Bandung Selatan, 2015.
Beberapa menit setelah ledakan.
Debu belum sepenuhnya turun ketika para prajurit mulai bergerak.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada teriakan. Mereka menyisir area dengan ketenangan orang-orang yang sudah pernah melakukan hal serupa berkali-kali. Setiap sudut dipindai. Setiap tubuh diperiksa. Setiap tanda kehidupan dicari—lalu dihilangkan.
Di tengah semua itu, Komandan berdiri diam.
Di hadapannya, gedung sekolah yang beberapa menit lalu dipenuhi anak-anak kini telah rata dengan tanah. Para prajurit menyebutnya area insiden. Warga kelak akan menyebutnya tempat orang-orang hilang.
Seorang prajurit mendekat. Panel holografis menyala di pergelangan tangannya. Data mengalir cepat: usia, silsilah, koordinat DNA, hasil reaksi serum.
Hanya satu baris yang ditampilkan.
FADIL IZZANI. 15 TAHUN. STABILITAS: 100%.
Komandan membaca nama itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Ratusan tahun. Ribuan percobaan. Inang yang meledak, mengkristal, atau hancur dari dalam sebelum proses selesai. Selama ratusan tahun, mereka mengejar satu angka yang selalu gagal dicapai.
Sampai malam ini.
Dan subjeknya hilang.
"Komandan," kata prajurit itu hati-hati, "subjek tidak terdeteksi. Kemungkinan besar—"
"Aku tahu."
Suara Komandan rendah. Prajurit itu mundur setengah langkah.
Komandan memandangi tanah gosong di sekelilingnya.
"Cari."
Semua gerakan berhenti.
"Itu hasil jerih payah kita selama ratusan tahun. Ratusan tahun." Ia menoleh kepada mereka. "Kalian membiarkannya lepas dalam hitungan detik."
Tidak ada yang menjawab.
"Kalau subjek itu jatuh ke tangan pimpinan sebelum sampai kepadaku, kalian yang akan menanggung akibatnya. Mengerti?"
"Mengerti, Komandan."
Komandan kembali menatap bekas gedung sekolah.
"Bereskan tempat ini. Seperti semula."
Para prajurit bekerja cepat.
Cairan bening disemprotkan ke tanah gosong. Warnanya berubah, kembali menyerupai tanah biasa. Puing-puing dimasukkan ke dalam portal kecil. Satu per satu, sisa kejadian itu menghilang dari dunia.
Beberapa menit kemudian, mereka pergi.
Warga mulai berdatangan setelahnya.
Ibu-ibu keluar dari rumah. Bapak-bapak meninggalkan warung. Penjual kaki lima mendorong gerobaknya ke tepi jalan. Mereka semua mendatangi sumber dentuman yang tadi membuat kaca-kaca jendela bergetar.
Di sana hanya ada tanah kosong.
"Tadi suaranya dari sini, kan?" seorang ibu berbisik.
"Iya. Saya lihat sendiri dari atas motor."
"Mana gedung sekolahnya?"
Tidak ada yang menjawab.
Mereka tahu gedung itu ada. Mereka tahu anak-anak mereka berada di sana. Tetapi di depan mata mereka, yang tersisa hanya tanah yang bersih—seolah-olah bangunan itu tidak pernah berdiri dan orang-orang itu tidak pernah ada.
Satu minggu berlalu.
Tidak ada berita resmi. Tidak ada penjelasan. Hanya kekosongan yang semakin sulit diabaikan.
Dua minggu. Sebulan.