Ditodong Dito

Mus'ad Firdaus
Chapter #2

De eerste nacht

Malam itu Aku dan Naisa duduk berboncengan pada satu motor yang sama–Black Meong dengan asap knalpot yang menggugah hidung untuk memaksa tangan memeluk indra penciuman. Para pengendara sekitar ramai-ramai melakukannya, sesekali ada yang berteriak, "Buset dah, ganti oli woy!"

Bagi beberapa remaja sebayanya. Tepat di penghujung kelulusan, ada nilai tersendiri untuk mencari kegembiraan setelah beberapa waktu lalu digencar ujian.

Lain hal dengan Dito, yakni aku adalah seorang yang gagal dalam pendidikan. Tapi aku masih mencari sekolah paket walau hanya berbasis ujian tanpa paham pelajaran. Di sela nganggurku di rumah, aku sesekali membuka aplikasi canva untuk mendesain poster soto jualan Emakku, atau paling tidak, membantu Bapak memanen dan menanam pisang di kebun milik orang tidak dikenal

"Seru banget nih aku bisa nikmatin malam ini, Ngomong-ngomong, kita mau ke mana? Aku bingung, deh. Misalkan nanti... nggak ada mie ayam gimana?" Naisa menyandarkan dagunya pada pundakku.

Bukan hal biasa jika kedua orang bertemu lalu sudah saling akrab mengalirkan suasana pada malam yang sejuk, ketika angin berhembus lewat ketiak. Sesekali punggung mereka berdua tampak bergetar terbahak karena kata jenaka dari ganjil yang mereka buat dengan sengaja. "Kenapa ginjal itu dua?" kataku, "Apa emangnya? kan emang ganjil dua..." Naisa berbisiki setelah semua jawaban yang dia katakan salah.

"Karena kalo ganjil itu satu."

Semua itu memulai dari pertanyaan receh tentang sapi. "Nai, sapi, sapi apa yang bisa nempel di dinding?" Tanya Dito spontan.

"Sapidermen!" lantang Naisa percaya pada jawabannya yang tak akan meleset.

"Salah."

Lihat selengkapnya