DISTINCT X

Niddunami
Chapter #1

ADA UNTUK BERBEDA

Bandung, 2005.


Siang hari di Jalan Asia Afrika berdenyut dalam panas yang menyengat. Pawai Budaya Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tengah tumpah ruah ke jalanan.


Suara gong dan simbal memecah udara. Ribuan kepala berdesakan, mendongak penuh takjub ke arah yang sama. Di tengah kerumunan, seekor barongsai merah menyala melompat setinggi tiga lantai, seolah-olah benar-benar terbang di udara.


Di atas pundak ayahnya, Dili yang baru berusia lima tahun memegang erat sebuah balon merah. Matanya bulat sempurna, menatap takjub.


"Apa, lihat! Singa terbang!" teriak Dili.


Ayahnya tersenyum lebar. Ia mengangkat kamera analog hitam di depan wajahnya, sementara jari telunjuknya bersandar siap di atas tombol rana.


"Lihat itu, Dil. Kamera ini bisa menyimpan bukti. Bahwa kita pernah ada di sini, pada hari ini. Satu... dua..."


KLIK.


Tepat saat rana berbunyi, sebuah garis retakan hitam tipis muncul, membelah tepat di tengah viewfinder.


Ayahnya mengernyitkan dahi. Ia menurunkan kamera, lalu mengelap lensanya dengan ujung baju. Retakan itu tidak hilang. Ia menggeleng pelan. "Waduh, masa baru beli sudah rusak lagi. Harus komplain sama si Koko nih."


Dili tidak bereaksi, matanya kembali terpaku pada kemeriahan festival.


"Dili, turun dulu ya," kata ayahnya, sibuk mengecek kembali mekanikal kameranya.


CKREKK.


Sepuluh tahun kemudian.


Dili, kini berusia lima belas tahun, duduk di bawah temaram lampu neon lima watt yang berkedip pelan. Ia sedang menjahit bagian pundak seragam sekolahnya yang robek. Jari-jarinya sudah dipenuhi kapalan keras.


Di luar jendela, seorang tetangga tertawa terbahak-bahak, memamerkan telepon genggam baru yang bisa memotret dengan begitu jernih.


Dili tidak mendengarkan.


Jleb!


Jarum jahit itu menusuk ujung jempolnya.


"Argh..."


Ia meringis pelan, lalu memeriksa hasil jahitannya. Rapi. Sempurna. Dili mengangguk puas. Setetes darah pekat merembes dari ujung jarinya, jatuh perlahan ke lantai semen yang dingin.


Malam itu, hujan gerimis kotor turun tanpa ampun.


Di ujung jalan yang gelap, dua orang pria menuju arah pulang. Dengan mobil dinas reporter, Yang satu lebih tua, dengan rambut yang sudah memutih di bagian pelipis. Satunya lagi adalah ayah Dili.


"Bandung makin gila, Wan," seniornya menghembuskan asap rokok ke udara basah. "Setiap malam ada orang hilang. Tunawisma, pedagang kaki lima, orang-orang yang tidak punya tempat tinggal tetap. Polisi tutup mata. Sudah sepuluh tahun ini kejadiannya sama."


"Aku tahu, Kang," jawab ayah Dili tenang.


Ia merogoh saku rompinya, mengeluarkan sebuah kotak logam kecil berwarna hitam. Benda itu berdenyut pelan di telapak tangannya, seirama detak jantung.


"Mereka tidak asal pilih. Mereka mencari sesuatu. Sesuatu yang sangat spesifik," lanjut sang ayah.


Seniornya mendadak mencengkeram lengan ayahnya dengan keras. Wajahnya pucat pasi dilanda panik.


"KAU MASIH MENYIMPAN BENDA ITU?! AKU SUDAH BILANG BERAPA KALI, BUANG JAUH-JAUH! KITA TIDAK TAHU APA ITU SEBELUM SEMUA HANCUR!"


Ayah tidak bergeming. Suaranya rendah, tanpa getar sedikit pun.


"Bukan karena aku keras kepala, Kang. Aku tidak bisa pura-pura lupa. Retakan itu merenggut istriku. Dan Dili berhak tahu kenapa ibunya tidak pernah pulang."


Ia memasukkan kembali kotak itu ke dalam saku. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah gang sempit di kota Bandung.


Ayah membuka pintu mobil. "Terima kasih, Kang, tumpangannya."


Sang senior hanya mengangguk pasrah, menyerahkan apa pun takdir yang dipilih sahabatnya itu. Mobil pun melaju perlahan, menembus lebatnya hujan.


Pintu kontrakan terbuka.


Ruangan itu teramat sempit. Hanya berisi dua kasur tipis di lantai dan satu dinding penuh tempelan foto analog tanpa hiasan lain. Dili duduk di depan papan kayu yang difungsikan sebagai meja, menghitung uang receh satu per satu dari dalam kaleng bekas biskuit.


Ayahnya masuk, memaksakan senyum lebar di wajahnya. Ia mengangkat tinggi-tinggi satu gulung rol film baru.


"Dili! Lihat apa yang Apa dapat! Stok terakhir yang ada di Bandung! Mahal banget, tapi—"


Lihat selengkapnya