"Kau sudah bukan manusia lagi."
Satu kalimat. Dan Dili mematung sekejap.
Ia duduk di tepi kapsul yang masih mengepulkan sisa uap, menatap lantai beton di bawah kakinya. Pikirannya berputar, tapi tidak ke mana-mana—seperti roda yang bergerak terlalu cepat sampai terlihat diam.
Satu tahun.
Ayahnya mati.
Dan ia sudah bukan manusia lagi.
Tiga fakta. Tiga pukulan. Semuanya datang dalam waktu kurang dari lima menit dari mulut orang asing berambut biru yang masih berdiri di sudut ruangan itu, memandanginya dengan ekspresi yang tidak bisa Dili baca.
Kemudian sesuatu pecah di dalam dadanya.
"Ayahku mati." Suaranya keluar pelan. Terlalu pelan. "Aku tidak sadar satu tahun. Seluruh Indonesia sudah berubah." Ia mengangkat wajahnya—matanya bukan marah, tapi sesuatu yang lebih dalam daripada marah. "Dan kau berdiri di sana dan bilang aku bukan manusia lagi."
Zian tidak menjawab.
"APA LAGI YANG TERSISA?!"
Suara itu meledak memenuhi seluruh ruangan. Bergema di dinding beton, memantul ke pipa-pipa tua di langit-langit, lalu mati perlahan dalam keheningan yang jauh lebih keras daripada teriakan itu sendiri.
Dili menunduk. Bahunya naik turun.
Zian masih diam. Tidak membela diri. Tidak menenangkan. Hanya berdiri dan membiarkan semuanya mengalir keluar sampai habis.
Dan lama-kelamaan, habis juga.
Dili duduk dengan bahu yang luntur dan mata yang kosong. Energinya terkuras. Amarahnya sudah tidak punya tempat untuk pergi. Yang tersisa hanya kelelahan—kelelahan yang terasa lebih tua daripada usianya.
Ia melihat sekeliling.
Dinding beton. Pipa-pipa berkarat. Kabel-kabel terurai. Lampu redup yang berkedip pelan. Dan tidak ada—tidak ada satu pun—yang terlihat seperti pintu.
Dili berdiri.
Ia berjalan pelan menyusuri dinding, mengetuk sana-sini dengan buku jarinya. Beton. Semua beton. Ia memutar ruangan sekali, dua kali, matanya mencari celah, engsel tersembunyi, apa pun yang bisa menjadi jalan keluar.
Tidak ada.
Dalam hatinya, satu suara berbicara pelan.
Aku harus pergi dari sini.
Apa yang dia bilang mungkin benar. Mungkin. Tapi siapa dia? Wajah itu—rambut biru, mata lelah, baju lusuh—wajah yang tidak pernah Dili lihat seumur hidupnya. Orang yang tahu namanya, tahu silsilahnya, tahu hal-hal yang bahkan Dili sendiri tidak tahu tentang dirinya.
Apakah orang seperti itu bisa dipercaya?
"Tidak ada pintu keluar di tempat ini."
Dili berhenti. Ia menoleh.
Zian memandanginya dari sudut ruangan dengan ekspresi yang sama sejak tadi—datar, terkontrol, seperti orang yang sudah tahu ini akan terjadi.
Dili mengerutkan dahi. "Kau—"
"Tapi kalau kau ingin keluar..." Zian berdiri dari kursinya. "Silakan."
Ia melangkah mendekati dinding beton di sisi kanan ruangan. Dinding yang tadi sudah Dili ketuk—kosong, padat, tidak ada apa pun.
Zian mengangkat tangannya.
Dan dinding itu retak.
Bukan retak biasa. Bukan retak karena tekanan atau usia. Sebuah garis hitam pekat muncul dari titik yang ditunjuk jarinya, menjalar ke atas dan ke samping dengan presisi yang tidak wajar—membentuk bingkai. Seukuran pintu normal. Tepat proporsional. Seolah-olah dinding itu memang selalu punya pintu di sana, hanya saja tidak terlihat sampai sekarang.
Retakan itu berdenyut pelan. Seperti sesuatu yang hidup.
Dili tidak bergerak.
Lalu ia mundur satu langkah. Dua langkah.
"Ha—" Suaranya macet di tenggorokan. "Hah?! Apa ini?!"
Ia menatap retakan itu. Menatap Zian. Menatap retakan lagi.
Tangannya terangkat—dan ia menampar pipinya sendiri. Keras.
PLAK.
Sakit.
"Hah." Napasnya pendek. "Ini... ini mimpi, kan."
Retakan itu masih ada. Masih berdenyut. Masih nyata.
Di baliknya—kegelapan yang tidak bisa ditembus mata.
Zian memandanginya tanpa ekspresi. "Satu hal yang aku minta."
Dili tidak merespons—matanya masih terpaku pada retakan itu.
"Jangan sia-siakan apa yang kau dapatkan."
Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak memohon. Hanya diletakkan di udara begitu saja, lalu Zian mundur dan memberikan ruang.
Dili berdiri di depan retakan hitam itu lama.
Sangat lama.
Di baliknya entah apa. Entah ke mana. Mungkin keluar. Mungkin kebebasan. Mungkin jalan kembali ke dunia yang sudah berjalan satu tahun tanpanya.
Tapi ke mana?
Tidak ada kontrakan untuk kembali. Tidak ada ayah yang menunggu di balik pintu dengan senyum memaksakan diri dan rol film baru di tangan. Tidak ada Bagas yang menepuk pundaknya. Tidak ada siapa pun yang tahu ia hilang selama satu tahun—atau lebih tepatnya, tidak ada siapa pun yang bisa berbuat apa pun kalau pun tahu.