Jika malam pertemuanku denganmu adalah malam terbahagia yang aku harap tak akan pernah berakhir. Maka malam ini adalah malam mengerikan yang aku harap hanya mimpi buruk. Meski keinginanku terdengar terlalu muluk, karena aromamu saja sudah tak bisa lagi ku hirup.
Mungkin ini akan menjadi malam terakhirku melihat tawa mereka. Tawa yang seolah-olah sedang mengajakku untuk tertawa bersama. Setelah tadi berdebat persoalan rasa dengan Mahesa, kami berdua bertingkah seperti tak terjadi apa-apa. Padahal badai itu baru saja menerpa.
Aku mendekati Tasya yang kini sedang asik bercengkrama dengan Azan dan Dipta. Sedangkan Kelvin dan Kanaya sibuk berdua. Mahesa, entahlah. Entah apa yang dipikirkannya. Lelaki itu sedari tadi bahkan hanya menunduk. Melihat sepatu yang ia gunakan basah begitu saja.Hujan masih belum reda, bahkan semakin kencang seolah-olah hujan malam ini tak akan berhenti hingga matahari terbit esok hari. Diam-diam aku melirik Mahesa. Rasanya seperti kembali pada saat kami pertama kali bertemu.
Terlalu canggung.
Mahesa berhenti dari aktifitasnya memperhatikan sepatu basah itu saat ponselnya berdering. Lelaki itu beranjak dari meja tempat kami duduk. Membentang jarak yang cukup jauh.
Pikiranku berkecamuk, menerka-nerka dengan siapa kini Mahesa berbicara. Aku tak suka, tapi aku juga tak punya kuasa apa-apa.
Azan mendekat, ia yang tadinya duduk disebelah Tasya langsung bangkit saat mendengar pesanan bakso kami telah selesai. Menuju gerobak bakso tempat penjual meracik makanannya lalu kembali membawa dua mangkok bakso di tangan, dibelakangnya menyusul Dipta dan Kelvin. Enam mangkok bakso kini sudah berada di meja, tinggal satu mangkok lagi milik Mahesa.
Tadi. Setelah aku menyelesaikan percakapan dengan Mahesa. Aku dan yang lainnya sepakat untuk mencari sebuah tempat makan, paling tidak bisa memberi kami tempat untuk berteduh dan mengisi perut keroncongan yang tiba-tiba saja minta diisi karena kedinginan. Pinggiran ruko tempat kami berteduh sebelumnya sudah tak lagi mempan melindungi kami dari curah hujan yang semakin tinggi.
"Mahesa telfonan sama siapa?"
Aku menoleh menatap ke arah Azan yang sudah duduk di sebelahku, menggantikan posisi Mahesa. Lelaki itu gelagapan saat pandangan ku tak sengaja berserobok dengan netra hitam miliknya.
"Kamu udah tau Zan?" tanyaku, tapi kuusahakan suaraku sepelan mungkin. Kelvin yang tadi bertanya kulihat masih menodong Pradipta untuk menjawab pertanyaannya. Azan menggaruk kepalanya yang aku tebak tidak gatal sama sekali.
"Tau apa?" balasnya tak kalah pelan.
"Soal Mahesa yang udah punya pacar."
"Ha? Mahesa yang bilang gitu ke kamu?"
Bola mata lelaki itu membesar, tapi aku tau itu reaksi yang sengaja dibuat-buat. Sekali lagi, kulirik Pradipta yang masih tak memberi jawaban atas pertanyaan Kelvin, dari sini aku simpulkan bawah Azan dan Pradipta sudah mengetahuinya, hanya Kelvin dan Kanaya yang belum tau.
"Gak, Mahesa gak ada bilang ini ke aku," ucapku. Aku tak berbohong kan, karena Mahesa memang tak memberitahuku. Kalau tidak ada Tasya mungkin sampai saat ini aku masih saja seperti orang bodoh yang berharap pada milik orang lain. Kalau tidak ada Tasya mungkin harapanku pada lelaki itu akan semakin besar.
"Terus kamu tau dari mana?"
Aku menghela nafas panjang. Aku sudah tau, jadi harusnya tak perlu lagi berbohong seperti ini. Kalimat itu hanya mampu aku ucapkan dalam hati. Jika ditanya bagaimana perasaanku, tentu jawabannya kecewa. Apalagi Azan dan Pradipta tau bagaimana perasaanku pada sahabatnya itu.
"Sepertinya aku gak perlu ngasih tau kamu aku tau soal ini dari siapa. Sekarang yang butuh jawaban itu aku, bukan kamu. Kenapa gak bilang sama aku tentang ini?"
"Aku gak punya hak apa-apa untuk bilang itu," jawab Azan.
Aku diam, karena apa yang lelaki itu ucapkan memang benar. Yang memiliki wewenang untuk itu hanya Mahesa, aku yang bukan siapa-siapanya pun juga tak bisa menuntut untuk diberitahu. Aku bukan keluarganya, bukan saudaranya dan mungkin sebentar lagi bukan jadi temannya.
"Lagi ngomongin apa pake bisik-bisik gitu?"
Aku dan Azan refleks memutar badan ke belakang. Mahesa kini tepat berdiri di belakang kami. Lelaki itu tersenyum kecil dan aku lekas membuang muka. Pokoknya jangan sampai harapanku untuknya makin bertambah.
"Oh, ini lagi ngomongin gebetan barunya Keyra." Aku melotot, mecubit paha Azan yang seenaknya berbicara.
"B-bukan, itu si Azan ngaco," ujarku sedikit terbata. Cih... gadis bodoh. Kenapa harus berubah gagap seperti itu? Kenapa? Takut dia salah paham? Kamu lupa dia yang kau suka itu, cintanya sama orang lain. Sisi iblis diriku kini tampaknya sedang bersorak menertawai nasibku, lihat saja sendiri, dia bahkan tak pikir panjang untuk menghardikku dalam hati.
"Siapa? Gerhana?" tukas Mahesa.
Aku menoleh lagi untuk yang kesekian kalinya. Mataku tak lepas mengikuti pergerakan Mahesa yang kini duduk tepat di depanku. Ia bahkan menampilkan wajah tak peduli setelah menyebutkan nama Gerhana di hadapan teman-temannya.
"Kan aku bilang, Azan ngomong ngaco!" ucapku. Intonasiku tiba-tiba saja naik beberapa oktaf. Aku tak suka nama Gerhana disebut-sebut apalagi yang mengucapkan nama itu adalah Mahesa.
"Gerhana itu siapa lagi?"
Baru saja aku ingin memasukkan satu bulatan bakso berukuran kecil ke mulutku, tapi kembali urung ku lakukan karena pertanyaan Kelvin. Lelaki itu kebanyakan ngebucin tampaknya, sampai berita tentang Mahesa teman terdekatnya sendiri pun ia tak tau. Kini, ia malah ingin tau tentang Gerhana.
Dasar bucin, makiku. Satu yang harus kalian tau Keyra yang sedang patah hati adalah sosok lain dari diriku yang suka memaki. Meskipun hanya dalam hati, tapi tetap saja itu salah satu penyakit hati.
Sudah patah hati, punya penyakit hati pula.
"Ngebucin teross, sampe kalo ntar ada tanda-tanda mau tsunami kamu gak sadar Vin," sindirku.
"Biasa, jomblo yang baru patah hati, omongannya suka gak sadar diri."
Itu suara Tasya. Bisa-bisanya dia menyindiriku, padahal sedari tadi ia sama sekali tak mengajakku bicara dan malah sibuk dengan Dipta.
"Mahesa,"
Setelah tadi menyindiriku, kini Tasya memanggil Mahesa. Bergantian aku menoleh melihat Tasya dan Mahesa. Tasya yang duduk di ujung meja memudahkanku untuk melihat keduanya secara bergantian. Mahesa yang dipanggil pun hanya diam, menatap Tasya. Mungkin ia bingung dari mana Tasya tau namanya, karena aku sama sekali belum sempat mengenalkan Tasya pada Mahesa.
"Winda temanku, jangan main-main sama dia."