengangguk. "Kalau aku gak beneran suka sama dia, terus kenapa aku galauin dia Sya. Kurang kerjaan banget."

Setelah mengejar Tasya yang tadi pergi begitu saja meninggalkanku akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi. Tentang hubunganku dan Gerhana, tentang Mahesa dan tentang Azan.

"Aku pikir, cuma cowo yang bisa begitu, ternyata cewe bisa juga ya." gumam Tasya dan aku jengkel mendengarnya. Dari ucapan gadis itu, tampaknya ia menyamakan aku dengan mantan kekasihnya yang masih mencintai gadis lain saat mereka berpacaran.

"Mau cewe, mau cowo. Dua-duanya manusia. Sama-sama punya perasaan," tukasku. Meskipun aku jengkel dengan ucapannya tapi aku tak menyangkal hal itu. Manusia, yang punya perasaan pasti ada yang terjabak dalam situasi sepertiku. Mencintai dua orang dalam satu waktu.

"Bukan maksudku mau membenarkan itu, tapi kalo udah masalah perasaan kebanyakan selalu gak bisa diterima pake akal. Masuknya langsung ke hati, gak lewat otak dulu Sya."

"Aku juga gak mau nyalahin siapa-siapa Key," Tasya menjeda ucapannya saat seseorang lewat di depan kami dan menyapanya. "Cuma kalau aku jadi Mahesa, aku juga bakal mempertanyakan perasaan kamu."

"Maksud kamu?"

"Tadi kamu bilang, kalau Mahesa tau tentang Gerhana. Menurut aku dia juga sadar sama perasaan kamu yang masih belum selesai sama masalalu itu." lanjutnya. 

Aku diam, lebih tepatnya merenungi setiap kata-kata yang Tasya ucapakan. "Mana ada orang yang mau percaya kalau kamu suka dia, tapi kamu masih terjebak sama orang lain. Kasarnya, kamu jadi nyepelein dia. Kesannya kamu sedang main-main."

"Jadi apa yang harus aku lakuin?"

"Kamu serius suka sama dia?"

Aku mengangguk, karena hanya itu yang bisa aku lakukan.

"Gerhana bagaimana Key?"

Lagi-lagi aku dilanda kebingungan. Bukannya Gerhana yang meninggalkanku. Jadi kenapa aku harus merasa bersalah seperti ini?

"Sejak aku tau, dia udah punya tunangan. Sejak saat itu juga aku udah gak menaruh harapan apa-apa lagi ke dia Sya."

"Tapi, kamu masih sayang dia kan?"

"Aku sedang berusaha buat hilangin perasaan itu Sya. Dan aku pikir Mahesa bisa jadi alasan buat aku lupain Gerhana."

"Kamu tau Key, kamu itu egois."

Ya aku tau, jawabku dalam hati. Aku tau dari awal apa yang aku lakukan ini adalah hal paling egois yang bisa saja bukan hanya menyakitiku, tapi juga orang-orang disekitarku.

"Aku gak mau bela diri. Karena aku emang sedang berada di posisi itu. Aku cuma gak mau dihatui bayang-bayang masalalu yang belum selesai."

"Jadi sekarang apa yang mau kamu lakuin?"

"Aku mau bilang sama dia tentang perasaanku."

"Tapi, bukannya dia udah tau?"

"Dia mungkin udah tau, tapi aku mau dia tau kalau aku gak main-main." tukasku.

"Sumpah Key, aku gak tau mau bilang apalagi. Boleh tau gak orangnya yang mana?"

Aku tersenyum, melihat Tasya yang tampak antusias. Ku keluarkan ponsel dari saku celanaku, lalu kuperlihatkan foto kami berdua. Foto satu-satunya yang kumiliki. 

"Gimana?"

Tasya tak menjawab. Wajah antusiasnya berubah kaku.

"Mahesa yang kamu maksud itu dia?"

Aku tak menjawab. Merasakan hal buruk akan terjadi. 

"Benar ya kata orang, bumi itu kelihatannya aja yang luas. Tapi buat orang-orang seperti kita dia cukup kecil."

"Kamu kenal Mahesa?"

Tasya menggeleng, jawaban yang membuatku semakin bingung.

"Aku gak kenal dia secara langsung. Tapi temanku kenal dia." Tasya menatapku dengan pandangan prihatin. Melihatku seperti aku ini gelandangan yang patut untuk dikasihani.

Lihat selengkapnya